Adab Berbicara dan Komunikasi 

Morning good people 🏃🏻🚶🏻Semangat Rabu Produktif!
Check this out👇👇
💡 Adab-adab dalam Berbicara dan Berkomunikasi 
“Dan bertuturlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.” (QS. al-Baqorah: 83)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
🌷 Berbicara dan berkomunikasi adalah kebutuhan setiap insan. 

🌷 Karena itu, bicara dan komunikasi yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman akan membawa dampak positif serta mendatangkan beragam kebaikan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.
✨ Membatasi diri untuk berkata yang baik adalah diantara tanda kesempurnaan iman seseorang ✨
✍ Adab-adab yang harus diperhatikan
• Merendahkan suara saat berbicara

• Berbicara dengan kata-kata yang baik, bermanfaat dan sopan

• Mendengarkan dan tidak memotong pembicaraan orang lain

• Berbicara jika mengandung kebaikan

• Tidak berdusta dalam berbicara

_______ Nabi bersabda, “Kecelakaan bagi orang yang berbicara lalu ia berdusta agar manusia tertawa karenanya, kecelakaan baginya , kecelakaan baginya.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

• Memulai dengan salam sebelum berbicara
👑 “Seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu sangat berharga di sisi Allah. Seseorang mengucapkan satu kata yang dibenci Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu menyebabkan masuk neraka.” (HR. Bukhari)
Semangat Fastabiqul Khairat!

✨ Semoga apa-apa yang keluar dari lisan kita adalah perkataan yang mendatangkan manfaat 

💬 Sambut Ramadhan, 40 hari lagi…

So, perbanyak Tilawah Al Quran dan jangan lupa Shalat Dhuha 😉
اللهم باركلنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان

Aamiin…
#AyoLebihBaik

#SambutRamadhan

#40DaysLeft
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Bengkel Ruhiyah

Bidang Kaderisasi

GK Wilda Sumatera

Iklan

[Inspiring]: Life is not a sprint, it’s a marathon.

  

WE TRAIN OUR CHILDREN FOR THE JOBS THAT DON’T EXIST YET NOW

-BUILDING LEARNING AGILITY FOR OUR NEXT GENERATION

(Kita mendidik anak-anak kita untuk pekerjaan yang sekarang belum ada).

Kadang-kadang saya cemburu dengan kakak-kakak saya. Mereka semua menjadi dokter. Dan saya masih ingat betapa mudahnya mereka menjelaskan pekerjaan mereka ke nenek saya di Magetan.

Saya memulai karier saya sebagai “artifical intelligence programmer”.

Dan bayangkan bagaimana saya harus menjelaskan apa yang saya lakukan kepada nenek saya atau orang tua saya ketika mereka bertanya,”Gaweyanmu ke apa?” (What do you do for living?).

But perhaps this is life. Hidup berganti begitu cepat, bisnis is changing also so fast. Dan species yang paling sukses bukanlah yang paling kuat atau paling cerdas, tapi yang mampu beadaptasi dengan perubahan.

A lot of jobs we do now, did not even exist some years ago.

Banyak pekerjaan yang kita lakukan sekarang, memang belum ada pada jaman dulu.

Saya yakin pekerjaan seperti digital advertising, social media recruiter, actuaria, underwritter, big data analyst belum ada pada jaman orang tua kita (atau bahkan pada saat kakak-kakak kita belanja di Aldiron Plaza).

Dan kesimpulan yang sama bisa kita tarik bahwa job yang akan dilakukan anak anak kita nanti belum ada pada hari ini.

We dont even know the job that they will do in the future after they graduate fron their university.

Padahal mereka harus kita didik, kita latih, kita educate sekarang. 
Jadi bagaimana dong?
Ada 3 hal yang bisa

PERTAMA, Watch, read, observe and learn:

Pelajari apa trend yang akan terjadi di masa depan: 

1.a) Globalisasi

Think Global Act Global. 

Dunia sudah semakin kecil dan semakin sempit.

