Selektif dalam Memilih Orang Terpercaya

Allah Swt. berfirman:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” QS. Ali Imran:118

Intisari Ayat

‎يَقُول تَبَارَكَ وَتَعَالَى نَاهِيًا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ اِتِّخَاذِ الْمُنَافِقِيْنَ بِطَانَةً أَيْ يُطْلِعُوْنَهُمْ عَلَى سَرَائِرهِمْ وَمَا يُضْمِرُونَهُ لِأَعْدَائِهِمْ وَالْمُنَافِقُوْنَ بِجُهْدِهِمْ وَطَاقَتِهِمْ لَا يَأْلُوْنَ الْمُؤْمِنِينَ خَبَالًا أَيْ يَسْعَوْنَ فِي مُخَالَفَتِهِمْ وَمَا يَضُرُّهُمْ بِكُلِّ مُمْكِنٍ وَبِمَا يَسْتَطِيْعُوْنَ مِنَ الْمَكْرِ وَالْخَدِيْعَةِ وَيَوَدُّوْنَ مَا يَعْنَتُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَيُحْرِجُهُمْ وَيَشُقُّ عَلَيْهِمْ

“Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman seraya melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin menjadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan, yaitu menceritakan kepada mereka semua rahasia kaum mukmin dan semua rencana yang dipersiapkan kaum mukmin terhadap musuh-musuhnya. Orang-orang munafik akan berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan mereka tanpa henti-hentinya untuk menimbulkan mudarat terhadap kaum mukmin, yaitu orang-orang munafik akan terus berupaya menentang kaum mukmin dan menimpakan mudarat terhadap mereka dengan segala cara yang mereka dapat dan dengan memakai tipu daya serta kepalsuan yang mampu mereka kerjakan. Mereka suka dengan semua hal yang mencelakakan kaum mukmin, gemar pula melukai kaum mukmin serta menyukai hal-hal yang memberatkan kaum mukmin.” [1]

Tafsir Kosa Kata (Mufradat): Bithanah

Menurut Imam Al-‘Ainiy, kata bithanah (البطانة) bermakna:

‎الصَّاحِبُ الْوَلِيْجَةُ وَالدَّخِيْلُ وَالْمُطَّلِعُ عَلَى السَّرِيْرَةِ

“Sahabat karib, yang masuk lebih dalam dan mengetahui rahasia.” [2]

Kata ini pada asalnya digunakan untuk baju, dalam arti lapisan atau bagian dalam pakaian (بِطانَةُ الثَوْبِ). Kemudian kata ini dipinjam untuk menunjuk makna keluarga atau orang kepercayaan. Demikian penjelasan pakar Bahasa Arab dan Tafsir, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani. [3]

Dalam redaksi Imam Syekh Ahmad Asy-Syadziliy:

‎وَسُمِّيَتْ بِطَانَةٌ تَشْبِيْهاً لَهَا بِالثَّوْبِ الَّذِيْ يَلِيْ بَطْنَهُ

“(Teman dekat) dinamakan bithanah karena diserupakan dengan lapisan atau bagian dalam pakaian.” [4]

Keluarga atau orang kepercayaan disebut bithanah (البطانة) karena orang itu mengetahui rahasia pribadi orang yang mempercayainya. Sehubungan dengan itu, para ulama menjelaskan makna kata ini sebagai berikut:

Menurut Imam Ibnu Katsir:

‎بِطَانَةُ الرَّجُلِ هُمْ خَاصَّةُ أَهْلِهِ الَّذِيْنَ يَطَّلِعُوْنَ عَلَى دَاخِلِ أَمْرِهِ

“Bitanah seseorang adalah keluarga atau orang terdekat (kepercayan) yang mengetahui semua rahasia pribadinya.” [5]

Dalam pandangan Imam As-Suyuthi:

‎بِطَانَةُ الرَّجُلِ صَاحِبُ سِرِّهِ وَدَاخِلِ أَمْرِهِ الَّذِي يُشَاوِرهُ فِي أَحْوَالِهِ

“Bitanah seseorang adalah orang yang memegang rahasia dan masuk pada urusannya, yaitu orang yang diajak bermusyarah dalam berbagai hal.” [6]

Syekh Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan:

‎بِطَانَةُ الرَّجُلِ وَلِيجَتُهُ وَخَاصَّتُهُ الَّذِينَ يَسْتَبْطِنُونَ أَمْرَهُ وَيَتَوَلَّوْنَ سِرَّهُ

