[@salimafillah]: Menyimak Kicau, Merajut Makna


Tempat paling aman untuk bersembunyi adalah ruang kejujuran. Tempat yang paling nyaman untuk lari adalah lapangan pertaubatan. Layang-layang justru bisa terbang saat melawan angin. Jangan gentar saat memang harus menentang. Tetapi pastikan ada benang terhubung pada-Nya.

Tiap orang hebat di kedudukan apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat menjadi menarik daripada menjuangkan apa yang diyakininya. Tiap ahli bidang apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat tunjukkan keahlian dibanding berkarya pada apa yang dicintainya. Tiap penyeru menuju jalan apa pun mulai bermasalah ketika terjebak pada kesibukan menanggapi saja, bukan bawakan gagasannya jadi amal.

Kata Al-Qur`an, tugas kita bukan jadi hakim, melainkan SAKSI yang baik agar kelak punya pembela saat jadi terdakwa di pengadilan-Nya. Setelah itu jadilah penyeru kebajikan. Kitalah penyala cahaya, bukan pengeluh gelap. Kita bawakan teladan sebelum mengenalkan. Maka, saat semua di sekitar terasa gelap dan sesak, curigalah bahwa kita ini yang dikirim Allah sebagai cahaya tuk mereka. Berkilaulah.

Penyeru kebajikan percaya dan terpesona pada sekecil apa pun niat baik, bahkan yang masih mengintip malu. Tugas mereka menumbuhkannya. Para penyeru kebajikan terhubung ke langit dengan ibadahnya, menjadikan kerendahan hati sebagai penggenap bagi cantiknya kebenaran. Penyeru kebajikan ialah wujud rahmat-Nya; lembut hati dan pemaaf, memudahkan bukan mempersulit, membawa kabar gembira dan tak membuat lari.

Sederhana itu memperindah semua. Yang miskin jadi kaya. Yang kaya jadi mulia. Yang jelata dipercaya. Yang berkuasa dicinta. Tiap orang akan mati di atas apa yang dia biasakan hidup padanya. Maka sekecil apa pun kebaikan sangat berharga tuk diistiqamahkan. Kebenaran hanya cantik, bila bersanding dengan kerendahan hati. Kebaikan hanya manis, jika dibersamai ketulusan jiwa. Rasakanlah.

Pandai, tampan, shalih; itu memesona. Tetapi mengunjuk-unjukkan pada sesama bahwa kita pintar, rupawan, atau taat; pasti memuakkan. Berbahagialah dia yang berhasil sembunyikan ibadahnya dari mata manusia, tetapi mampu tampilkan bekas indahnya berupa akhlak mulia.

Tiap musibah telah diukur kadarnya; takkan lampaui apa yang bisa ditanggung. Jadi yang diuji-Nya bukan kemampuan, melainkan kemauan. Tiap penghalang di jalan kehidupan tertakdir ada untuk satu alasan sederhana: Mengetahui sebesar apa tekad kita untuk melampauinya.

Melihat spion itu perlu. Tetapi sesekali saja. Merenungi masa lalu itu niscaya. Tetapi jangan sampai ia membelenggu langkah maju kita. Sebab kita tak tahu ke mana takdir membawa, mari syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan dan mengupayakan yang terbaik. Mari kerjakan apa yang semestinya kita kerjakan. Sebab jika tidak, kita akan mendapat kesulitan yang semestinya tidak kita dapatkan.

Banyak hal tak kita minta, tapi Allah tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa yang kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih. Banyak hal tak kita minta, tapi Allah tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa yang kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih. Kita tak selalu memperoleh apa yang kita suka, maka kita belajar menyukai apa pun yang kita peroleh. Jadilah ia makna kesyukuran.

Jika ada perintah Allah terasa berat bagi kita; cara membuatnya jadi ringan ialah dengan melaksanakannya. Kemudahan itu menyertai. Ikhlas tak selalu berarti ringan rasa hati kala melakukan. Yang berat itu jua keikhlasan; bahkan pahala sebanding kadar kepayahan. Yang ikhlas itu semurni susu; bergizi dan mudah dicerna. Jika tercampur kotoran dan darah; membuat muntah atau tertelan jadi penyakit.