People will be connected with anyone, anywhere at any time.

People want to actively contribute in global initiative.

1.b) Urbanisasi

Kita tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa people will move to big cities (unfortunately), and modern lifestyle will continue to dominate the world.

1.c) Digitalisasi.

Everything will go digital: sales, marketing, e-commerce, banking, e-government.

They will be everywhere.

You have only 2 choices. D or D. Digitalize your self or Die.

1.d) Weconomy.

(Dari kata we dan econom)

Dengan terbukanya pasar global, global funding dan crowd funding akan mendominasi bisnis di masa depan.

1.e) Betterness

Di masa depan bisnis akan jauh lebih memikirkan bukan hanya pada short term profit (ehm..ehm… quarterly earning).

Semua bisnis akan memikirkn aspek sosial responsibility, environmental friendly, apa yang bisa mereka lakukan untuk berbuat baik kepada masyarakat dan bagaimana mereka berkontribusi untuk mewariskan bumi yang lebih hijau dan lebih baik ke generasi penerus kita

KEDUA,  Passion and Hardwork. 

Motivasi, dorong dan beri semangat ke mereka untuk belajarkeras dan bekerja keras. Agar mereka berprestasi semaksimal mungkin.

They still have to be the best in what they do.

The competition will be more difficult.

There is no choice, they have to:

– have passion, enjoy what they do

– work smarter and harder

– be open mind and continuously learn

KETIGA, Building Learning Agility.

Membentuk minat dan kemampuan untuk mempelajari hal hal yang baru.
Apapun yang mereka pelajari di sekolah dan universitas hanya mempersiapkan mereka untuk menyerap knowledge dan memecahkan masalah. Tetapi contentnya sendiri akan terus berubah.
Itulah mengapa saya merecruit Management Associates di perusahaan saya sekarang. Dan ternyata mereka berprestasi dengan sangat baik meskipun mereka bukan lulusan ekonomin atau akunting. Mereka ada yang lulusan teknik mesin, micro biology …dll. Yang penting adalah bagaimana mereka mempunyai learning agility.

Kemampuan ini bisa dibentuk dengan cara:
– Expose to different things.

Daripada liburan ke Bali atau Sinagapore (atau ke US) tiap tahun, kenapa tidak ke Ujung Kulon, ke Badui, ke Vietnam, Mongolia, Mumbai, Manila.

It may not be fun. But you will expose them to different culture, language and places.
– Encourage them to learn at least 3 languages. Language skills will be important.
– Encourage them to learn a new hobby… music, aikido, pencak silat, polo air, rugby ….
– Encouge them to learn to take risk 
– Teach them to be open mind and accept different view/perspective on anything
– Continously ask them to get out of the comfort zone
– test their ability to handle difficult challenge/situation in their life.

TERAKHIR, train them to enjoy life.

Ajak mereka menikmati hidup.
Life is fun. Dari kecil ajak mereka melakukan hal hal yang mereka suka.
Mereka harus tahu.
Life is not a sprint. Life is a marathon. 
Hidup adalah perjalanan panjang. Jaga stamina. Istirahat. Minum air. And enjoy your journey …..

Kita coba yuk?
Semoga dengan melakukan ini kita bisa mendidik generasi berikut yang lebih baik,  untuk masa depan Indonesia yang lebih cemerlang.

By the way, the title is about our children. 
But I am sure you understand that the concepts that we share could also be applicable to our team, and ourselves.

Warm Regards

Indonesia harus lebih baik

*) Tulisan dari Pak Pambudi (VP HR Citibank) 

Disini, mendirikan Imperium Kebenaran

“Ketika orang tertidur kau terbangun, itulah susahnya.

Ketika orang merampas kau membagi, itulah peliknya. 

Ketika orang menikmati kau menciptakan, itulah rumitnya. 

Ketika orang mengadu kau bertanggung jawab, itulah repotnya. 

