Cepu-Kudus 07092012: Robotika (3)

Alhamdulillah… sejenak memejamkan mata, langsung disambut oleh gapura besar dengan tulisan “Selamat Datang di Kudus-Kota Kretek” *tebar bunga* ha… @kinalJKT48 kaliii…. [maaf, wota-nya keluar].  Setelah gapura itu berlalu, kamipun disuguhi dengan bangunan beberapa pabrik rokok merek ternama di Indonesia.

Ada satu bangunan tua di pojokan lampu merah yang menarik perhatianku (sayang lupa difoto), yaitu bangunan dengan tulisan “Djamboe Bol” dan gambar jambu bol yang sangat akrab di mataku dari saat aku masih bocah. Mungkin bisa kali ya dibuat kisah bocah penjual rokok halahhh… #gagalfokus.

Melewati jalan di Kudus sepintas jika dibandingkan dengan Blora tadi, kota ini terlihat lebih besar, kondisi perekonomian masyarakatnya lebih hidup, infrastrukturnya lebih tertata dan lebih modern. Pukul 07.50 WIB kami tiba di Alun-alun kota Kudus. Seperti Alun-alun di Jawa pada umumnya, ada mesjid, pusat pemerintahan, dan ditengahnya ada lapangan besar tempat orang berkumpul.

“Tempat acarane dimana mbak?”, tegas pak sopir. Setelah itu terdengar suara “tuk…”, seperti suara sesuatu yang terantuk pikirku. Ternyata ketegasan suara pak sopir membangunkan temanku asal Kebumen dari tidur panjangnya hii…. Semoga gak benjol dia XD

“ Jadi keinget balada mahasiswa UNSRI layo yang entah berapa kali kepala para mahasiswa sering terantuk jendela (termasuk aku) selama duduk satu jam di bis mahasiswa. Untung selama ini belum pernah kudengar catatan medis bahwa ada mahasiswa UNSRI yang kepalanya bocor gara-gara terantuk ke jendela kikikk…kikikk…. Pantesan wong Palembang terkenal keras kepala kali ya ha… ups… SARA gak yaa???  *kasi tau ga ya???*”

Setelah terbangun, temanku bilang, “Sempet ya pak kita sarapan dulu?”. “Ya boleh”, kata si bapak. Ya iyalah… hanya orang (beriman) puasa yang nolak diajak makan. Berhentilah mobil kami didepan KFC Alun-alun dengan bahagia. Setelah turun dari mobil, akupun langsung memesan sarapan. “Pak, bubur ayamnya 3 mangkok sama teh anget manis ya. Makan ditempat”. Lo kok berhenti di KFC bukannya mesen ayam malah mesen bubur?? Ye…pada protes, kami kan makan bubur ayam gerobak yang lokasinya tepat… sekali di dekat pintu masuk KFC ha… Strategi tukang buburnya berhasil, #gagalfokus ke KFC malah beralih ke buryam pinggir jalan. Hidup pedagang Indonesia !! *semangat48* [maaf, wota-nya keluar].

Menimati sarapan Bubur Ayam di sebelah timur Alun-alun Kota Kudus, Jawa Tengah (07/09)

Rasa bubur ayamnya lumayan enak, pake kacang kedelai, kerupuk, bawang goreng, suwiran ayam dan  cakwe. Bisa dijadikan alternatif sarapan jalanan kalau mampir ke Kudus, selain tempatnya yang pas di timur alun-alun, tempat nongkrongnya jg dekat dengan pos polisi, jadi relatif aman. Apa coba…  Tetapi kalau menurutku sih viskositas buburnya terlalu kental, sehingga agak mengurangi kesegaran kuah ayamnya yang berwarna kuning. Kalo ini serius, karena dulu sempat mengenyam kuliah di Teknologi Hasil Pertanian dan konsen di bagian kualitas dan gizi bahan pangan.