Rasa, kata, dan laku yang ikhlas bagai susu; nikmat didengar dan dilihat, mudah dicerna jadi energi jiwa, menggerakkan amal shalih sesama. Sebaliknya; pikiran, ucapan, tulisan, dan tindakan, yang riya’ lagi kagum diri; ia memuakkan, dan jika tertelan menebar kefasikan. Ikhlas membuat syaitan tak sanggup hinggap, tak berdaya menggoda. Kesejatiannya rahasia, malaikat pencatat pun terhijab darinya.

Ridha-Nya tak terletak pada sulit/mudahnya, lapang/sempitnya, suka/dukanya. Ia ada pada ketaatan kita di semua warna kehidupan itu. Sombong tak disebabkan adanya kelebihan. Sulaiman yang lebih kaya dan kuasa bisa tawadhu. Tetapi Firaun, dia kerdil jiwa, sempit ilmu.

Setiap nikmat membawa serta ujiannya. Ketampanan Yusuf juga sepaket dengan iri saudara, perbudakan hina, goda wanita, dan penjara. Setiap musibah seringnya juga jalan menuju kejayaan; di penjaralah Yusuf berjumpa rekan yang kelak merekomendasikannya pada Raja. Kekuasaan dipergilirkan, juga nasib kaum. Bani Israil di Mesir berjaya bersama Yusuf; lalu Dinasti itu kalah; mereka diperbudak.

Niat-niat berkebajikan mendahului kita menghadap Allah untuk mengetuk pintu-pintu karunia yang memampukan kita mewujudkannya. Cinta dan kebersamaan dengan mereka yang mulia, mengantar kita ke kedudukan yang mungkin takkan dicapai hanya dengan amal pribadi. 

Betapa susah mencari sahabat sejati. Sulit sebab yang kaucari sahabat yang memberi. Sahabat untuk diberi, ah, banyak sekali.

Bersalah itu manusiawi. Menyangkal kesalahan itu menjatuhkan harga diri. Menyalahkan orang lain atas kesalahan kita, menjijikkan. Berbuat baik itu terpuji. Mengungkit-ungkit kebaikan; membuat risih. Menyuruh orang berterima kasih atas kebaikan kita; memalukan. Cara memperbesar kesalahan; dengan menganggapnya kecil. Cara memperbesar kebaikan; dengan menyembunyikannya dalam senyum Tuhan.

Sesungguhnya orang-orang yang shalih dilipat-sangatkan bagi mereka ujiannya. Dan tidaklah menimpa seorang mukmin setusukan duri atau bahkan lebih ringan dari itu melainkan dihapus baginya kesalahannya dan ditinggikanlah derajatnya. (Hadis Shahih No. 1660)

Dan pesan Guru kami; Bacalah Al-Qur`an dengan menangis. Jika tak mampu, pura-puralah menangis. Lalu tangisilah kepura-puraanmu. Juga menghadirkan ke dalam hati nikmatnya surga (betapa belum layak kita) dan mengerikannya neraka (betapa dekat karena dosa).

Berbakti yang tak mudah; menyusuri getir di tiap langkah pengabdian; MENARI DI ATAS BATAS. Bergiat dalam makna mensyukuri; kemuliaan yang terjemput; BEKERJA MAKA KEAJAIBAN. Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi: YAKINLAH, DAN PEJAMKAN MATA. Menghayati ujian Ibrahim; lika-liku Yusuf; tersuruknya Ayyub; berjayanya Sulaiman; pedih-pilunya Musa, Nuh, dan Isa.
 
*Dari buku Menyimak Kicau Merajut Makna, penulis Salim A. Fillah

Iklan

Abu Hurairah R.A: Belajar dari Sang Penuntut Ilmu

Tentu kita sudah tak asing lagi dengan nama Abu Hurairah RA. Sahabat yang satu ini paling sering kita dengar namanya ketika dikaitkan dengan periwayatan hadits. Abu Hurairah RA adalah salah seorang sahabat yang terkenal paling banyak meriwayatkan hadits. Padahal beliau hanya bersama Rasulullah SAW selama 3 tahun saja. Masya Allah. Waktu yang singkat tapi luar biasa manfaat. Bagaimana bisa? Apa rahasianya? 