Oleh karena itu, tidak banyak orang bersamamu disini, mendirikan imperium kebenaran“ 

~ KH. Rahmat Abdullah ~

[Review]: Lontong Tunjang Uni Ros Bengkulu

Kental dan Gurihnya Lontong Tunjang Uni Ros

 

Wih… Tunjang 😄 mantep kan pagi-pagi udah sarapan ini guys. Mantep banget ga sehatnya wkwkwk 

Tapi gapapa deh sekali-kali makan beginian, asal jangan setiap hari aja ya. 

Kali ini review tentang sarapan pagi di Bengkulu: Lontong Tunjang Uni Ros. Budaya makan orang Bengkulu banyak dipengaruhi oleh kuliner Padang. Mungkin karena banyak orang Padang yang tinggal di kota ini. Mungkin yaaaa mungkin…. 😬

Pagi-pagi sarapan berat dan bersantan seperti ini sangat lumrah dilakoni orang Bengkulu. Porsinya juga ga main-main loh… Bisa dimakan berdua malah. Sama seperti porsi kwetiau jamur ala mie pangsit siantar yang super jumbo (yang pernah di review), ukuran banyaknya makanan juga menjadi nilai tambah tersendiri bagi para konsumen.

Lontong Tunjang Uni Ros ini punya beberapa cabang di kota Bengkulu. Di seputaran daerah Pagar Dewa aja ada dua, di Simpang KM.8 dekat pom Bensin arah lingkar barat juga ada. Biasanya kalo tempat makan yang banyak cabangnya itu enak ya, banyak dicari orang.

Ternyata rasanya…..

Emang enak sih menurut lidahku. Tunjangnya yang empuk dan kuah santannya yang kental berpadu dengan bumbu rempah dan gulai tunjang khas Padang itu “surga” ☺️

Surga kolesterol maksudnya haaaa… Tapi enak gimana dong? 😁

Berbeda rasanya dengan lontong sayur yang lain yang lebih condong ke kuah gulai sayur entah itu nangka, labu siam, buncis, atau kacang panjang, kuah lontong tunjang ini lebih berasa ke kuah tunjangnya yang berkaldu. Heeemm… Sedaphhh 😍

Sayur yang terdapat dalam kuahnya hanya potongan kecil nangka, selebihnya ya tunjang. Lontongnya juga ga keras guys, pas. 

Sebagai taburan, ada bawang goreng dan kerupuk yang menambah crunchy sarapan berat ini. 

Harganya berapa ya??? Dengan Rp. 13.000 kita bisa menikmati lezatnya lontong tunjang ini. Ane rasa harganya bersahabat dengan rasa dan keempukan tunjang serta gulainya yang “surga” banget.

Selamat menikmati…. Jangan lupa makannya sesekali aja ya, sebulan dua kali cukup kali yaaaaa.

Tetap sarapan dan hidup sehat guys 😘

[@anismatta]: Mengelola Ketidaksetujuan Terhadap Hasil Syuro

“Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak?”

RASANYA PERBINCANGAN kita tentang syuro tidak akan lengkap tanpa membahas masalah yang satu ini. Apa yang harus kita lakukan seandainya tidak menyetujui hasil syuro? Bagaimana “mengelola” ketidaksetujuan itu?

Kenyataan seperti ini akan kita temukan dalam perjalanan dakwah dan pergerakan kita. Dan itu lumrah saja. Karena, merupakan implikasi dari fakta yang lebih besar, yaitu adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk.

Kita semua hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini dengan latar belakang sosial dan keluarga yang berbeda, tingkat pengetahuan yang berbeda, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Walaupun proses tarbawi berusaha menyamakan cara berpikir kita sebagai dai dengan meletakkan manhaj dakwah yang jelas, namun dinamika personal, organisasi, dan lingkungan strategis dakwah tetap saja akan menyisakan celah bagi semua kemungkinan perbedaan.