“Bitanah seseorang adalah sahabat karib dan orang terdekatnya, yang mengetahui hakekat urusannya dan menguasai rahasianya.” [7]

Tafsir Hukum: Bithanah Teoritis & Praktis

Dari berbagai penjelasan ulama tentang makna Bithanah di atas kita dapat memahami bahwa firman Allah Swt.:

‎{لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ}

“Janganlah kalian ambil menjadi teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian.” (QS. Ali Imran: 118) mengandung larang bagi orang Islam mengangkat orang yang tidak seagama alias kafir atau orang munafik sebagai teman dekat, orang terpercaya, atau pemimpin yang untuk mengelola urusan dan rahasia pribadi serta masyarakat muslim. Karena kalimat “min duunikum”, menurut Imam Ibnu Katsir bermakna:

‎أَيْ مِنْ غَيْرِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْأَدْيَانِ

“Yakni selain dari kalangan kalian yang tidak seagama.” [8]

Adapun praktik Umar diterangkan dalam riwayat berikut:

‎عَنْ أَبِي دُهْقَانَةَ، قَالَ: قِيلَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: أَنَّ هَاهُنَا غُلاماً مِنْ أَهْلِ الْحِيرَةِ حَافِظاً كَاتِباً فَلَوَ اتَّخَذْتَهُ كَاتِباً قَالَ: قَدِ اتَّخَذْتُ إِذًا بِطَانَةً مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Dari Abu Duhqanah, ia berkata, “Ada yang berkata kepada Khalifah Umar bin Khatab: “Bahwa di sana terdapat seorang budak laki-laki Nasrani dari penduduk Hirah, ia seorang yang amanah dan pandai dalam tulis menulis. Sekiranya Anda berkenan menjadikannya sebagai sekretaris Anda.” Dengan tegas, Khalifah Umar menyatakan, “Jika demikian berarti aku telah menjadikan non mukmin sebagai orang kepercayaan.” HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abu Syaibah, dengan sedikit perbedaan redaksi. [11]

Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi:

‎فَقَدْ جَعَلَ عُمَرُ رضي الله عنه هذِهِ الآيَةَ دَلِيْلاً عَلَى النَّهْيِ مِنِ اتِّخَاذِ بِطَانَةٍ

“Sungguh Umar menjadikan ayat ini sebagi dalil larangan menjadikan (kafir) sebagi orang dekat atau terpercaya.” [12]

Motif Hukum dan Hikmah Larangan

Pada ayat ini, larangan menjadikan kafir sebagai teman dekat dan orang terpercaya untuk mengelola urusan umat Islam disertai keterangan ‘illat (motif hukum), yaitu firman Allah:

‎لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ

“Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian.” (QS. Ali Imran: 118)

Kalimat ini menjelaskan bahwa sebab dilarangnya menjalin kedekatan dengan mereka karena mereka selalu mencurahkan segala daya upaya untuk menyengsarakan orang Islam. Dengan kata lain, jika mereka tidak memerangi orang Islam secara terang-terangan maka mereka tidak pernah kenal lelah membuat tipu daya untuk orang Islam.

Kemudian Allah Swt. menegaskan sebab larangan itu dengan menjelaskan karakter mereka. Allah Swt. berfirman:

‎قَدْ بَدَتِ الْبَغْضاءُ مِنْ أَفْواهِهِمْ وَما تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran: 118)
Yakni sesungguhnya terbaca pada roman wajah dan lisan mereka ungkapan permusuhan mereka terhadap kaum mukmin, selain dari apa yang tersimpan di dalam hati mereka, yaitu kebencian yang sangat kepada agama Islam dan para pemeluknya. Hal itu mudah dibaca oleh orang yang jeli lagi cerdik. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

‎قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika kalian memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118)
Jika orang Islam tidak jeli lagi cerdik, tampilan dan pencitraan mereka dapat menipu umat Islam. Sehubungan dengan propaganda mereka, Allah Swt. telah mengingatkan umat Islam, pada ayat selanjutnya, dengan firman-Nya:

‎هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ

“Begitulah kalian, kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian.” (QS. Ali Imran: 119)
Yakni kalian, hai orang-orang mukmin, menyukai orang-orang munafik karena apa yang mereka lahirkan kepada kalian berupa iman. Oleh sebab itu, kalian menyukai mereka, padahal baik batin maupun lahirnya mereka sama sekali tidak menyukai kalian.