Abu Hurairah RA adalah orang miskin dari suku Daus di Yaman. Beliau masuk islam ketika berumur 18 tahun setelah sampai dakwah islam ke Yaman. Setelah berumur 30 tahun, beliau memutuskan untuk pergi ke Madinah karena keinginannya yang kuat untuk belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Karena sangat miskin, Abu Hurairah tinggal di Shuffah masjid Nabawi. Shuffah adalah tempat yang disediakan bagi pendatang dari luar Madinah dengan tujuan mencari ilmu kepada Rasulullah SAW, sedangkan mereka dalam keadaan miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. 

Demi mencari ilmu kepada Rasulullah, Abu Hurairah rela menahan lapar dan dahaga. Bahkan untuk menahan lapar, beliau mengikatkan batu pada perutnya. Beliau merasa telah tertinggal jauh dari para sahabat yang lain karena baru saja ikut bersama Rasulullah, sedangkan sahabat yang lain telah bertahun-tahun bersama Rasulullah. Beliau juga merasa tidak memiliki kecerdasan yang tinggi. Inilah yang kemudian dikeluhkan sahabat Abu Hurairah kepada Rasulullah SAW. 

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hari ini menuntut ilmu tetapi esok hari sudah lupa lagi”. Inilah yang sering menjadi kendala bagi para penuntut ilmu, bahwa ilmu yang diterimanya mudah hilang ditelan lupa. Lalu apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah? Apakah putus asa karena merasa kecerdasan kurang dan mudah lupa? Ternyata tidak, beliau datang kepada Rasulullah dan meminta Rasulullah mendoakannya. Dan tidak berhenti di situ, Abu Hurairah berdoa sendiri di hadapan Rasulullah dan meminta Rasulullah meng-amin kannya. 

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. Masya Allah. Begitu gigih usaha Abu Hurairah dalam menuntut ilmu sehingga dalam 3 tahun kebersamaan beliau dengan Rasulullah SAW telah menghantarkannya menjadi salah satu yang periwayat hadits terkemuka. 

Nama besar Abu Hurairah sebagai periwayat hadits tidak mulus begitu saja. Banyak muncul perkataan-perkataan sinis dari orang-orang yang meragukan kebenaran hadits yang diriwayatkan oleh nya. 

Orang-orang meragukannya karena Abu Hurairah hanya bersama Rasulullah selama 3 tahun dan beliau bukan termasuk orang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Apakah kemudian Abu Hurairah mundur karena hujatan masyarakat? Tentu saja tidak. Abu Hurairah dengan gamblang memberi penjelasan. 

“Ketika aku bersama Nabi, maka aku tidak disibukkan dengan hal yang lain. Cukuplah ada yang bisa kumakan hari ini. Tidak seperti yang lain yang disibukkan oleh ladang dan perdagangan”. 

Luar biasa sekali. Kita tidak akan pernah berhenti mengagumi dan berterima kasih kepada sosok yang satu ini. Pembelajar sejati yang tidak berhenti atas kendala yang dihadapi. Tetapi terus maju sedikit demi sedikit mengejar ketertinggalan. Mental seperti inilah yang diperlukan bagi pembelajar saat ini. Rasanya malu karena usaha yang ditempuh tidak sebesar itu dalam mencari ilmu. Ketika menyadari diri ini terkendala ingatan dan kecerdasan pas-pas an bukankah layaknya kita meniru Abu Hurairah. Berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan. “Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. 

