Changes


Nokia dulu menyebut Android . sebagai semut kecil merah yg mudah digencet dan mati. Arogansi dan rasa percaya diri yg berlebihan membuat Nokia terjebak dlm innovator dilemma. Sejarah mencatat, yg kemudian mati justru Nokia – tergeletak kaku dlm kesunyian yg perih. 

Kodak menyebut kamera digital hanyalah tren sesaat, dan kamera produksi mereka akan terus bertahan. Kodak terjebak halusinasi dan innovator dilemma yg akut. Akibatnya, ruangan ICU yg pengap menanti raga mereka yg merintih kesakitan. 

Intel dan Microsoft (Dominasi yang dulu dikenal dengan duo Wintel) terlalu menikmati kekuasannya dalam dunia PC dan Laptop, dan pelan2 terjebak innovator dilemma. Mereka terbuai dgn kekuasaannya, dan lengah betapa dramatis kecepatan kemajuan era mobile computing. Kini era PC/Laptop sdh hampir berakhir, diganti era mobile smartphone. Dan hegemoni Microsoft serta Intel kian menjadi tidak relevan dlm era smartphone. Intel dan Microsoft lalu hanya duduk saling bertatapan mata, diam dan termangu. Dalam rasa penyesalan yg pedih dan pahit. Namun dlm bisnis, penyesalan tdk pernah mendapat tempat terhormat. 

Pizza hut terus menerus mengenalkan menu baru setiap enam bulan. Sabun Lifebouy ber-kali2 melakukan rejuvenasi. Facebook dan Bukalapak juga selalu melakukan evolusi. 

Nokia kolaps dihantam iPhone di tahun 2007, padahal produsen iPhone bukan perusahaan telco, namun dari industri komputer. Koran dan majalah mati bukan krn sesama rivalnya, namun karena Facebook dan Social Media (remaja dan anak muda tak lagi kenal koran/majalah kertas. Mereka lebih asyik main Path, IG atau FB. Pelan tapi pasti industri koran dan majalah akan mati).

Televisi seperti RCTI, Trans dan SCTV kelak akan kolaps bukan krn persaingan sesama pemain di industri yg sama, tapi dari makhluk alien bernama Youtube. Di Amerika, jumlah pemirsa televisi dikalangan anak muda dan remaja, menurun drastis. Dan semua lari ke Youtube. Ini juga kelak akan terjadi di tanah air. 

Industri taksi seperti Blue Bird goyah bukan karena pesaing sesama taksi, namun dr layanan taksi independen berbasis aplikasi. Di banyak negara, banyak perusahaan taksi konvensional mati digilas Uber dan layanan taksi berbasis aplikasi lainnya. 

Dan kini produsen Toyota, BMW dan Mercedes Benz takut bukan karena persaingan sesama mereka. Namun krn kehadiran TESLA, yg entah dari mana tiba2 melakukan inovasi radikal dgn produk mobil berbasis elektrik, dengan teknologi mobil tanpa sopir atau otonom (Autopilot Hardware) (Minggu lalu, mobil seri Tesla3 terjual hingga 300 ribu unit hanya dalam dua hari, padahal unitnya baru dirilis 2018. Jadi inden-nya dua tahun).

Manusia yg dapat segera beradaptasi dengan perubahan keadaan lingkungannya maka dia akan survive. Jika tidak dapat beradaptasi perubahan maka mereka akan tersingkir dan punah dari lingkungannya. Ide perubahan dan kreatif adalah salah satu wujud syukur. 

“Kuncinya adalah kerendahan hati & mau belajar dari kelebihan orang lain, jangan pernah meremehkan apapun & siapapun”

Hanya 2 hal yg pasti di dunia ini yaitu Tuhan dan perubahan, so Hold on to God and ready for changes!

Have a glorious day!

Iklan

[Refleksi]: Hukuman Allah yang Tidak Terasa


Seorang murid mengadu kepada gurunya:

“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”

Sang Guru menjawab dengan tenang:
“Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”

“Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq* (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya”

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapanNya..? 