Strategi penjual yang sukses dengan berjualan di depan KFC Alun-alun Kudus, Jawa Tengah (07/09)

Setelah meneguk tetes terakhir teh wangi khas Kudus, kamipun melanjutkan pencarian ke tempat acara pelatihan. Pencarian?? Ya, betul. Karena sejujurnya kami tidak tahu dimana persisnya lokasi SDIT Al-Islam Kudus yang menjadi tuan rumah perhelatan pelatihan Robotika tersebut. Informasi yang didapat, hanya: ada di dekat Alun-alun. Selebihnya, sesuai feeling dan kreatifitas Anda ha…

Setelah bertanya ke 3 toko dan satu orang yang sedang berfoto di depan kantor walikota Kudus, akhirnya kami menemukan tempat acara tersebut. Sebenarnya sih tidak terlalu dekat dengan alun-alun, tapi lumayanlah untuk dijadikan titik acuan awal pencarian. Pukul 08.05 WIB kami menginjakkan kaki di SDIT Al-Islam Kudus dan langsung disambut dengan hangat oleh pihak keamanan sekolah. Dengan seragam hitam dan suara berwibawa mereka bertanya, “Peserta Pelatihan Robotika bu??”. Ya ujar kami serempak *sok kompak*. “Silahkan ke ruangan sebelah sini bu”, antar mereka dengan sopan… [bersambung]

Iklan

Cepu-Kudus 07092012: Robotika (2)

*hap-hap* mobil hitam dengan nomor polisi I xxxx GH dengan cekatan memotong satu-persatu mobil di depannya.  “Jam pinten mbak?”, tanya si sopir dengan bahasa jawa halus.  “Jam lima lewat dua puluh Pak”, jawabku dengan bahasa Indonesia baik dan benar. Untung kata-kata Waktu Indonesia Barat-nya tidak serta merta kuucapkan.

Oya, intermezo sedikit bagi yang belum tahu (sok nge-TOP). Kota kelahiranku Palembang, dan akupun dibesarkan disana.

“Walaupun mataku sayu….tapi senyumku menghiburmu…aku Ayana, panggil aku Achan ha… #gagalfokus @achanJKT48 [maaf, wota-nya keluar]”

Lanjut ya, walaupun ibuku berdarah Jawa (tengah) dan dua orang kakakku kuliah di jawa, ditambah seorang keponakan yang fasih berbahasa Jawa, tetapi aku tetap tidak bisa mewarisi bahasa ini. Ngerti sihh… tapi tidak bisa / tidak berani membahasakannya. Prinsipku, lebih baik ngomong pake Bahasa Inggris daripada bahasa Jawa. Soalnya kalo ngomong pake Bahasa Inggris salah kan gak apa-apa toh, kan bukan Orang Inggris. Lahh…kalo salah ngomong pake Bahasa Jawa, bisa-bisa nenek moyangku nguamuk-nguamukk. Masak iya gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga , gara-gara salah kata jadinya status ke-Jawa-an ku dihapuskan. He… stop ah, ntar dibilang SARA

Perjalanan mulai memasuki pusat kota Blora. Kota yang menjadi kabupaten dari kecamatan kami berasal, Cepu. Kok bisa tau sudah masuk kota? Kalau yang hobinya travelling lewat darat, pasti gampang menilainya. Jika jalan sudah mulai membesar, mulus biasanya itu sudah masuk kota (penilaian standar). Trus gimana lagi cara mengetahuinya?? Ya mbok bertanya sama pak sopir, apa membaca petunjuk jalanlah ha…

Secara estetika, tata kotanya seperti kota kecil di Jawa pada umumnya. Tertata rapi, bersih dan sedikit ada unsur etnik Jawa terlihat dari beberapa bangunan dan sudut tamannya. Jalanannya cukup untuk dilewati tiga mobil saja. Kesan yang terlihat sepintas, kota ini tidak terlalu ramai, tenang, dan penduduknya hidup dengan damai he…

Kurasa tidak lebih dari lima menit kami baru melintasi kota Blora, tetapi jalanan pun sudah mulai mengecil kembali, pemandangannya pun berubah. Di kanan kiri jalan, terlihat bukit batu yang sudah dikikis disana-sini , perkebunan Jati yang sudah tidak terlihat rimbunnya lagi akibat penebangan, serta beberapa lahan kering dengan tanah yang keras dan retak-retak. Daerah itu sudah masuk ke dalam wilayah kota Rembang.