Dalam buku Ta’lim Muta’allim terdapat kisah syair. “Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang hafalanku yang lemah, lantas ia memberiku petunjuk agar meninggalkan maksiat”. “Hafalan adalah pemberian Allah, sedangkan pemberian Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat”. Dari sini dapat kita lihat bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan menuntut ilmu kepada Rasulullah SAW, hingga beliau tidak sempat untuk sibuk dengan ladang dan perdagangan. Apalagi sibuk dengan maksiat. Inilah salah satu pesan lagi bagi para penuntut ilmu. Hindarkanlah diri dari bermaksiat sehingga ilmu mu bisa melekat. Jadi ingat dengan sebuah tulisan dari Bunda Ely Risman tentang kerusakan otak dikarenakan terpapar pornografi. Naudzubillahi min dzalik. 

Sebuah kisah kehidupan yang banyak memberikan pelajaran. Bahwa ilmu haruslah dikejar dengan kesungguhan, keikhlasan dan tentu saja memohon pertolongan kepada Allah SWT. Semoga kita menjadi seorang penuntut ilmu seperti Abu Hurairah RA. 

“Aku tidak menangisi dunia kalian. Aku menangis karena sungguh panjang perjalananku setelah ini. Dan sungguh sedikit perbekalanku. Aku akan naik dan hanya ada surga dan neraka. Dan aku tidak tahu aku akan berada di mana” (Abu Hurairah RA)

Memilih Takdir Kepemimpinan(Taushiyah Ustad Anis Matta pada Rakernas KA-KAMMI)


Oleh Yanuardi Syukur*

Dalam Pelantikan dan Rapat Kerja Pengurus Nasional Keluarga Alumni KAMMI dengan tema “kaum muda Indonesia memimpin perubahan dunia”, di Hotel Diradja, Jakarta (21 Januari 2017), Ust HM. Anis Matta, Lc menyampaikan empat hal penting terkait persiapan yang harus dilakukan oleh pemuda muslim Indonesia dalam upaya berkontribusi untuk peradaban dunia. 

Berikut adalah empat hal penting tersebut. 

1. Korelasi Kalimat Pertama dengan Debut Kepemimpinan

Ketika Umar bin Abdul Aziz hendak dilantik, ia berbisik kepada Imam Az-Zuhri, “inni akhafunnar” (saya takut kepada neraka). Itu kalimat pertama yang ia ucapkan ketika dilantik.

Apa korelasi kalimat itu dengan pencapaian seseorang dalam memulai debut kepemimpinan? 

Kalimat ini berarti bahwa beliau memulai dari akhir bahwa akhir dari semua ini adalah kematian dan hidup setelah kematian hanya mempunyai dua pilihan, yaitu surga dan neraka. Ulama mengatakan, “orang yang paling berakal adalah yang paling jauh pandangannya tentang akhir dari semua yang ia lakukan.”

Beliau memulai tidak dengan berharap surga, akan tetapi memulai dari rasa takut kepada neraka. Tidak ada yang menyangka bahwa umur beliau setelah ucapan itu hanya 2.5 tahun. Ia sangat sehat, bahkan ahli sejarah mengatakan bahwa batang leher beliau adalah orang yang terawat dengan baik, bahkan trendsetter dari keluarga Umawiyah yang ia dikenal dari parfum dan cara jalannya hingga disebut “Al-Masy-yal Umawiyyah” atau cara berjalan ala Umar. 

Setelah pelantikan, Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan seluruh keluarganya dan mengambil harta mereka dikembalikan pada Baitul Mal. Ia bahkan mengancam istrinya jika tidak mau memberikan harta, antara kembalikan atau bersama Umar. Terjadi pergolakan tapi ia melewatinya dengan baik.

Saat ini kita hidup di era Kapitalisme yang berhasil dalam seratus tahun menyebarkan kesejahteraan ke banyak penduduk bumi. Tapi ada satu fakta yang tidak dicapai Kapitalisme, yang pernah dicapai di masa Umar, yaitu para amil zakat tidak mendapatkan orang yang menerima zakat. 

