Abu Hurairah R.A: Belajar dari Sang Penuntut Ilmu

Tentu kita sudah tak asing lagi dengan nama Abu Hurairah RA. Sahabat yang satu ini paling sering kita dengar namanya ketika dikaitkan dengan periwayatan hadits. Abu Hurairah RA adalah salah seorang sahabat yang terkenal paling banyak meriwayatkan hadits. Padahal beliau hanya bersama Rasulullah SAW selama 3 tahun saja. Masya Allah. Waktu yang singkat tapi luar biasa manfaat. Bagaimana bisa? Apa rahasianya? 

Abu Hurairah RA adalah orang miskin dari suku Daus di Yaman. Beliau masuk islam ketika berumur 18 tahun setelah sampai dakwah islam ke Yaman. Setelah berumur 30 tahun, beliau memutuskan untuk pergi ke Madinah karena keinginannya yang kuat untuk belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Karena sangat miskin, Abu Hurairah tinggal di Shuffah masjid Nabawi. Shuffah adalah tempat yang disediakan bagi pendatang dari luar Madinah dengan tujuan mencari ilmu kepada Rasulullah SAW, sedangkan mereka dalam keadaan miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. 

Demi mencari ilmu kepada Rasulullah, Abu Hurairah rela menahan lapar dan dahaga. Bahkan untuk menahan lapar, beliau mengikatkan batu pada perutnya. Beliau merasa telah tertinggal jauh dari para sahabat yang lain karena baru saja ikut bersama Rasulullah, sedangkan sahabat yang lain telah bertahun-tahun bersama Rasulullah. Beliau juga merasa tidak memiliki kecerdasan yang tinggi. Inilah yang kemudian dikeluhkan sahabat Abu Hurairah kepada Rasulullah SAW. 

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hari ini menuntut ilmu tetapi esok hari sudah lupa lagi”. Inilah yang sering menjadi kendala bagi para penuntut ilmu, bahwa ilmu yang diterimanya mudah hilang ditelan lupa. Lalu apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah? Apakah putus asa karena merasa kecerdasan kurang dan mudah lupa? Ternyata tidak, beliau datang kepada Rasulullah dan meminta Rasulullah mendoakannya. Dan tidak berhenti di situ, Abu Hurairah berdoa sendiri di hadapan Rasulullah dan meminta Rasulullah meng-amin kannya. 

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. Masya Allah. Begitu gigih usaha Abu Hurairah dalam menuntut ilmu sehingga dalam 3 tahun kebersamaan beliau dengan Rasulullah SAW telah menghantarkannya menjadi salah satu yang periwayat hadits terkemuka. 

Nama besar Abu Hurairah sebagai periwayat hadits tidak mulus begitu saja. Banyak muncul perkataan-perkataan sinis dari orang-orang yang meragukan kebenaran hadits yang diriwayatkan oleh nya. 

Orang-orang meragukannya karena Abu Hurairah hanya bersama Rasulullah selama 3 tahun dan beliau bukan termasuk orang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Apakah kemudian Abu Hurairah mundur karena hujatan masyarakat? Tentu saja tidak. Abu Hurairah dengan gamblang memberi penjelasan. 

“Ketika aku bersama Nabi, maka aku tidak disibukkan dengan hal yang lain. Cukuplah ada yang bisa kumakan hari ini. Tidak seperti yang lain yang disibukkan oleh ladang dan perdagangan”. 

Luar biasa sekali. Kita tidak akan pernah berhenti mengagumi dan berterima kasih kepada sosok yang satu ini. Pembelajar sejati yang tidak berhenti atas kendala yang dihadapi. Tetapi terus maju sedikit demi sedikit mengejar ketertinggalan. Mental seperti inilah yang diperlukan bagi pembelajar saat ini. Rasanya malu karena usaha yang ditempuh tidak sebesar itu dalam mencari ilmu. Ketika menyadari diri ini terkendala ingatan dan kecerdasan pas-pas an bukankah layaknya kita meniru Abu Hurairah. Berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan. “Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. 

Dalam buku Ta’lim Muta’allim terdapat kisah syair. “Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang hafalanku yang lemah, lantas ia memberiku petunjuk agar meninggalkan maksiat”. “Hafalan adalah pemberian Allah, sedangkan pemberian Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat”. Dari sini dapat kita lihat bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan menuntut ilmu kepada Rasulullah SAW, hingga beliau tidak sempat untuk sibuk dengan ladang dan perdagangan. Apalagi sibuk dengan maksiat. Inilah salah satu pesan lagi bagi para penuntut ilmu. Hindarkanlah diri dari bermaksiat sehingga ilmu mu bisa melekat. Jadi ingat dengan sebuah tulisan dari Bunda Ely Risman tentang kerusakan otak dikarenakan terpapar pornografi. Naudzubillahi min dzalik. 

Sebuah kisah kehidupan yang banyak memberikan pelajaran. Bahwa ilmu haruslah dikejar dengan kesungguhan, keikhlasan dan tentu saja memohon pertolongan kepada Allah SWT. Semoga kita menjadi seorang penuntut ilmu seperti Abu Hurairah RA. 

“Aku tidak menangisi dunia kalian. Aku menangis karena sungguh panjang perjalananku setelah ini. Dan sungguh sedikit perbekalanku. Aku akan naik dan hanya ada surga dan neraka. Dan aku tidak tahu aku akan berada di mana” (Abu Hurairah RA)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s