Asian Games 2018 membuat Trans Musi kembali dilirik. Aplikasi Moovit jadi panduan.

Tau dong kalau Palembang menjadi salah satu tuan rumah Asian Games 2018 bersama ibu kota tercinta Jakarta. Ya, kota yang mempunyai fasilitas olahraga yang lengkap dan berstandar Internasional ini pun berbenah memperbaiki fasilitas layanan publiknya. Ada dua transportasi massal yang menjadi andalan selama perhelatan pesta olahraga se-Asia ini digelar, yaitu Light Rail Transit (LRT) dan Bus Rapid Transit (BRT) Trans Musi.

Sebagai warga asli Palembang, pasti ngalamin gimana macetnya jalanan Palembang menjelang Asian Games akibat pembangunan ini itu serta pengalihan jalan akibat dari penutupan Jembatan Ampera pada waktu-waktu tertentu. Karena waktu penutupan dan pengalihan jalan yang tidak bisa diprediksi, akhirnya mau ga mau warga pada beralih menggunakan transportasi publik. Karena selain kendaraan yang mempunyai stiker khusus asian games, hanya transpotasi inilah yang diizinkan untuk melintasi jalanan yang ditutup untuk kendaraan pribadi.

LRT mungkin bisa menjadi pilihan, tetapi selama Asian Games berlangsung operasional LRT pertama di Indonesia ini lebih diprioritaskan untuk atlet, official, dan panitia Asian Games. Bahkan sebelum pembukaan dimulai selama tiga hari, operasionalnya khusus diperuntukkan hanya untuk atlet, official dan panitia Asian Games hiks… so sad. Dan Stasiun pemberhentian LRT pun belum semuanya rampung. Jadilah akhirnya Trans Musi menjadi transportasi pilihan warga (termasuk saya) untuk menyebrangi sungai Musi melalui Jembatan Ampera.

Trans Musi ini mulai beroperasi di Palembang sejak tahun 2010. Dulu pernah nyobain keliling-keliling sama temen pas awal euforia Trans Musi ini. Mulai dari dikelola pemerintah, lalu diserahkan ke BUMD. Mulai dari karcis yang harganya Rp. 3000, lalu pakai kartu khusus (e-money), dan akhirnya balik lagi pake karcis dengan harga Rp. 5000 (sejak 2014 hingga 2018 saat ini). Mulai dari hanya 15 unit dengan dua koridor hingga sekarang sekitar 150 unit yang melayani 9 koridor.

Trans Musi Palembang tahun 2011. Photo: Anton Da Carola

Hari itu kebetulan saya mau ke daerah seberang nih. FYI, Kota Palembang itu dibelah oleh Sungai Musi yang memisahkan kawasan Seberang Ulu dan Seberang Ilir sehingga muncullah istilah ” ke seberang” dalam percakapan sehari-hari warga Palembang. Karena terakhir naik Trans Musi ini tahun 2011, iseng googling mau cari info ehhh ternyata sekarang udah ada aplikasi jadwal dan rute LRT serta Trans Musi loh. Nama aplikasinya Moovit. Recommended nih untuk diunduh menurut saya.

Tapi ga mau percaya begitu aja, saya cross check ke temen yang biasa naik Trans Musi. Dan bener sih katanya… jadi sekarang ini waktu tunggu dan pelayanannya udah bagus. Kurang lebih tiap 30 menit, akan ada Trans Musi yang dateng melayani warga sesuai rute-rute yang telah ditentukan. Akhirnya saya nyobain naik Trans Musi koridor 9 yang dari Terminal Alang-alang Lebar dengan tujuan akhir OPI Mall (Water Fun). Ga lama nunggu di Halte, bis nya beneran nongol dan datang malah lebih awal 3 menit. Duduklah dengan manisnya di depan, lalu kondektur menanyakan tujuan dan kita bayar karcisnya Rp. 5000.

Tiap halte, bisnya berhenti dan kondekturnya siap membantu penumpang yang turun dan yang naik. Sembari beberapa ada yang bertanya halte-halte transit dan dijelaskan dengan sopan oleh kondektur. Tak lupa sebelum sampai halte berikutnya, kondektur mengingatkan halte apa yang akan disinggahi. Sopirnya juga bawa mobil santai dan nyaman, malah sering banget dipepet sama mobil atau motor untuk dipotong jalurnya tapi si sopir sih nyantai aja kasih jalan. Teladan banget nih bapak. Full musik lagi, cuma selera lagunya agak jadul sih menurut saya. Suka-suka bapak sopir lah yaaa… haaaaa.

Hari itu karena berangkat di hari kerja dan jam jam aman… jadi lengang lengang aja kondisi di dalam Trans Musi. Tapi jangan ditanya kalau jam berangkat kerja, sekolah maupun jam baliknya, bisa dipastikan agak berdesakan.

Oiya, naik transportasi publik macem Trans Musi ini juga mau ga mau ngajarin kita untuk lebih beradab dalam menggunakan fasilitas publik. Mulai dari menjaga fasilitasnya, antri, menghargai orang lain, sopan dan lain-lain. Budaya yang biasanya bar-bar seperti pas ngejar bis, desak-desakan yang bodo amat sama orang lain, copet berkeliaran, bis berhenti sembarangan, sopir ugal-ugalan, nunggu bis di tempat yang malah bikin macet jalan dan lain-lain itu berubah menjadi budaya yang lebih santun dan beradab. Hal inilah yang sebenarnya menurut saya yang dibutuhkan untuk mengimbangi percepatan pembangunan fisik dan kemajuan zaman, yaitu perubahan budaya dan sosial yang lebih baik bagi warganya.

Ga terasa udah sampai aja nih di OPI Mall. Dari terminal alang-alang lebar ke jakabaring memakan waktu sekitar 1 jam. Dan si bis pun tepat berada di halte OPI Mall sesuai dengan jadwal di aplikasi Moovit. Menyenangkan jika transportasi publik sudah termanajemen dengan baik seperti ini. So… jangan ragu untuk menggunakan transportasi publik ya di Palembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s