Cepu-Kudus 07092012: Robotika (2)

*hap-hap* mobil hitam dengan nomor polisi I xxxx GH dengan cekatan memotong satu-persatu mobil di depannya.  “Jam pinten mbak?”, tanya si sopir dengan bahasa jawa halus.  “Jam lima lewat dua puluh Pak”, jawabku dengan bahasa Indonesia baik dan benar. Untung kata-kata Waktu Indonesia Barat-nya tidak serta merta kuucapkan.

Oya, intermezo sedikit bagi yang belum tahu (sok nge-TOP). Kota kelahiranku Palembang, dan akupun dibesarkan disana.

“Walaupun mataku sayu….tapi senyumku menghiburmu…aku Ayana, panggil aku Achan ha… #gagalfokus @achanJKT48 [maaf, wota-nya keluar]”

Lanjut ya, walaupun ibuku berdarah Jawa (tengah) dan dua orang kakakku kuliah di jawa, ditambah seorang keponakan yang fasih berbahasa Jawa, tetapi aku tetap tidak bisa mewarisi bahasa ini. Ngerti sihh… tapi tidak bisa / tidak berani membahasakannya. Prinsipku, lebih baik ngomong pake Bahasa Inggris daripada bahasa Jawa. Soalnya kalo ngomong pake Bahasa Inggris salah kan gak apa-apa toh, kan bukan Orang Inggris. Lahh…kalo salah ngomong pake Bahasa Jawa, bisa-bisa nenek moyangku nguamuk-nguamukk. Masak iya gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga , gara-gara salah kata jadinya status ke-Jawa-an ku dihapuskan. He… stop ah, ntar dibilang SARA

Perjalanan mulai memasuki pusat kota Blora. Kota yang menjadi kabupaten dari kecamatan kami berasal, Cepu. Kok bisa tau sudah masuk kota? Kalau yang hobinya travelling lewat darat, pasti gampang menilainya. Jika jalan sudah mulai membesar, mulus biasanya itu sudah masuk kota (penilaian standar). Trus gimana lagi cara mengetahuinya?? Ya mbok bertanya sama pak sopir, apa membaca petunjuk jalanlah ha…

Secara estetika, tata kotanya seperti kota kecil di Jawa pada umumnya. Tertata rapi, bersih dan sedikit ada unsur etnik Jawa terlihat dari beberapa bangunan dan sudut tamannya. Jalanannya cukup untuk dilewati tiga mobil saja. Kesan yang terlihat sepintas, kota ini tidak terlalu ramai, tenang, dan penduduknya hidup dengan damai he…

Kurasa tidak lebih dari lima menit kami baru melintasi kota Blora, tetapi jalanan pun sudah mulai mengecil kembali, pemandangannya pun berubah. Di kanan kiri jalan, terlihat bukit batu yang sudah dikikis disana-sini , perkebunan Jati yang sudah tidak terlihat rimbunnya lagi akibat penebangan, serta beberapa lahan kering dengan tanah yang keras dan retak-retak. Daerah itu sudah masuk ke dalam wilayah kota Rembang.

Aku tidak terlalu banyak bercakap-cakap di dalam mobil, bukan karena aku orangnya sok ‘dingin’ (cool) tetapi lebih karena terkendala hal teknis tadi (bahasa Jawa) hi… Hanya temanku yang memang orang asli Kebumen berbincang akrab dengan pak sopir yang memang ramah dan sopan itu. Laju mobil tiba-tiba melambat perlahan. Ada apa ini pikirku. Karena penasaran, akhirnya aku pun buka suara. “Kenapa ya pak?”. “Ini mbak, perbaikan jalan. Lagi dicor sejak bulan puasa kemarin”, kata pak sopir. Setelah membuka dengan pertanyaan tersebut, percakapan pun mulai timbul di antara kami.

Mulai dari masalah tender proyek, kontur tanah, budaya daerah, hingga tempat-tempat wisata di Jawa Tengah. Bak oase di tengah padang pasir, di tengah kemacetan tersebut ternyata ada juga arena permainan air (sejenis water boom) yang luas. Kata pak sopir sih luasnya sekitar dua hektar, dan baru dibuka awal ramadhan kemarin dan selalu ramai pas akhir pekan. Perbincangan seru itu cukup menghibur kami dari antrian panjang kendaraaan sepanjang dua kilo. Karena itu wilayah perbatasan, otomatis banyak mobil bermuatan berat dan bis antar kota yang melintas.

Dengan sigap pak sopir ‘nyempil’ di antara mobil-mobil besar tersebut. Tak berapa lama, kami pun sudah berada di antrian depan. Lega….nya keluar dari debu dan himpitan truk tonase besar.

Selepas itu, kami disuguhkan dengan pemandangan yang berbeda. Ya, kami sedang berada di perbatasan Rembang-Pati sekarang. Onggokan putih dan kincir angin terlihat dominan di kanan-kiri jalan. “Itu garam ya pak?” tanyaku dengan pak sopir. Ciehh…yang udah akrab hi… “Iya, itu petani garam bu. Di ujung sana ada laut, jadi para petani mengambil air lalu menambangnya disini”, jelas pak sopir.

 

Petani garam sepanjang jalan lintas Rembang-Pati, Jawa Tengah (07/09)

 

Waktu di jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.10 WIB. Semoga nanti jam 08.00 WIB kami bisa sampai di tempat acara dengan selamat. Mobil pun melaju dengan kencang kembali, ga da macet lagi jee…. [bersambung]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s