Juga dengan firman-Nya:

‎إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا

“Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati; tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)

Keadaan ini menunjukkan kerasnya permusuhan mereka terhadap kaum mukmin. Yaitu apabila kaum mukmin mendapat kemakmuran, kemenangan, dukungan, dan bertambah banyak bilangannya serta para penolongnya berjaya, maka hal tersebut membuat susah hati orang-orang munafik. Tetapi jika kaum muslim tertimpa paceklik atau dikalahkan oleh musuh-musuhnya, hal ini merupakan hikmah dari Allah, seperti yang terjadi dalam Perang Uhud, orang-orang munafik merasa gembira akan hal tersebut.

Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw. telah mengingatkan pula agar umat Islam selektif dalam memilih orang terpercaya dengan sabda beliau:

‎مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِي وَلا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَة إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخيرِ وتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَم اللهُ

“Tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan didampingi oleh dua teman terdekatnya. Seorang teman menganjurkannya untuk berbuat kebaikan dan memberinya semangat untuk melakukan kebaikan itu. Dan teman lainnya selalu memerintahkan kejahatan kepadanya dan menganjurkan kepadanya untuk melakukan kejahatan, sedangkan orang yang terpelihara ialah orang yang dipelihara oleh Allah.” HR. Al-Bukhari

Adapun hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini dinyatakan oleh Imam Al-Qasyani berikut ini:

‎أن بطانة الرجل صفيه وخليصه الذي يبطنه ويطلع على أسراره ، ولا يمكن وجود مثل هذا الصديق إلا إذا اتحدا في المقصد واتفقا في الدين والصفة ، متحابين في الله لغرض . كما قيل في الأصدقاء : نفس واحدة في أبدان متفرقة . فإذا كان من غير أهل الإيمان ، فبأن يكون كاشحاً أحرى

“Sesungguhnya bithanah seseorang adalah kekasih dan orang pilihannya yang memahami dan mengetahui berbagai rahasia yang dia miliki. Sahabat semisal ini tidak mungkin terwujud kecuali setelah adanya kesamaan tujuan hidup, agama dan karakter dan bersahabat karena Allah, seperti dikatakan pada shahabat: “satu jiwa dalam raga yang berbeda.” Maka jika dua orang tersebut tidak seiman maka persahabatannya tentu akan segera berantakan.” [15]

Jadi, Allah Swt. telah memberikan petunjuk kepada kaum mukmin jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu muslihat orang-orang yang zalim. Kini, tinggal kita bersikap selektif dalam memilih orang terpercaya dalam mengelola urusan yang berhubungan dengan kehormatan dan rahasia kita.


By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 164

[2]Lihat, Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, 24:269

[3]Lihat, Mufradat Alfazh Al-Qur’an, I:98

[4]Lihat, Tafsir Al-Bahr al-Madid, I:491

[5]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 164

[6]Lihat, Hasyiah As-Suyuthi ‘Ala Sunan an-Nasa’I, V: 490

[7]Lihat, Tafsir Al-Manar, IV:67

[8]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 164

[9]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 166.

[10]Ibid.

[11]HR. Ibnu Abi Hatim, Tafsir Ibnu Abi Hatim, III:147, dan Ibnu Abu Syaibah, Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, V:259, No. 25.872,.

[12]Lihat, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, VIII:339

[13]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 166

[14]Lihat, As-Sunan Al-Kubra, X:127, No. 20.196

[15]Lihat, Tafsir Al-Qasimi, II:442

Iklan

Abu Hurairah R.A: Belajar dari Sang Penuntut Ilmu

Tentu kita sudah tak asing lagi dengan nama Abu Hurairah RA. Sahabat yang satu ini paling sering kita dengar namanya ketika dikaitkan dengan periwayatan hadits. Abu Hurairah RA adalah salah seorang sahabat yang terkenal paling banyak meriwayatkan hadits. Padahal beliau hanya bersama Rasulullah SAW selama 3 tahun saja. Masya Allah. Waktu yang singkat tapi luar biasa manfaat. Bagaimana bisa? Apa rahasianya? 

Abu Hurairah RA adalah orang miskin dari suku Daus di Yaman. Beliau masuk islam ketika berumur 18 tahun setelah sampai dakwah islam ke Yaman. Setelah berumur 30 tahun, beliau memutuskan untuk pergi ke Madinah karena keinginannya yang kuat untuk belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Karena sangat miskin, Abu Hurairah tinggal di Shuffah masjid Nabawi. Shuffah adalah tempat yang disediakan bagi pendatang dari luar Madinah dengan tujuan mencari ilmu kepada Rasulullah SAW, sedangkan mereka dalam keadaan miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. 