Di sinilah kita memperoleh “pengalaman keikhlasan” yang baru. Tunduk dan patuh pada sesuatu yang tidak kita setujui. Dan, taat dalam keadaan terpaksa bukanlah pekerjaan mudah. Itulah cobaan keikhlasan yang paling berat di sepanjang jalan dakwah dan dalam keseluruhan pengalaman spiritual kita sebagai dai. Banyak yang berguguran dari jalan dakwah, salah satunya karena mereka gagal mengelola ketidaksetujuannya terhadap hasil syuro.

Jadi, apa yang harus kita lakukan seandainya suatu saat kita menjalani “pengalaman keikhlasan” seperti itu? 

Pertama
marilah kita bertanya kembali kepada diri kita, apakah pendapat kita telah terbentuk melalui suatu “upaya ilmiah” seperti kajian perenungan, pengalaman lapangan yang mendalam sehingga kita punya landasan yang kuat untuk mempertahankannya? Kita harus membedakan secara ketat antara pendapat yang lahir dari proses ilmiah yang sistematis dengan pendapat yang sebenarnya merupakan sekedar “lintasan pikiran” yang muncul dalam benak kita selama rapat berlangsung.

Seadainya pendapat kita hanya sekedar lintasan pikiran, sebaiknya hindari untuk berpendapat atau hanya untuk sekedar berbicara dalam syuro. Itu kebiasaan yang buruk dalam syuro. Namun, ngotot atas dasar lintasan pikiran adalah kebiasaan yang jauh lebih buruk. Alangkah menyedihkannya menyaksikan para duat yang ngotot mempertahankan pendapatnya tanpa landasan ilmiah yang kokoh.

Tapi, seandainya pendapat kita terbangun melalui proses ilmiah yang intens dan sistematis, mari kita belajar tawadhu. Karena, kaidah yang diwariskan para ulama kepada kita mengatakan, “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar.”

Kedua
marilah kita bertanya secara jujur kepada diri kita sendiri, apakah pendapat yang kita bela itu merupakan “kebenaran objektif” atau sebenarnya ada “obsesi jiwa” tertentu di dalam diri kita, yang kita sadari atau tidak kita sadari, mendorong kita untuk “ngotot”? Misalnya, ketika kita merasakan perbedaan pendapat sebagai suatu persaingan. Sehingga, ketika pendapat kita ditolak, kita merasakannya sebagai kekalahan. Jadi, yang kita bela adalah “obsesi jiwa” kita. Bukan kebenaran objektif, walaupun “karena faktor setan” kita mengatakannya demikian.

Bila yang kita bela memang obsesi jiwa, kita harus segera berhenti memenangkan gengsi dan hawa nafsu. Segera bertaubat kepada Allah swt. Sebab, itu adalah jebakan setan yang boleh jadi akan mengantar kita kepada pembangkangan dan kemaksiatan. Tapi, seandainya yang kita bela adalah kebenaran objektif dan yakin bahwa kita terbebas dari segala bentuk obsesi jiwa semacam itu, kita harus yakin, syuro pun membela hal yang sama. Sebab, berlaku sabda Rasulullah saw., “Umatku tidak akan pernah bersepakat atas suatu kesesatan.” Dengan begitu kita menjadi lega dan tidak perlu ngotot mempertahankan pendapat pribadi kita.

Ketiga
seandainya kita tetap percaya bahwa pendapat kita lebih benar dan pendapat umum yang kemudian menjadi keputusan syuro lebih lemah atau bahkan pilihan yang salah, hendaklah kita percaya mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah dakwah jauh lebih utama dan lebih penting dari pada sekadar memenangkan sebuah pendapat yang boleh jadi memang lebih benar.

Karena, berkah dan pertolongan hanya turun kepada jamaah yang bersatu padu dan utuh. Kesatuan dan keutuhan shaff jamaah bahkan jauh lebih penting dari kemenangan yang kita raih dalam peperangan. Jadi, seandainya kita kalah perang tapi tetap bersatu, itu jauh lebih baik daripada kita menang tapi kemudian bercerai berai. Persaudaraan adalah karunia Allah yang tidak tertandingi setelah iman kepada-Nya.