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu’* dalam shalat..? 

Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya… 

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang… 

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..?? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? 

Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..??? 

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..??? 
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..??? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? 

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..??? 

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..??? 

Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya… 

Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. 

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:

“Hukuman yang terasa” pada harta, atau anak, atau kesehatan

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: “Hukuman yang tidak terasa”pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa

Karena itu wahai anakku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…

Refleksi Persahabatan: 10 Hari Mengabdi Pada Anjing 

[Ust. Musyafa Ahmad Rahim, Lc, MA.]

Alkisah ada seorang Raja yg memiliki 10 anjing ganas untuk menghukum yg bersalah.

Jika sang Raja tdk berkenan maka org yg salah akan dilempar ke kandang agar dicabik oleh anjing² ganas tersebut.

Suatu hari seorg Menteri membuat keputusan salah & murkalah Raja. Maka diperintahkan agar sang Menteri dimasukkan ke kandang anjing ganas.

Menteri berkata: “Paduka, saya telah mengabdi padamu selama 10 tahun, tapi Paduka tega menghukumku begini. Atas pengabdianku selama ini, saya hanya minta waktu penundaan hukuman 10 hari saja”.

Sang Raja pun mengabulkannya. Sang Menteri bergegas menuju kandang anjing² tsb & meminta izin kepada penjaga utk mengurus anjing²nya.

Ketika ditanya utk apa? Maka dijawab: “Setelah 10 hari nanti engkau akan tahu”. Karena tahu itu Menteri maka diizinkan.

Selama 10 hari itu sang Menteri memelihara, mendekati, memberi makan bahkan akhirnya bisa memandikan anjing² tsb hingga menjadi sangat jinak padanya.

Tibalah waktu eksekusi, disaksikan Raja dimasukkanlah sang Menteri ke kandang anjing, tetapi Raja kaget saat melihat anjing² itu justru jinak padanya.

Maka dia bertanya apa yg telah dilakukan Menteri pada anjing² tsb?

Jawab Menteri: “Saya telah mengabdi pada anjing² ini selama 10 hari & mereka tdk melupakan jasaku.

Terharulah Raja, meleleh airmatanya lalu dibebaskanlah sang Menteri dari hukuman & dimaafkan.

Sahabatku,
Hikmah dari cerita di atas adalah:

Agar kita tdk mudah mengingkari & melupakan kebaikan2 yg kita terima dari org² terdekat kita, hanya krn kejadian sesaat yg tdk mengenakkan.

Jgn mudah menghapus kenangan yg telah terukir dan persahabatan yg telah terjalin bertahun lamanya hanya krn hal² kecil yg kurang kita sukai darinya saat ini.

Mencari teman itu lebih mudah daripada mendapatkan sahabat.

Jagalah persahabatan yang ada dengan baik karena menjaga persahabatan itu jauh lebih sulit dari mendapatkannya.

[@salimafillah]: Menikmati Rizqi

Makanan lezat dapat diburu, hidangan mahal dapat dibeli. Untuk menikmati racikan seorang Chef Bintang Lima Michelin di Kota Paris, kita harus mengajukan reservasi jauh-jauh hari, dengan uang pangkal yang cukup untuk biaya hidup di Yogyakarta selama berbulan tanpa ngeri.

Tapi nikmatnya makan adalah rizqi, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang bapak di Gunung Kidul yang mencangkul sejak pukul 07.00 pagi, di jam 10.30 didatangi sang istri. Sebuah bakul tergendong di punggungnya, dengan isi amat bersahaja. Nasi ketan bertabur parutan kelapa. Sementara cereknya berisi teh panas, wangi, sepet, kenthel, dan legi.

Peluh dan lelah menggenapkan rasa nikmat di tiap suapan sang belahan jiwa. Senyum mereka tak terbeli oleh berapapun harga.

Ranjang paling empuk dapat dibeli. Kamar tidur paling mewah dapat dirancang. Hotel berlayanan bintang tujuh, Burj Al ‘Arab di Dubai dapat menyediakan ruang rehat dengan sewa semalam seharga membangun rumah di negeri kita.