Aku tidak terlalu banyak bercakap-cakap di dalam mobil, bukan karena aku orangnya sok ‘dingin’ (cool) tetapi lebih karena terkendala hal teknis tadi (bahasa Jawa) hi… Hanya temanku yang memang orang asli Kebumen berbincang akrab dengan pak sopir yang memang ramah dan sopan itu. Laju mobil tiba-tiba melambat perlahan. Ada apa ini pikirku. Karena penasaran, akhirnya aku pun buka suara. “Kenapa ya pak?”. “Ini mbak, perbaikan jalan. Lagi dicor sejak bulan puasa kemarin”, kata pak sopir. Setelah membuka dengan pertanyaan tersebut, percakapan pun mulai timbul di antara kami.

Mulai dari masalah tender proyek, kontur tanah, budaya daerah, hingga tempat-tempat wisata di Jawa Tengah. Bak oase di tengah padang pasir, di tengah kemacetan tersebut ternyata ada juga arena permainan air (sejenis water boom) yang luas. Kata pak sopir sih luasnya sekitar dua hektar, dan baru dibuka awal ramadhan kemarin dan selalu ramai pas akhir pekan. Perbincangan seru itu cukup menghibur kami dari antrian panjang kendaraaan sepanjang dua kilo. Karena itu wilayah perbatasan, otomatis banyak mobil bermuatan berat dan bis antar kota yang melintas.

Dengan sigap pak sopir ‘nyempil’ di antara mobil-mobil besar tersebut. Tak berapa lama, kami pun sudah berada di antrian depan. Lega….nya keluar dari debu dan himpitan truk tonase besar.

Selepas itu, kami disuguhkan dengan pemandangan yang berbeda. Ya, kami sedang berada di perbatasan Rembang-Pati sekarang. Onggokan putih dan kincir angin terlihat dominan di kanan-kiri jalan. “Itu garam ya pak?” tanyaku dengan pak sopir. Ciehh…yang udah akrab hi… “Iya, itu petani garam bu. Di ujung sana ada laut, jadi para petani mengambil air lalu menambangnya disini”, jelas pak sopir.

 

Petani garam sepanjang jalan lintas Rembang-Pati, Jawa Tengah (07/09)

 

Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB. Semoga nanti jam 08.00 WIB kami bisa sampai di tempat acara dengan selamat. Mobil pun melaju dengan kencang kembali, ga da macet lagi jee…. [bersambung]

Cepu-Kudus 07092012: Robotika (1)

“prang..preng..prong…” ditengah hening pagi, backsound cuci piring terdengar lebih nyaring dari biasanya. Kupikit itu hal yang wajar, karena ngelakuinnya jam 3 pagi kikikk….
Jumat (07/09/12) menjadi hari yang sangat kunanti dengan antusias. Hari ini aku dikirim menjadi utusan peserta untuk pelatihan Robotika, Jaringan SDIT se-Korda: Pati-Rembang-Kudus oleh yayasan Mutiara Insan. Sebagai informasi, yayasan Mutiara Insan adalah yayasan yang menaungi PAUD, TKIT, dan SDIT Mutiara Insan di kecamatan Cepu, Blora.

Hari itu kami berencana berangkat dari sekolah sekitar pukul 04.15 wib. Sesampainya disana, mobil sewaan telah menanti dengan manis, sendirian… Seperti biasa, ulah ketidak-tepatan oknum selalu menghiasi hidup dalam suka maupun duka ha…ha…

Akhirnya jam 04.35 kami berangkat menuju Kudus, tempat pelatihan diselenggarakan. Dalam perjalanan kami mampir dulu di SPBU pasti PAS, bukan untuk isi bensin melainkan untuk sholat subuh he… Setelah rehat sejenak, perjalananpun kami lanjutkan dengan melewati beberapa kota di Provinsi Jawa Tengah. Kota apa sajakah itu??

That was interested journey I thought… Yeah… first thing always brings a new feeling. [bersambung…]