Demi mencari ilmu kepada Rasulullah, Abu Hurairah rela menahan lapar dan dahaga. Bahkan untuk menahan lapar, beliau mengikatkan batu pada perutnya. Beliau merasa telah tertinggal jauh dari para sahabat yang lain karena baru saja ikut bersama Rasulullah, sedangkan sahabat yang lain telah bertahun-tahun bersama Rasulullah. Beliau juga merasa tidak memiliki kecerdasan yang tinggi. Inilah yang kemudian dikeluhkan sahabat Abu Hurairah kepada Rasulullah SAW. 

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hari ini menuntut ilmu tetapi esok hari sudah lupa lagi”. Inilah yang sering menjadi kendala bagi para penuntut ilmu, bahwa ilmu yang diterimanya mudah hilang ditelan lupa. Lalu apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah? Apakah putus asa karena merasa kecerdasan kurang dan mudah lupa? Ternyata tidak, beliau datang kepada Rasulullah dan meminta Rasulullah mendoakannya. Dan tidak berhenti di situ, Abu Hurairah berdoa sendiri di hadapan Rasulullah dan meminta Rasulullah meng-amin kannya. 

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. Masya Allah. Begitu gigih usaha Abu Hurairah dalam menuntut ilmu sehingga dalam 3 tahun kebersamaan beliau dengan Rasulullah SAW telah menghantarkannya menjadi salah satu yang periwayat hadits terkemuka. 

Nama besar Abu Hurairah sebagai periwayat hadits tidak mulus begitu saja. Banyak muncul perkataan-perkataan sinis dari orang-orang yang meragukan kebenaran hadits yang diriwayatkan oleh nya. 

Orang-orang meragukannya karena Abu Hurairah hanya bersama Rasulullah selama 3 tahun dan beliau bukan termasuk orang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Apakah kemudian Abu Hurairah mundur karena hujatan masyarakat? Tentu saja tidak. Abu Hurairah dengan gamblang memberi penjelasan. 

“Ketika aku bersama Nabi, maka aku tidak disibukkan dengan hal yang lain. Cukuplah ada yang bisa kumakan hari ini. Tidak seperti yang lain yang disibukkan oleh ladang dan perdagangan”. 

Luar biasa sekali. Kita tidak akan pernah berhenti mengagumi dan berterima kasih kepada sosok yang satu ini. Pembelajar sejati yang tidak berhenti atas kendala yang dihadapi. Tetapi terus maju sedikit demi sedikit mengejar ketertinggalan. Mental seperti inilah yang diperlukan bagi pembelajar saat ini. Rasanya malu karena usaha yang ditempuh tidak sebesar itu dalam mencari ilmu. Ketika menyadari diri ini terkendala ingatan dan kecerdasan pas-pas an bukankah layaknya kita meniru Abu Hurairah. Berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan. “Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. 

Dalam buku Ta’lim Muta’allim terdapat kisah syair. “Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang hafalanku yang lemah, lantas ia memberiku petunjuk agar meninggalkan maksiat”. “Hafalan adalah pemberian Allah, sedangkan pemberian Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat”. Dari sini dapat kita lihat bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan menuntut ilmu kepada Rasulullah SAW, hingga beliau tidak sempat untuk sibuk dengan ladang dan perdagangan. Apalagi sibuk dengan maksiat. Inilah salah satu pesan lagi bagi para penuntut ilmu. Hindarkanlah diri dari bermaksiat sehingga ilmu mu bisa melekat. Jadi ingat dengan sebuah tulisan dari Bunda Ely Risman tentang kerusakan otak dikarenakan terpapar pornografi. Naudzubillahi min dzalik. 

Sebuah kisah kehidupan yang banyak memberikan pelajaran. Bahwa ilmu haruslah dikejar dengan kesungguhan, keikhlasan dan tentu saja memohon pertolongan kepada Allah SWT. Semoga kita menjadi seorang penuntut ilmu seperti Abu Hurairah RA. 