Tapi nikmatnya tidur adalah rizqi. Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang anak pemulung berbantal kayu, beralas kardus, berselimut koran terlelap di atas gerobak orangtuanya pada suatu malam di Jakarta. Begitu nyenyak sampai susah untuk membangunkannya.

Gaji yang tinggi dapat dikejar dengan karir cemerlang. Uang yang banyak dapat dikumpulkan dengan memeras keringat hingga kering dan membanting tulang hingga linu. Tapi rizqi adalah soal menikmati, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang direktur sebuah BUMN bergaji besar yang duduk di samping saya dalam penerbangan kelas bisnis hanya memandang cemburu ketika sajian saya nikmati. Saya bertanya mengapa hanya air putih saja yang diteguknya, digenggam erat dalam gelas kaca.

Sungguh berat bagi beliau; mau makan manis, kata dokter, “Jangan Pak, diabetesnya.” Mau makan gurih, kata dokter, “Jangan Pak, kolesterolnya.” Mau makan asin, kata dokter, “Jangan Pak, hipertensinya.” Mau makan kacang, kata dokter, “Jangan Pak, asam uratnya.”

Ah saya membayangkan, berapakah yang dinikmati manusia dari apa yang dia sangka miliknya dan ditumpuk-tumpuk dan dihitung jumlahnya. Sekira 1000 triliun ada di rekeningnya, lalu esok pagi tiba malaikat maut menunaikan tugasnya, rizqi siapakah itu sebenarnya? Ahli waris atau bahkan musuh bisnis, Allah tak kekurangan cara untuk mengantarnya pada yang sudah dijatahkan tertulis di sisiNya.

Betapa benar Al Mushthafa ﷺ ketika bersabda, “Anak Adam berkata, ‘Hartaku! Hartaku!’ Padahal apalah hartanya itu selain makanan yang dilahapnya hingga habis, pakaian yang dipakainya hingga usang, dan apa yang dinafkahkannya di jalan Allah lalu dia dapati Allah membalasnya berlipat di akhirat.”

Rizqi adalah jaminan. Menjemputnya adalah ujian. Bekerja adalah ibadah kita; ‘itqan, ihsan, ikhlas; bukan mencari rizqi, tapi mencari pahala. Sebab kita harus memindahkan kekhawatiran, dari yang dijamin kepada yang belum dijamin. 

Yakni; akankah pulang kita ke surga?

Pecandu 3.0


Imam Masjidil Al Haram Asy-Syaikh Su’ud asy-Syuraim dalam sebuah Khutbah Jum’at beliau berkata : 

“Adakah dari kita yang tidak melihat perubahan dalam kehidupannya setelah masuknya Whats App, Facebook, Instagram dan yang lainnya dalam kehidupannya ? 

Bacalah ! 
Hal ini merupakan “Ghazwul fikri” yang menyerang akal, namun sangat disayangkan kita telah tunduk padanya dan kita telah jauh dari dien Islam yang lurus dan dari dzikir kepada Allah. 

Kenapa hati kita mengeras? 

Itu karena seringnya kita melihat cuplikan video yang menakutkan, dan juga kejadian2 yang di share..
Hati kita kini mempunyai kebiasaan yang tak lagi takut pada sesuatupun. Oleh karena itulah, hati kita menjadi mengeras bagai batu. 

Kenapa kita terpecah belah dan kita putus tali kekerabatan ? 

Karena kini silaturrahmi kita hanya via Whats App saja, seakan kita bertemu mereka setiap hari. 

Padahal bukan begitu tata cara bersilaturrahim dalam agama Islam (Kita perlu datang secara phisik, mengucap salam, bersalaman, membawa oleh-oleh, saling ingat mengingatkan, nasehat menasehati, saling doa mendoakan, dll).