Ketika Umar wafat, ia mati muda di usia 39 tahun. Sebelum menghembuskan nafasnya, ia meminta istrinya untuk keluar kamar dan mengucapkan sebuah ayat yang menutup kisah Qarun tersebut sebagai berikut, 

تِلْكَ الدَّارُ اْلأَخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لاَيُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي اْلأَرْضِ وَلاَفَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ

“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Al-Qashash: 83)

Cerita tentang Qarun menjelaskan bahwa ia menafsirkan sebuah keberhasilan sebagai hasil dari kekuatan individu. Itu yang Allah tidak rela. Dalam ayat Al-Qur’an juga dijelaskan apakah Qarun tidak tahu bahwa dulunya juga ada yang lebih kaya dan dihancurkan oleh Allah. Qarun ditenggelamkan di masa-masa puncak ketika ia berkuasa dan ditutup dengan ayat tadi. 

Dr Imaduddin Khalil dalam buku biografi Umar bin Abdul Aziz berjudul “Revolusi Islam di zaman Umar bin Abdul Aziz” , ia menulis sebuah bab berjudul “tikungan jiwa”. Dari mana Umar mendapatkan energi sebesar itu dalam 2.5 tahun? 

Ternyata, sumber energinya adalah ketakutan pada neraka. Itu yang membuat kita tidak bermain-main dengan pilihan-pilihan yang kita putuskan untuk diri kita dan orang lain karena kita tahu akibat dari apa yang kita ambil. 

Makna dari ingatan pada akhirat itu melahirkan “ruhul mas’uliyah” (semangat pertanggungjawaban). Kita menyadari bahwa kita adalah pemikul beban, bukan pencari kuasa. Bukan pemburu popularitas. Karena sebeerapa besar beban yang kita pikul sebesar itu pula posisi kita di akhirat. Allah jika mencintai hamba-Nya maka Dia akan menjadikan hamba-Nya untuk kepentingan agama-Nya.

Ruhul mas’uliyah akan lahir dari pernyataan-pernyataan pribadi sejenis ini. Abu Bakar As Shiddiq misalnya, ia memerangi orang yang memisahkan zakat dari salat. Alasan pribadinya adalah, ia mengambil alihnya secara personal dalam perkataannya:

“Apakah Islam ini bisa berkurang padahal saya masih hidup?” 

“Ayanqushul Islamu wa ana hayy?”

Abu Bakar tidak menganggapnya fardu kifayah tapi menjadikannya tanggungjawab personal. Semangat pertanggungjawaban seperti ini yang dibutuhkan oleh umat kita sekarang ini.

Pernyataan seperti ini akan terlihat dari motif dari awal. Kita tidak dikumpulkan oleh kemarahan, kekecewaan, akan tetapi oleh semangat pertanggungjawaban pribadi kepada Allah dan kepada umat manusia. Semangat pertanggungjawaban seperti ini kita ambil secara pribadi yang akan membuat kita menjadi manusia bebas dan penuh energi. 

Karena kita merasa bahwa sumber pertanggungjawaban kita hanyalah kepada Allah. Kita bertanggungjawab atas pilihan-pilihan sadar yang didorong oleh semangat ruhul mas’uliyah dan perkataan Abu Bakar As Shiddiq, “ayanqushul Islamu wa ana hayy”.

Jika kita ingin bertahan lama maka pastikan dari awal niat kita benar.

Hanya dengan cara seperti itu maka kita akan menemukan pertemuan seperti ini menjadi gabungan energi yang besar. 

Point pertama ini mengantarkan pada point yang kedua.

2. Cara Memilih Peran yang Tepat

Jika salah memilih peran kita tidak efektif. Kita akan banyak membuang waktu tapi tidak menghasilkan apa-apa. Cara memilih peran itu adalah dengan memahami yang baik kebutuhan lingkungan, zaman, tempat kita, dan melihat kemampuan yang ada dalam diri kita yang diberikan Allah yang bisa kita berikan bagi manusia. 

Point pertama adalah “Wajibul Waqt” atau kewajiban kita terhadap zaman atau tuntutan zaman. Inilah peran yang diharapkan oleh zaman ini. Sedangkan yang kedua adalah membaca potensi diri kita yang kita bisa. “Setiap orang akan melakukan peran-peran yang untuk itu mereka diciptakan.” 