“Aku tidak menangisi dunia kalian. Aku menangis karena sungguh panjang perjalananku setelah ini. Dan sungguh sedikit perbekalanku. Aku akan naik dan hanya ada surga dan neraka. Dan aku tidak tahu aku akan berada di mana” (Abu Hurairah RA)

12 Orang yang Didoakan Malaikat

Guys…. Siapa sih yang ga mau didoain?  Didoain orangtua atau temen itu hal yang istimewa. Karena doa merupakan tanda cinta, tanda kasih sayang mereka kepada kita. Dan doa itu… Sampainya langsung ke sang Pencipta.

Nah… Percaya ga kalau ada golongan-golongan yang doain Malaikat? Mau?  Simak yuk.

Berikut golongan-golongan yang didoakan oleh malaikat:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa; Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.”

(HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu sholat.

“Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya; Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.”

(HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim: 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam sholat berjamaah.
 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan.”

(HR. Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib)

4. Orang yang menyambung shaf sholat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf).

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.”

(HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan “aamiin” ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah.

“Jika seorang Imam membaca; ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian “aamiin”, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.”

(HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari: 782)

6. Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah melakukan sholat.

“Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat di mana ia melakukan sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata; Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.”

(HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al-Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan sholat subuh dan ashar secara berjama’ah.

“Para malaikat berkumpul pada saat sholat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga sholat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?”, mereka menjawab; kami datang sedangkan mereka sedang melakukan sholat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan sholat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.”

(HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al-Musnad no. 9140)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata; “aamiin” dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.”

(HR. Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim: 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.

“Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak”, dan lainnya berkata, “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil)”.

(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari: 1442 dan Shahih Muslim: 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk di saat sahur untuk puasa “sunnah”.

(HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath-Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”

(HR. Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Musnad: 754)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”

(Al-Hadits dari Abu Umamah Al-Bahily).

Semoga kita bisa mendapatkan keuntungan ini di dunia maupun di akhirat.

“Lebih Baik Dari Beri’tikaf di Masjid Nabawi…!”

Betapa tingginya fadilah dan pahala orang yang membantu permasalahan yang dihadapi sesama Muslim.

Sungguh, berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan.

Mari kita renungkan potret indah suri tauladan shahabat Abu Hurairah RA. 

Suatu hari ketika beri’tikaf di masjid Nabawi, Abu Hurairah mengetahui ada seseorang di duduk bersedih di pojok masjid. 

Abu Hurairah pun menghampirinya dan menanyakan ada apa gerangan hingga ia tampak bersedih. 

Setelah mengetahui masalah yang menimpa orang itu, Abu Hurairah pun segera menawarkan bantuan.

”Mari keluar bersamaku wahai saudara, aku akan memenuhi keperluanmu,” ajak Abu Hurairah.

“Apakah kau akan membatalkan i’tikaf demi menolongku?” tanya orang tersebut terkejut.

Ya. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda,

“Sungguh, berjalannya seseorang di antara kamu untuk memenuhi kebutuhan saudaranya, lebih baik baginya daripada i’tikaf di masjidku ini selama sebulan.”

I’tikaf bulan Ramadhan di Masjid Nabawi memiliki keutamaan yang luar biasa pahalanya. Tapi ternyata membantu menyelesaikan permasalahan sesama muslim lebih utama daripada i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Semoga nasihat ini menjadi spirit bagi kita dalam melayani umat. 

Semoga dengan menjiwai sabda Rasulullah SAW dan keteladanan Abu Hurairah RA tersebut, langkah kita menjadi ringan di jalan Allah, seiring keikhlasan jiwa-jiwa yang memiliki keterpanggilan untuk berkontribusi menyelesaikan problem saudara sesama Muslim.

Berbahagialah wahai insan yang memiliki jiwa, semangat dan karakter “nafi’un li ghairihi” (bermanfaat bagi orang lain).

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain” 

(HR. Ahmad, Thabrani, Ad-Daruqutni).

[@salimafillah]: Menikmati Rizqi

Makanan lezat dapat diburu, hidangan mahal dapat dibeli. Untuk menikmati racikan seorang Chef Bintang Lima Michelin di Kota Paris, kita harus mengajukan reservasi jauh-jauh hari, dengan uang pangkal yang cukup untuk biaya hidup di Yogyakarta selama berbulan tanpa ngeri.

Tapi nikmatnya makan adalah rizqi, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang bapak di Gunung Kidul yang mencangkul sejak pukul 07.00 pagi, di jam 10.30 didatangi sang istri. Sebuah bakul tergendong di punggungnya, dengan isi amat bersahaja. Nasi ketan bertabur parutan kelapa. Sementara cereknya berisi teh panas, wangi, sepet, kenthel, dan legi.