Kenapa kita sangat sering mengghibah (ngrumpi), padahal kita tidak sedang duduk dengan seorangpun. Itu karena saat kita mendapatkan satu message yang berisi ghibah terhadap seseorang atau suatu kelompok, dan dengan cepat kita sebar ke grup-grup yang kita punya. Dengan begitu cepatnya kita mengghibah, sedang kita tidak sadar berapa banyak dosa yang kita dapatkan dari hal itu. 

Sangat disayangkan, kita telah menjadi pecandu…
Kita makan, handphone ada ditangan kiri kita. 
Kita duduk bersama teman-teman, HP ada di genggaman. 
Berbicara dengan ayah dan ibu yang wajib kita hormati, akan tetapi handphone ada di tangan pula. 
Sedang mengemudi kendaraan, HP juga di tangan. 

Sampai-sampai anak-anak kita pun telah kehilangan kasih sayang dari kita, karena kita telah berpaling dari mereka dan lebih mementingkan handphone. 

“Aku tidak ingin mendengar seseorang yang memberi pembelaan pada teknologi ini. Karena sekarang, jika sesaat saja HP kita tertinggal betapa kita merasa sangat kehilangan… 

Ah, andai perasaan dan perlakuan seperti itu ada juga pada shalat dan tilawatul (pembacaan) Qur’an kita…”

Adakah dari kita yang mengingkari hal ini? Dan siapa yang tidak mendapatkan perubahan negatif dalam kehidupannya, setelah masuknya teknologi ini pada kehidupannya dan setelah menjadi pecandu?
Demi Allah, siapakah yang akan menjadi teman kita nanti di kubur? Apakah HP? 

Mari kita sama-sama kembali kepada Allah, jangan sampai ada hal2 yang menyibukkan kita dari dien (agama) kita. Karenanya kita tidak tahu, berapa lamakah sisa umur kita”. 

 Allah berfirman: 

“Dan barang siapa yang berpaling dari peringatan Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit”. QS.Thoha: 124. 

Semoga handphone yang kita miliki adalah wasilah untuk kebaikan dan bukan wasilah dalam keburukan…
Jangan disembunyikan nasihat ini, agar tidak menjadi seseorang yang menyembunyikan ilmu… 

Semoga bermanfaat..

Yuyun. Ikon Kemiskinan Bengkulu #nyalauntukyuyun


Sekali lagi kemiskinan memakan korban lewat caranya yang teramat buas. Yuyun siswi SMP yang cerdas dan mahir baca Al Quran tewas mengenaskan diperkosa 14 pemuda tanggung, yang semuanya miskin dan pengangguran. Mereka melakukan perbuatan bejatnya setelah mabuk berat tuak yang ternyata dijual bebas di Bengkulu. Sukar dipercaya, tuak menjadi ikon Bengkulu, propinsi termiskin di Sumatra.

Yuyun dan keluarganya yang miskin tinggal di Desa Kasie Kasubun, Kecamatan Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong , Propinsi Bengkulu. Empat daerah itu secara berjenjang ternyata mewakili kemiskinan akut yang berujung pada maraknya kejahatan disana. 

Badan Pusat Statistik 2015 menunjukkan bahwa Bengkulu adalah propinsi termiskin di Sumatra. Menyusul di bawahnya, propinsi Aceh. 17,16 persen penduduk Bengkulu miskin diatas rata-rata nasional yang 11,13 persen. Dari 1533 desa dan kelurahan di Bengkulu, 48 persennya atau 670 desa adalah desa terisolir yang masuk dalam kategori Desa Tertinggal. 

Selama lima tahun terakhir, tidak ada perubahan signifikan APBD Propinsi Bengkulu. Malahan gubernur yang lalu, ditangkap karena korupsi. 75 persen APBD Bengkulu dipasok dari pusat karena Pendapatan Asli Daerah cuma bergerak di kisaran 400 hingga 500 milyar saja. Jadi sangat wajar jika propinsi ini tercekik oleh kemiskinan. 

