Nature, Nurture and Toxic Friends

Ada satu teori psikologi yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh nature dan nurture. Nature adalah ketika faktor genetik membawa pengaruh pada kepribadian seseorang. Sedangkan Nurture adalah ketika faktor lingkungan sosial, pergaulan, dan faktor luar lain berpengaruh pada perkembangan kepribadian dirinya.

Dua hal tersebut akan terus memberi pengaruh seiring dengan pertambahan usia dan kedewasaan emosional seseorang. Yah… emotional quotion merupakan salah satu parameter yang bisa dilihat jelas dari adanya pengaruh dua faktor ini. Ribet ya bahasanya hahhaa udah macem karya ilmiah 😂

Satu hal yang ingin disampaikan dari teori ini bahwa… faktor karakter bawaan dari diri seseorang bukanlah merupakan faktor utama, tetap ada faktor luar seperti lingkungan sosial, pergaulan teman, something that we are concern yang membawa warna lain dan menguatkan karakter kita.

Ketika kita dihadapkan pada relationship, lingkungan yang tidak membuat kita bertumbuh, berpikir positif, dan menjadi lebih baik maka pilihan yang tepat untuk memilih “Nurture” yang lebih baik.

Bete dong kalo tiada hari tanpa ribut, iri, buat sakit hati dan tidak ada rasa percaya dalam suatu hubungan. Sadarlah bahwa itu toxic relationship dan saatnya untuk diakhiri.

Toxic friend creates toxic relationship.

Energi positif yang harusnya membuat kita bertumbuh malah terkuras oleh energi negatif yang tak berujung.

Sebelum terlambat… bertumbuhlah.

Karena usia itu singkat.

Dan karya itu nyata.

Lampung, 25 November 2018

(Kadang) Lupa

Namanya juga manusia…

Kalimat pemakluman yang jamak didengar ketika kita dihadapkan pada kealfaan sebagai sesama manusia. Mulai dari hal kecil, remeh temeh sampai hal besar.

Untuk hal sepele okelah dimaklumi, seperti lupa naroh kaos kaki, hp, kunci, dan lainnya. Tapi gimana untuk pertemanan? Apakah (kadang) lupa dalam hal ini bisa dimaklumi?

Apalagi (kadang) lupa dengan teman yang udah bantuin secara moral, spiritual, material wkwkwk berasa mau bangun rumah material 😂

Kalau saya pribadi sih berteman dengan yang udah dianggap deket banget itu… apapun yang bisa kita lakukan untuk teman kita ya lakuin. Selama emang bisa ngebantu dia. Karena prinsip tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah berlaku bagi saya dalam suatu pertemanan.

Walaupun… butuh keikhlasan super setelahnya hhahaaa IYKWIM 🤣

Makanya kalau saya punya teman yang memperlakukan saya sebaik mungkin itu rasanya terharu banget. Apalagi kalo level baiknya tingkat dewa. Ada tuh saya temen yang bgitu. Semoga Allah menjaga dan membalas kebaikanmu wahai sahabat.

“In ahsantum ahsantum li anfusikum. wa in asa’tum fa lahaa..”

(Qs. 17: 7)

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri…”

Ya… salah satu ayat dalam Al-Quran itulah yang selalu jadi penyemangat saya ketika keikhlasan sebagai seorang teman, sahabat sedang diuji.

Kembali lagi ke pertanyaan di awal:

Apakah (kadang) lupa dalam hal pertemanan bisa dimaklumi?

Menurut saya bisa dimaklumi. Tetapi kadar pemakluman dan reaksi tiap orang berbeda-beda. Pemakluman dan reaksi itu tergantung dari kedewasaan, keikhlasan, dan emotional quotionnya.

Mungkin… si teman menganggap kita sama dengan benda. Temannya yang ada dikala dia butuh… disamakan dengan kaos kaki, hp, kunci, dan lainnya.

Maklumin aja… kan manusia (kadang) lupa.

Kertapati to Tanjung Karang

21 November 2018