Peluh dan lelah menggenapkan rasa nikmat di tiap suapan sang belahan jiwa. Senyum mereka tak terbeli oleh berapapun harga.

Ranjang paling empuk dapat dibeli. Kamar tidur paling mewah dapat dirancang. Hotel berlayanan bintang tujuh, Burj Al ‘Arab di Dubai dapat menyediakan ruang rehat dengan sewa semalam seharga membangun rumah di negeri kita.

Tapi nikmatnya tidur adalah rizqi. Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang anak pemulung berbantal kayu, beralas kardus, berselimut koran terlelap di atas gerobak orangtuanya pada suatu malam di Jakarta. Begitu nyenyak sampai susah untuk membangunkannya.

Gaji yang tinggi dapat dikejar dengan karir cemerlang. Uang yang banyak dapat dikumpulkan dengan memeras keringat hingga kering dan membanting tulang hingga linu. Tapi rizqi adalah soal menikmati, Allah Yang Maha Memberi lagi Membagi.

Seorang direktur sebuah BUMN bergaji besar yang duduk di samping saya dalam penerbangan kelas bisnis hanya memandang cemburu ketika sajian saya nikmati. Saya bertanya mengapa hanya air putih saja yang diteguknya, digenggam erat dalam gelas kaca.

Sungguh berat bagi beliau; mau makan manis, kata dokter, “Jangan Pak, diabetesnya.” Mau makan gurih, kata dokter, “Jangan Pak, kolesterolnya.” Mau makan asin, kata dokter, “Jangan Pak, hipertensinya.” Mau makan kacang, kata dokter, “Jangan Pak, asam uratnya.”

Ah saya membayangkan, berapakah yang dinikmati manusia dari apa yang dia sangka miliknya dan ditumpuk-tumpuk dan dihitung jumlahnya. Sekira 1000 triliun ada di rekeningnya, lalu esok pagi tiba malaikat maut menunaikan tugasnya, rizqi siapakah itu sebenarnya? Ahli waris atau bahkan musuh bisnis, Allah tak kekurangan cara untuk mengantarnya pada yang sudah dijatahkan tertulis di sisiNya.

Betapa benar Al Mushthafa ﷺ ketika bersabda, “Anak Adam berkata, ‘Hartaku! Hartaku!’ Padahal apalah hartanya itu selain makanan yang dilahapnya hingga habis, pakaian yang dipakainya hingga usang, dan apa yang dinafkahkannya di jalan Allah lalu dia dapati Allah membalasnya berlipat di akhirat.”

Rizqi adalah jaminan. Menjemputnya adalah ujian. Bekerja adalah ibadah kita; ‘itqan, ihsan, ikhlas; bukan mencari rizqi, tapi mencari pahala. Sebab kita harus memindahkan kekhawatiran, dari yang dijamin kepada yang belum dijamin. 

Yakni; akankah pulang kita ke surga?

Adab Berbicara dan Komunikasi 

Morning good people 🏃🏻🚶🏻Semangat Rabu Produktif!
Check this out👇👇
💡 Adab-adab dalam Berbicara dan Berkomunikasi 
“Dan bertuturlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.” (QS. al-Baqorah: 83)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
🌷 Berbicara dan berkomunikasi adalah kebutuhan setiap insan. 

🌷 Karena itu, bicara dan komunikasi yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman akan membawa dampak positif serta mendatangkan beragam kebaikan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.
✨ Membatasi diri untuk berkata yang baik adalah diantara tanda kesempurnaan iman seseorang ✨
✍ Adab-adab yang harus diperhatikan
• Merendahkan suara saat berbicara

• Berbicara dengan kata-kata yang baik, bermanfaat dan sopan

• Mendengarkan dan tidak memotong pembicaraan orang lain

• Berbicara jika mengandung kebaikan

• Tidak berdusta dalam berbicara

_______ Nabi bersabda, “Kecelakaan bagi orang yang berbicara lalu ia berdusta agar manusia tertawa karenanya, kecelakaan baginya , kecelakaan baginya.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

• Memulai dengan salam sebelum berbicara
👑 “Seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu sangat berharga di sisi Allah. Seseorang mengucapkan satu kata yang dibenci Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu menyebabkan masuk neraka.” (HR. Bukhari)
Semangat Fastabiqul Khairat!