Bengkulu miskin. Rejang Lebong adalah yang termiskin di Bengkulu. 40 persen penduduknya atau sekitar 91 ribu jiwa hidup miskin. Daerah ini sejak lama dikenal sebagai penerima bantuan beras miskin terbanyak, penerima terbesar Kartu Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Indonesia Pintardi propinsi Bengkulu. 

Malang bagi Yuyun. Dia juga hidup di kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT) yang termiskin di Rejang Lebong. Kecamatan ini dimana desanya Yuyun, Kasie Kasubun, adalah kecamatan penerima terbanyak kartu-kartu itu.

Kemiskinan memicu sejumlah kejahatan di Bengkulu, termasuk kejahatan seksual. Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( BP3A) Provinsi Bengkulu, Ir Diah Iryanti mengatakan sepanjang tahun 2015 hingga sekarang, tercatat sebanyak 513 kasus perkosaan terjadi di Provinsi Bengkulu, tapi kasus Yuyun yang terparah, karena pelakunya mencapai 14 orang. Ini artinya, setidaknya dua kali perkosaan terjadi setiap hari di propinsi ini.

Tidak hanya itu, di desa Kasien Kasubun, tempat Yuyun tinggal, juga pernah dihebohkan oleh ulah seorang ayah menghamili anak kandungnya sendiri yang juga masih berusia 14 tahun, seperti Yuyun. Disaat bersamaan, di desa sebelah juga ditangkap ayah bejat yang lain. Semua pelaku adalah orang miskin, yang mengandalkan pendapatan dari berkebun. 

Malangnya, pendapatan asli daerah Bengkulu turun tahun kemarin karena komoditas ekspor andalan mereka seperti karet harganya anjlok di pasar dunia. Walhasil, kemiskinan yang makin membelit juga menciptakan kisah-kisah tragis lain. 

Misalnya, keluarga Haristan yang tinggal di Dusun I Desa Lubuk Sini, Kecamatan Taba Penanjung, Kabupaten Bengkulu Tengah. Keluarga dengan tiga anak balita ini hidup di gubuk reyot ukuran 5 x5 meter dan hanya makan daun-daunan direbus selama bertahun-tahun karena tidak mampu beli beras. Entah bagaimana, kelurga Haristan yang sengsara ini kehilangan lahannya setelah perusahaan pertambangan batu dan galian pasir masuk ke desanya. 

Dan ternyata, perusahaan galian C juga pernah menjadi persoalan serius di Kasie Kasubun, desanya Yuyun.

Oktober tahun lalu, warga desa Kasie Kasubun dan desa-desa yang berdekatan memblokir jalan utama kecamatan PUT memprotes keberadaan CV Lembak Mobile yang disebut illegal mengambil batu kali di Sungai Siye. CV itu juga dituding sebagai penyebab rusaknya jalan penting tersebut. Mirisnya, sengketa itu berakhir setelah perusahaan tersebut membagi-bagikan uang damai antara 3 sampai 5 juta per desa—ulangi per desa.. bukan perorang.

Ini menunjukkan bahwa desa Kasie Kasubun, bukanlah desa yang masyarakatnya hidup sederhana jauh dari sentuhan budaya kota yang jahat. Desa ini menyimpan banyak masalah.

Tahun 2013, seorang penduduk desa itu ditangkap karena menjadi bandar sabu lintas propinsi setelah kepergok membawa setengah kilogram Sabu. BNN setempat mengatakan semua ini disebabkan karena Rejang Lebong sendiri telah menjadi perlintasan peredaran narkoba antar propinsi.

Selain narkoba, dua warga desa Kasie Kasubun ditangkap di 2015 karena menjadi menjadi anggota kumpulan begal yang kerap beraksi di Jalan Lintas Curup- Lubuk Linggau, Sumatera Selatan.

Malangnya, baik pemerintah propinsi, kabupaten dan desa seolah tidak berdaya mengatasi kemiskinan dan kejahatan di wilayahnya. Ketidak berdayaan itu sangat kentara dengan lumpuhnya pemerintahan disana dalam menghambat peredaran tuak. 