Point kedua ini membuat kita membaca arah zamannya sejarah. Jika dapat membaca sejarah maka kita dapat membaca masalah manusia dan menawarkan solusi untuk itu.

Sebuah kutipan mengatakan, “Hard time create strong leader. Strong leader create good time. Good time create weak leader. Good leader create hard time.” Itu siklusnya.

KAMMI lahir di Reformasi dan kini berada di kejatuhan global order atau kekacauan global. Sekarang muncul dua hal, yaitu trend kekacauan global dan lahirnya leadership style dari negara-negara besar yang diwakili oleh beberapa tokoh seperti Putin, Trump, dan Xi Jin Ping. Dulu di Perang Dunia II ada Stalin, Roosevelt, dan dst yang lahir di era hard time. 

Ketika sistem global jatuh, maka ada model kepemimpinan baru yang membawa dunia pada suatu arah yang tak ada seorangpun dapat meramalkannya. Ini menentukan geopolitik global di masa akan datang.

Sekarang kita telah selesai dari global disorder dan memasuki tahapan kedua yaitu global chaos. Tahap antara chaos dan selanjutnya biasanya satu dari dua hal, yaitu perang atau menemukan kesepakatan baru jika ada pemimpin yang bertangan dingin. Seperti apa tiap pemimpin mendefinisikan musuhnya maka seperti itulah ia akan bertindak.

Saat ini dunia Islam adalah outsider dan dalam sistem politik di seluruh dunia Islam harakah Islam masih outsider. Presiden Mursi baru masuk politik di Mesir sudah keluar lagi. 

Ayat geopolitik pertama dalam sejarah adalah surat Ar-Rum yang turun di Mekkah, gulibatirrum. Ayat tersebut agar generasi baru tahu bahwa “ini hanya masalah waktu.” Sudah ada kesadaran geopolitik global. Ayat tersebut definitif. Waktu itu Persi dan Romawi. Siklusnya mereka akan dikalahkan dalam beberapa tahun (‘bidh’a sinin’—antara 3 dan 9 tahun). Berkat kesadaran global itu Rasulullah mengerti bagaimana cara menemukan peta jalan bagi diri mereka sendiri.

Genghis Khan melewati 40 tahun pertama hidupnya sebagai buronan yang lari kemana-mana. Tapi karena ia tekanan itu, maka 20 tahun setelah itu ia menguasai hampir separuh dari seluruh dunia. 

Salah satu tipe dari orang yang lahir di hard time adalah kemampuan mereka mengubah tantangan menjadi peluang, ketakutan menjadi keberanian, kelemahan menjadi kekuatan. Saat ini kita perlu mendefinisikan peran sejarah yang ingin kita lakukan dengan melihat: sejarah dan potensi. 

Sejarah empat pemimpin mazhab, akan terlihat yang sama pada mereka yaitu mereka jauh dari politik dan dengan sadar menjauhi politik. Karena mereka tahu bahwa itu bukan peran utama yang dituntut oleh zamannya. Saat itu mereka established, sejahtera. 

Ekspansi Islam yang sangat luas membuat Islam bertemu dengan banyak budaya multikultur. Untuk itu maka secara intelektual, orang akan mengalami kesulitan dalam memahami teks-teks Al-Qur’an dan sunnah dalam melihat fenomena real di lapangan. Begitu banyaknya budaya baru yang bergabung dengan horizon Islam menjadi sangat besar peluang multi tafsir. Maka mereka-mereka bersepakat menyelesaikan masalah ini. 

Abu Hanifah misalnya, belajar di tengah jalan, karena ia pedagang. Ketika bertemu seorang ulama, ia ditanya kenapa tidak ke masjid ilmu? Ia berkata bahwa ia lebih sering ke pasar daripada ke ulama. Tapi kata ulama tersebut, kamu punya kecerdasan dan energi. Abu Hanifah memikirkan kalimat tadi dan sejak itulah ia mengubah jalan hidupnya. 

