Kereta Mogok dan Cukstaw

Kereta gumarang jurusan jakarta-surabaya melaju. Kali ini melewati pemberhentian di kota kedua, Semarang. Waktu menunjukkan pukul 23.30 wib.

Beberapa penumpang asal semarang pun naik. Gerbong dua di kereta bernomor K1 0 58 03 memang terlihat lengang. Curiga sih, cukup lama kereta ini berhenti.

Penumpang yang lelap tertidur pun perlahan terjaga. Tak lama ada seorang petugas yang berlarian dari ujung lorong ke belakang gerbong kami. Kenapa nih? pasti ada sesuatu. Eh… benar sodara sodara, tak lama petugas menginformasikan untuk berpindah gerbong. Semua penumpang harus membawa barang-barangnya turun.

image

Sepanjang pengalamanku sebagai pengguna jasa kereta api jakarta-surabaya sejak tahun 2012 yang lalu, ini kali pertama. Kalau istilah pengguna bis, ini sih dioper namanya.

Dari informasi petugas teknis kereta api didapatkan ada kerusakan pada gerbong. Sehingga mengharuskan gerbong yang kami gunakan ditarik dan diganti dengan gerbong lainnya. Kalau dilihat dari usia kereta ya wajar sih, diproduksi tahun 1958. Barang tua seharusnya maintenance nya juga harus lebih ‘extra’ dari biasanya.

image

Coba bayangkan jika ini terjadi di dunia penerbangan. Nyawa penumpang yang jadi taruhan. Peningkatan pelayanan dan sistem seharusnya dibarengi juga dengan peningkatan teknologi. Seorang penumpang bercerita, “Kereta di Indonesia ini termasuk yg lambat. Di negara lain gila gilaan larinya. Kemarin di China saya liat kecepatannya 350 km/jam. Jadi jakarta-surabaya itu cuma 2,5 jam”.

Sejauh ini gerbong kereta indonesia kebanyakan ‘bekas’ negara Jepang. Yang lalu direnovasi, dipercantik. Padahal anak negeri ini mampu membuat pesawat, seharusnya membuat gerbong made in indonesia bukan hal yang mustahil toh! (mungkin Pak Habibie akan berkata seperti ini).

Pergantian gerbong ini pun memakan waktu kurang lebih 70 menit. Gerbong yang menggantikan ini tahun pembuatannya tertulis 2002. Masih muda usia gerbongnya, jauh dengan gerbong tahun 1958 tadi, ibarat kakek dan cucu.

Menjelang kami naik ke kereta, ada seorang penumpang yang mau membatalkan tiket keretanya. Dia seharusnya berangkat naik pesawat dari surabaya ke ujung pandang jam 6 pagi. Akibat keterlambatan, kereta ini prediksinya sampai di surabaya sekitar jam 6.30. Siapa yang disalahkan atas keterlambatan ini? Yang jelas bukan salah kambing hitam.

Yang lebih ‘nyesek’ lagi, saat saya menaiki gerbong pengganti ini. Kursi saya bernomor 2B diduduki dengan nyaman oleh penumpang lain yang berseragam PT.KAI. Saya tanya, “Maaf pak, jadi saya pindah ke belakang?”. “Oh ya gakpapa saya pindah ke belakang”, kata si bapak tanpa perasaan bersalah. Saya bilang, “Saya sih ga masalah di belakang pak”. Sampai disitu sudah, tanpa ada permintaan maaf sama sekali. Kalau kata anak gaul sekarang “cukstaw” aja lah….

Yah… selalu ada pemakluman di negara kita. Negara yang mencoba bertransformasi untuk mengubah budaya bangsanya seiring kemajuan peradaban dunia.

Iklan