Seadainya kemudian pilihan syuro itu memang terbukti salah, dengan kesatuan dan keutuhan shaff dakwah, Allah swt. dengan mudah akan mengurangi dampak negatif dari kesalahan itu. Baik dengan mengurangi tingkat resikonya atau menciptakan kesadaran kolektif yang baru yang mungkin tidak akan pernah tercapai tanpa pengalaman salah seperti itu. Bisa juga berupa mengubah jalan peristiwa kehidupan sehingga muncul situasi baru yang memungkinkan pilihan syuro itu ditinggalkan dengan cara yang logis, tepat waktu, dan tanpa resiko. Itulah hikmah Allah swt. sekaligus merupakan satu dari sekian banyak rahasia ilmu-Nya.

Dengan begitu, hati kita menjadi lapang menerima pilihan syuro karena hikmah tertentu yang mungkin hanya akan muncul setelah berlalunya waktu. Dan, alangkah tepatnya sang waktu mengajarkan kita panorama hikmah Ilahi di sepanjang pengalaman dakwah kita.

Keempat
sesungguhnya dalam ketidaksetujuan itu kita belajar tentang begitu banyak makna imaniyah: tentang makna keikhlasan yang tidak terbatas, tentang makna tajarrud dari semua hawa nafsu, tentang makna ukhuwwah dan persatuan, tentang makna tawadhu dan kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri yang tepat dalam kehidupan berjamaah, tentang cara kita memandang diri kita dan orang lain secara tepat, tentang makna tradisi ilmiah yang kokoh dan kelapangan dada yang tidak terbatas, tentang makna keterbatasan ilmu kita di hadapan ilmu Allah swt yang tidak terbatas, tentang makna tsiqoh (kepercayaan) kepada jamaah.

Jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Tapi, kita harus memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan yang mendalam. Dan pada waktu yang sama, memperkuat daya tampung hati kita terhadap beban perbedaan, memperkokoh kelapangan dada kita, dan kerendahan hati terhadap begitu banyak ilmu dan rahasia serta hikmah Allah swt. yang mungkin belum tampak di depan kita atau tersembunyi di hari-hari yang akan datang.

Perbedaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan banyak sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah rahasia kepribadian akan tampak ke permukaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak ?
Sebuah tulisan: Anis Matta, Lc.

[@salimafillah]: BIMA dan UJIAN KEJAMA’AHAN KITA

img_0223  

Izinkan saya menyebut seorang perempuan: Niken Lara Yuwati.

Barangkali tidak banyak yang mengenal nama di atas. Tapi sosok wanita agung ini ada di balik dua perang besar; yang satu nyaris membangkrutkan VOC pada 1746-1755; yang satu lagi nyaris membangkrutkan pemerintahan jajahan Hindia-Belanda pada 1825-1830.

Niken Lara Yuwati, cucu Sultan Bima, Abdul Kahir I itu, lebih masyhur dikenal sebagai Ratu Ageng Tegalreja, permaisuri Sultan Hamengkubuwana I (1755-1792).

Beliau terampil berkuda, ahli menggunakan patrem (keris kecil), jitu dalam memanah, dan tahan mengarungi perjalanan panjang. Pada Perang Giyanti, dia mendampingi gerilya suaminya menempuh medan yang amat berat di bentangan Jawa Tengah hingga Jawa Timur.

Dalam masa prihatin itu, di tengah hutan lereng Gunung Sindoro beliau melahirkan sang putra yang kelak menjadi Sultan Hamengkubuwana II. Beliau pula memimpin bregada prajurit putri, satu-satunya kesatuan yang peragaan perangnya membuat Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sangat terkesan dalam kunjungannya ke Yogyakarta semasa pemerintahan putranya.