Di wilayah Bengkulu, sampai ke desa-desa, tuak diperjual belikan dengan bebas. Dari produsen, seliter tuak dihargai Rp. 3000 perliter dan ditingkat pedagang harganya naik menjadi Rp. 5000 perliter. Industri tuak telah menjadi mesin perekonomian di banyak desa.

Meski banyak kejahatan muncul karena tuak, aparat kepolisian tidak bisa melarang peredaran tuak karena tidak satu pasalpun di KUHP yang mencantumkan tuak sebagai minuman keras yang peredarannya dibatasi. Walhasil, aparat kepolisian kewalahan membendung maraknya kejabatan yang diakibatkan peredaran tuak. Mirisnya lagi, sebagian besar pelaku kejahatan adalah anak muda yang mabuk pesta tuak, termasuk pelaku perkosaan Yuyun.

Anehnya, sampai saat ini tidak ada satu kata terucap dari Gubernur Bengkulu, Bupati Rejang Lebong, Camat Padang Ulak Tanding atau Kepala Desa Kasie Kasubun untuk melarang peredaran tuak itu. Padahal mereka tahu, Yuyun tewas mengenaskan adalah hasil siraman tuak yang makin melaknatkan kemiskinan di wilayahnya. 

Bengkulu harus segera dibantu.

Karena ini jauh lebih mahal dari pada sekedar uang

Ini tulisan yg tidak membosankan untuk dibaca :

Anak anak yang dididik dalam keluarga yang penuh kesantunan, etika tata krama, sikap kesederhanaan akan tumbuh menjadi anak anak yang tangguh, disenangi, dan disegani banyak orang.

Mereka tahu aturan makan table manner di restoran mewah. Tapi tidak canggung makan di warteg kaki lima.

Mereka sanggup beli barang-barang mewah. Tapi tahu mana yang keinginan dan kebutuhan.

Mereka biasa pergi naik pesawat antar kota. Tapi santai saja saat harus naik angkot kemana-mana.

Mereka berbicara formal saat bertemu orang berpendidikan. Tapi mampu berbicara santai bertemu orang jalanan.

Mereka berbicara visioner saat bertemu rekan kerja. Tapi mampu bercanda lepas bertemu teman sekolah.

Mereka tidak norak saat bertemu orang kaya. Tapi juga tidak merendahkan orang yg lebih miskin darinya.

Mereka mampu membeli barang-barang bergengsi. Tapi sadar kalau yang membuat dirinya bergengsi adalah kualitas, kapasitas dirinya, bukan dari barang yang dikenakan.

Mereka punya.. Tapi tidak teriak kemana -mana. Kerendahan hati yang membuat orang lain menghargai dan menghormati dirinya.

Jangan didik anak dari kecil dengan penuh kemanjaan, apalagi sampai melupakan kesantunan, etika tata krama, dan juga jangan sampai kebanyakan gengsi yang akan memberatkan hidupnya.

Hal hal sederhana tentang kesantunan seperti : 

🔹Pamit saat pergi dari rumah, 

🔹Permisi saat masuk ke rumah temen (karena ternyata banyak orang masuk ke rumah orang tidak punya sopan santun, tidak menyapa orang orang yang ada di rumah itu), 

🔹Saat masuk atau pulang kerja memberi salam kepada rekan, terlebih pimpinan,

🔹Kembalikan pinjaman uang sekecil apapun, 

🔹Berani minta maaf saat ada kesalahan, 

🔹Tahu berterima kasih jika dibantu sekecil apapun.

🔹Ringan untuk berbagi.

Kelihatannya sederhana, tapi orang yang tidak punya attitude itu tidak akan mampu melakukannya.

Bersyukurlah, bukan karena kita terlahir di keluarga yang kaya atau cukup.

Bersyukurlah kalau kita terlahir di keluarga yang mengajarkan kita kesantunan, etika tata krama, kesederhanaan.

Karena ini jauh lebih mahal dari pada sekedar uang.

Barakallahu lakum jami’an….