✨ Semoga apa-apa yang keluar dari lisan kita adalah perkataan yang mendatangkan manfaat 

💬 Sambut Ramadhan, 40 hari lagi…

So, perbanyak Tilawah Al Quran dan jangan lupa Shalat Dhuha 😉
اللهم باركلنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان

Aamiin…
#AyoLebihBaik

#SambutRamadhan

#40DaysLeft
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Bengkel Ruhiyah

Bidang Kaderisasi

GK Wilda Sumatera

[Hikmah]: Kisah Tukang Sol Sepatu dari Damaskus

Ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini.

Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka :
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun”

Percakapan ini membuat Abdullah gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”

Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah tukang sol sepatu di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”

Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun, Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.

Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namanya Sa’id bin Muhafah.

“Ada, di tepi kota” Jawab salah seorang tukang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya. Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh,

“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, “bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”

Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya ia pun men ceritakan perihal mimpinya.

“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini.
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika. Labbaika la syarika laka labbaika. Innal hamda wanni’mata laka wal mulka. laa syarika
laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu. Tiada sekutu bagiMu. Segala ni’mat dan puji adalah kepunyaanMu dan kekuasaanMu. Tiada sekutu bagiMu.

Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah. Ya Allah aku rindu melihat kabah. Ijinkan aku datang…..Ijinkan aku datang ya Allah..

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya, sebagai tukang sol sepatu.
Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.

“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Istri saya hamil, dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ya sayang” “Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”

“Ustadz, saya pun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari gubug yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya.

Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan :
“tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata.

Akhirnya saya tanya kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.

Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim?

Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.

“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram”.

Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang. Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun
menangis, kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.

“Ini masakan untuk mu”
Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.
”Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku
Ya Allah……… disinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak
tak bisa menahan air mata.

( buat yg akan naik haji …. atau yg sdh berhaji…. )

Saudaraku ………………Ingat … 
Ada dua yang tidak kekal dalam diri manusia ! Yakni : Masa Muda dan Kekuatan Fisiknya.
Jangan Lupa … Ada dua juga yang akan bermanfaat bagi semua orang ! Yakni : Budi Pekerti yang luhur serta Jiwa yang ikhlas memaafkan.

Perhatikan .. Ada dua pula yang akan mengangkat derajat kemulian manusia ! Yakni : Rendah hati dan suka meringankan beban hidup orang lain.
Dan ada dua yang akan menolak datangnya bencana ! Yakni : Sedekah serta menjalin hubungan silaturrahim. Semoga kita menjadi orang orang yang dimuliakan Allah swt aamiin..

Teruntuk guru kami: anis matta dan fahri hamzah

Sekilas membaca ini…

“Celakalah hamba dinar (uang besar), dan celakalah hamba dirham (uang receh), dan hamba pakaian (mode), jika mereka diberi mereka merasa senang dan jika tidak diberi maka mereka marah.

Dan berbahagialah seorang hamba yang senantiasa memegang kendali kudanya di jalan ALLAAH, rambutnya telah kusut dan telapak kakinya telah penuh dengan debu.

Jika ia ditugaskan di garis depan (menjadi qiyadah, atau tokoh, atau tampil di forum) maka ia lakukan dengan sungguh-sungguh dan jika ia ditugaskan di garis belakang (menjadi jundi, tidak diberi jabatan publik) ia juga lakukan dengan sungguh-sungguh.

Padahal jika ia meminta izin maka tidak diterima dan jika ia meminta bantuan tidak ada yang membantu.”

[HR Bukhari, bab Al-Hirasah Fil Ghazwi Fi SabiliLLAAH, X/11 no.2673; dan Muslim, bab Fadhlul Jihad war Rabthu, IX/476 no. 3503]

Teringat ketika panglima khalid bin walid sang singa padang pasir tetap ganas dengan semangat membara melawan kaum kafir, meski ditugaskan hanya sebagai prajurit biasa.

Dan pada konteks saat tulisan ini dibuat, sosok anis matta dan fahri hamzah dengan legowo dan ketsiqohan (kepercayaan) yg tinggi kepada pemimpin.. Ikut menjadi prajurit dalam gerbong perubahan.