Setelah merasa jalan perjuangan putranya tak segaris dengan almarhum suami tercinta, wanita baja ini memilih mengundurkan diri ke Tegalreja, membuka persawahan makmur dan menampung para ‘ulama serta santri. Diasuh pula olehnya sang buyut yang lahir pada 1785, Bendara Raden Mas Musthahar yang kelak dikenal sebagai Dipanegara. Di bawah bimbingan nenek yang shalihah ini, Dipanegara tumbuh sebagai pangeran santri yang kelak mengobarkan jihad akbar untuk tegaknya agama di Jawa.

Yogyakarta, juga negeri ini, berhutang besar pada seorang srikandi dari Kesultanan Bima, di pulau Sumbawa. Sejarah berulang, dan gerakan mahasiswa serta dakwah di Era Reformasi juga berhutang besar pada ksatria dari Bima yang punya sifat begitu mirip dengan tokoh Bima dalam pewayangan; Abangnda Fahri Hamzah. Kukuh, keras, bicaranya “ngoko”, tanpa basa-basi dan seceplosnya.

Saya hanyalah seorang pelajar SMP yang lugu ketika dengan sangat heroik Bang FH dan Ayahanda Dr. M. Amien Rais berboncengan bertaruh nyawa dalam hari-hari genting reformasi. Dan kisah-kisah di hari itu begitu mengilhami jalan hidup kami para muda, hingga sayapun berada di barisan dakwah di mana Bang FH berada. Bedanya tentu, beliau di penjuru depan sementara saya ada di shaff amat belakang.
Hidup berjama’ah dalam dakwah adalah pilihan untuk mengoptimalkan ‘amal; sebagaimana Ayah saya yang Guru Muhammadiyyah dan Ibu saya yang lekat dengan tradisi keagamaan Nahdlatul ‘Ulama. Dan saya, dengan tetap bernafas dalam atmosfir harum yang dihembuskan oleh Hadhratusy Syaikh Hasyim Asy’ari maupun KH Ahmad Dahlan, mendetakkan pula jantung ini dalam balada Syaikhut Tarbiyah KH Rahmat Abdullah.

Sepanjang perjalanan dalam perhimpunan dakwah ini, Bang FH adalah model bagi kepanglimaan yang gagah, yang bernyali, yang tak gentar resiko, yang tak takut celaan dari orang-orang yang mencela.

Tapi setiap pahlawan punya kisahnya sendiri. Hari-hari ini, Bang FH kebanggaan serta kecintaan kami para muda di barisan ini; sekaligus juga Allah jadikan ujian bagi kejama’ahan kami.

Tapi bukankah seseorang dan suatu kaum memang diuji Allah dengan hal yang amat dijunjung tinggi? Ibrahim, lelaki yang penuh cinta. Maka seluruh hidupnya adalah ujian cinta. Dan dia lulus sebagai ‘Kekasih Ar Rahman’. Maryam, sang perawan suci pengkhidmah Bait Suci, juga diuji dengan soal yang paling mengguncang kehormatan diri. 

Dan Muhammad ﷺ, lelaki yang menjunjung kejujuran dan kepercayaan, setelah 40 tahun hidup sebagai Al Amin, tiba-tiba wahyu turun lalu dia didustakan.
Tak ada manusia yang sempurna.
Saya melihat kasih nan lembut itu di wajah dzurriyah Rasulillah ﷺ yang mulia, Al Habib Dr. Salim Segaf Al Jufri, MA. Jikapun Bang FH yang akibat ketidaktaatannya pada AD/ART dan keputusan dewan pimpinan sebagaimana termaktub dalam fakta kronologisnya harus berhenti, maka beliau sangat berharap kepada masyarakat dapat dikatakan seperti ucapan ‘Umar tentang pemecatan Khalid sebagai Panglima Utama, “Bukan kemampuan Abu Sulaiman yang aku ragukan, tapi aku mengkhawatirkan hati manusia yang terlalu memujanya.” Agar semua ‘aib terjaga. Agar tak perlu ada luka.

Tapi ada yang berbisik, seakan-akan Ketua Majelis Syura bertindak secara pribadi, memaksa mundur karena kepentingan pribadi. Saya dan hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang tak dapat dibenarkan.