Imam Syafi’i lahir di Gaza, besar di Mekkah dan Madinah, keliling ke Irak dan Mesir. Umur 7 tahun hafal Al-Qur’an, 10 tahun hafal kitab Al-Muwaththa’ karangan Imam Malik. Beliau adalah imam para ahlul ra’i sedangkan Imam Malik adalah imam ahlul hadits. Beliau berkeliling ke seluruh negeri-negeri utama di jazirah tersebut. 

Hasilnya kemudian menemukan bahwa diperlukan suatu metodologi baru untuk memahami teks-teks Islam yang diturunkan dalam konteks lapangan, dan lahirlah ushul fiqh. Di luar dari Khulafaur Rasyidin, 4 imam tersebut yang paling dikenal. Cara kita beragama didefinisikan oleh 4 imam mazhab tersebut. Di Teluk, Syam adalah Hanabilah. Di Afrika Utama dan hampir seluruh Afrika adalah Imam Malik. Mesir dan Asia Tenggara adalah Imam Syafi’i. Sejak awal mereka mengerti sejarah yang harus mereka lakukan. Mereka memilih perannya. 

Ketika Tartar menyerbu seluruh dunia dan dunia Islam, ada satu orang yang mengalahkan Tartar, berdoa dan berpikir untuk itu. Ia merupakan orang Afghanistan, pernah menjadi budak dan jadi tentara. Sultan Muzaffar Qutuz, sang pahlawan tersebut berhasil mendefinisikan perannya secara tepat sesuai dengan tuntutan sejarah. 

3. Cara Melakukan Peran

Setiap generasi punya cara berpikirnya sendiri, cita rasa, dan bahasa sendiri.
Bekerjalah dengan perangkat-perangkat intelektual yang sesuai dengan zaman kita.

Lingkungan kita saat ini penuh dengan tangan berat yang tidak bisa dihadapi dengan cara berpikir biasa. Kita butuh banyak terobosan untuk itu. 

Dari berbagai buku tentang inovasi ternyata bukan oleh kecerdasan tapi keberanian dan rasa penasaran.

Hanya orang-orang penasaran yang bisa berinovasi. Inovasi menjadikan diri kita sendiri dan hanya orang-orang berani yang mau berdiri sendiri.

Sistem militer seperti sekarang dimulai oleh Romawi. Pola perang di jazirah Arab Badui tidak diketahui oleh Romawi. Kalau anda ingin memenangkan pertempuran berpikirlah dengan cara yang tidak dipikirkan lawan. Strategi dan taktik Khalid bin Walid adalah kombinasi perang ala Badui dengan Romawi. Strategi rotasi pasukan ala Khalid membuat lawan berpikir bahwa ada banyak suplai pasukan. Masing-masing pasukan punya keraguan tersendiri. Romawi banyak pasukan tapi ragu dengan pasukan Islam yang tidak pernah kalah. Sedangkan Islam ragu dengan pasukan besar Romawi.

Menjadi innovator menjadikan kita standing alone. Butuh keberanian, bukan sekedar kecerdasan. Paling tidak perlu keberanian menghadapi kesepian.

4. Taufiq dari Allah (At-Taufiqul Ilahi) 

Kita bisa menjadi innovator tapi sukses itu pada akhirnya dari Allah. Kaidah mengatakan “Jika Allah ingin memberlakukan takdirnya maka Dia menciptakan sebab-sebabnya.” Titik ini bermakna bahwa kehendak kita bertemu dengan kehendak Allah. Gambaran paling visual adalah saat istikharah sebelum menikah. Di tengah ketidaktahuan jodoh kita terus berusaha dan menyiapkan kemungkinan bisa tidak jadi. 

Yang harus kita lakukan adalah terus-menerus menemukan takdir kita masing-masing.

Cara agar kita menemukan takdir kita masing-masing adalah dengan mengamalkan sebuah doa:

“Ya Allah jadikanlah seluruh keinginanku hanyalah akhirat.” 

Allahummaj’al hammi hammal akhirah.

Allahummaj’al hammi hammal akhirah. 

Allahummaj’al hammi hammal akhirah.

Yanuardi Syukur, Pengurus Departemen Perguruan Tinggi, Bidang PSDM & Pora, Keluarga Alumni KAMMI