Piala liga Inggris (27/10/2016): Manchester is Red, Juan Mata is not Man of The Match

Kemenangan kali ini de facto milik The Red Devils, tetapi di mata saya pertandingan semalam adalah kemenangan para pemain muda City untuk menampilkan permainan terbaik di atas level mereka.

Aleix Garcia, Leroy Sane, Kelechi Iheanacho memberikan warna tersendiri pada permainan, terlebih Pablo Maffeo yang bermain sangat taktis dan lugas di lini belakang.

Kredit tersendiri untuk Pablo Maffeo juga diberikan Whoscored dengan nilai 7,2 dibawah Nicolas Otamendi 7,4.

Pemain berusia 19 tahun ini dominan memenangi duel satu lawan satu dengan Marcus Rashford dan Paul Pogba. Di babak pertama, pemain bertinggi 173 cm ini bersama Otamendi dan Kompany berhasil mematahkan serangan-serangan dari sayap kiri United.

Maffeo mempunyai tiga tekel sukses dari empat percobaan, tiga intersep, dan enam sapuan. Di akhir babak kedua pun Maffeo sempat menusuk ke depan untuk menyundul bola operan Jesus Navas. Beruntung Luke Shaw berada di depan gawang David de Gea dan berhasil mengamankan pergerakan Maffeo.

Aleix Garcia berperan lebih seperti David Silva untuk mengalirkan bola. Sedangkan Leroy Sane bermain di bawah top performanya dan lebih banyak off position. 

Menurut saya, karena Sane bermain tidak pada posisi favoritnya sehingga Ia kurang bisa mengekspos kemampuannya di sayap kanan. Sane kerap berganti posisi dengan Navas memanfaatkan lebar lapangan. Serangan City dari sayap kanan pun kerap dimentahkan oleh Luke Shaw.

Kelechi Iheanacho malam tadi tidak dapat berbuat banyak. Berada dibawah pressing ketat pemain United, Kelechi hanya bisa melesakkan satu tendangan ke arah gawang.

Catatan agak keras saya sematkan kepada Raheem Sterling. Permainan ia semalam sangat konyol, hanya berlari mencoba menusuk tetapi lebih banyak kecolongan atau menjatuhkan diri dan berharap wasit meniup peluit. It was not how a star played boy. C’mon you can do your best man.

Satu catatan untuk Pep, City butuh penyerang yang berani masuk ke dalam barisan lawan. Dan City butuh latihan khusus untuk para penyerang dan playmakernya. Ketika masuk ke area permainan lawan, pemain City terlihat kesulitan dalam membaca pergerakan para penyerangnya. Sehingga terlihat “mikirnya” mereka dalam mengumpan. 

Sepertinya Guardiola tidak punya skema khusus dalam penyerangan. Hanya sebatas mengalirkan bola dan tumpul di depan. Kemampuan ini sebenarnya dimiliki oleh Kevin de Bruyne. Tapi de Bruyne pun kerap frustasi ketika berhadapan dengan tim yang memasang pressing ketat di area pertahanan.

Tiki-taka Guardiola tidak mudah diterapkan para pemain Man.City. Tapi mereka belajar, mereka antusias, mereka beradaptasi…

Butuh waktu. We’ll waiting forward Pep
twitter: @reni_triasari | Penulis adalah penikmat tiki-taka Pep Guardioala dan Citizens

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s