Saya melihat cinta nan adil itu di wajah Ketua Majelis Tahkim, Dr. Hidayat Nur Wahid. Beliau bersama segenap jajaran lain telah memberi berulangkali kesempatan, pembahasan, dan penghadiran saksi secara tertutup, agar kepada ummat dapat dikatakan seperti ucapan ‘Umar tentang pemecatan Sa’d ibn Abi Waqqash sebagai Gubernur Kufah, “Demi Allah ini bukanlah karena dosa yang dilakukannya, bukan pula karena ada sifat khianat pada dirinya.” Agar tak perlu ada kegaduhan yang melemahkan.
Tapi ada yang berbisik, seakan-akan lembaga ini melawan hukum dan berbuat aniaya, tak berwenang dan hanya akal-akalan seseorang saja. Saya dan hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang menyesatkan.

Saya melihat hikmah nan sejuk itu ada di wajah Kang Sohibul Iman, Ph.D. Beliau bersama segenap unsur yang dilibatkan telah banyak menyabarkan diri, memberi permakluman, dan ‘udzur meski terjadi beberapa kali, -katakanlah-, ketaktepatan janji. Agar dapat dikatakan sebagaimana ucapan ‘Umar pada Yahudi yang mengadukan Gubernur Mesir ‘Amr ibn Al ‘Ash, “Cukup kauberikan padanya tulang yang kugaris dengan pedang ini, dia pasti akan mengerti.”

Tapi ada yang berbisik bahwa seakan memang sejak awal Bang FH hanya ditumbalkan untuk merapatkan partai dakwah ke rezim penguasa. Saya maupun hati Bang FH sama-sama tahu, bahwa ini bisikan yang jahat.

Tidak boleh ada yang mengingkari jasa-jasa besar seorang Bang FH bagi dakwah dan negeri ini. Tapi bagi kita kader dakwah, kalau pembelaan pada beliau membuat kita merendahkan musyawarah kelembagaan tertinggi yang di dalamnya ada para sesepuh tercinta seperti Habibana Dr. Salim Segaf Al Jufri, Dr. Hidayat Nur Wahid, Kang Sohibul Iman, Ph.D dan berderet nama Masyaikh lain; saya teringat satu kalimat lagi dari Rasulullah ﷺ saat Khalid membantai kaum Juhainah yang ditawarinya menyerah lalu dia didebat oleh ‘Abdurrahman ibn ‘Auf, kemudian Khalid menyerapahinya.

“Jangan kalian mencela sahabatku. Jikapun kalian menginfakkan emas seberat Gunung Uhud, niscaya takkan menyamai satu genggam atau setengah genggam tepung mereka.”

Tapi pedang Allah yang terhunus tetaplah pedang Allah yang terhunus. Tapi Bima tetaplah Bima.

Saya mengajak diri saya ini untuk menghormati semua. Jika Bang FH hendak menempuh jalur hukum, biarlah beliau memperjuangkan apa yang diyakini menjadi haknya. Takkan berkurang hormat kita atas segala sumbangsihnya bagi dakwah ini. Tapi kita kader dakwah yang ada dalam jama’ah ini tahu, cinta tak pernah boleh menghalangi sikap adil, sebagaimana perbedaan sikap takkan menafikan cinta.

“Demi Allah aku bersaksi”, ujar ‘Ammar ibn Yasir yang berperang di sisi Sayyidina ‘Ali sementara Ummul Mukminin ‘Aisyah ada di seberang dalam Perang Jamal, “‘Aisyah adalah istri Rasulullah dan Ibu kita semua di dunia maupun di surga. Hanya saja sekarang Allah sedang menguji kita; apakah padaNya kita taat, atau kepadanya.”

Bang FH, engkau ujian bagi kami di sisi Qiyadah kami, dan kamipun adalah ujian bagimu. Semoga kita semua lulus dengan sempurna. Uhibbuka Fillah.
kader awam lagi biasa,

@salimafillah