Dimanapun ditempatkan dan apapun amanah yang dititipkan…

Ujian akan kelurusan niat dan keikhlasan bergerak akan semakin menghempas

Tetaplah ikhlas menjalankan amanah…

Tetaplah konsisten dalam meyakini kebenaran…

Tetaplah bergerak untuk kebaikan…

Untuk perubahan dan cinta…

– catatan penting bagi para pejuang muda pecinta kebenaran-

Gundah? Semoga hal ini menjadi obat

Kisah luar biasa.
(Copas dg terjemahan kiriman ust.Kholdun dosen LIPIA)

Dahsyatnya

لا حول ولا قوة إلا بالله

‘Auf bin Malik Al-Asyja’i pergi menemui Rosulullah saw. Dan berkata :

Ya Rosulullah sesungguhnya anakku  Malik pergi bersamamu berperang di jalan Allah dan ia blm pulang, apa yg harus saya perbuat?
Padahal seluruh pasukan sdh pulang.

Rosulullah saw bersabda :

Ya ‘Auf perbanyaklah kamu dan istrimu mengucapkan

لا حول ولا قوة إلا بالله

Auf pulang ke rmh dan istrinya sendiri menanti anaknya yg blm datang.
melihat suaminya datang istrinya bertanya :

Wahai ‘Auf apa yg diberikan Rosulullah saw ?

Auf menjawab : beliau mewasiatkan utk ku dan kamu juga agar kita banyak mengucapkan

لا حول ولا قوة إلا بالله

Apa jawaban istri yg sholehah dan sabar  ini ?

Ya sungguh benar Rosulullah saw.

Akhirnya mereka berdua duduk terus berdzikir dg

لا حول ولا قوة إلا بالله

Sampai  saat malam yg gelap tiba, seketika ada yg mengetuk pintu, dan Auf berdiri membuka pintu, ternyata  yg datang adalah anaknya Malik  membawa banyak sekali domba  sbgai gonimah.

maka Auf bertanya : apa ini?

Malik menjawab:

Sesungguhnya musuh menangkapku dan mengikatku dg rantai besi dan mengikat dua kakiku, maka ketika malam tiba saya berusaha keras utk kabur tp tidak bisa, karena kuatnya ikatan dikedua tangan dan kaki,

Tiba-tiba ikatan borgol yg dari besi perlahan-lahan longgar sehingga ikatan dikedua tangan dan kaki bisa lepas.

Maka saya bisa  datang sekarang dg kambing2 orang Musyrikin ini.

Maka Auf berkata : wahai ananda bukankah  jarak antara musuh dan kita jauh sekali?
Bagaimana kamu bisa datang dalam waktu satu malam?

Malik jawab: wahai ayahanda, demi Allah ketika ikatan itu lepas saya merasa ada Malaikat yang membawa saya.

Subhanallahal ‘adzim

Maka Auf mendatangi Rosulullah saw utk memberi kabar beliau.

Tapi sebelum Auf memberi kabar beliau.

Rosulullah saw mengatakan kepada Auf : wahai Auf bergembiralah bahwa Allah swt menurunkan  ayatnya tentang urusanmu:

ومن يتق الله يجعل له مخرجا
ويرزقه من حيث لا يحتسب ومن يتوكل على الله فهو حسبه إن الله بالغ أمره قد جعل الله لكل شيئ قدرا

Ketahuilah sesungguhnya

لا حولا ولا قوة إلا بالله

Adalah harta terpendam  dibawah singgasana ‘Arsy Ar-Rahman.

Ia adalah obat bagi 99 penyakit, yg paling ringan adalah penyakit gundah.

Subhanallah..
Saudara2ku..
Jika antum mau share niatkanlah dg baik mudah2an bisa jadi obat bagi masalah antum dan kita semua.

Refleksi Cinta

image

‏تفقّد كمائن نفسك!

“حبّك الشيء يعمي ويصم،

Kecintaan mu kpd sesuatu membuat mu Buta dan Bisu..

والإنسان مجبول على محبة نفسه،
Manusia Tertipu dgn kecintaanya kpd dirinya sendiri
فهو لايرى إلا محاسنها،
Dia tdk melihat kecuali kelebihan yg ada pada dirinya..
.ومبغض لخصمه فلا يرى إلا مساوئه”
Sehingga membenci musuh nya, maka dia tdk melihat darinya kecuali keburukan keburukanya

ابن تيمية
Ibnu taimiyah

—-

Begitu dalamnya makna cinta (Al Mahabah) sampai-sampai ada yang mengeluarkan pendapat tentang makna cinta,” Hati yang buta untuk melihat selain orang yang dicinta, tuli untuk mendengar selain yang dicinta”. Seperti yang dinyatakan dalam sebuah hadits:

“Kecintaanmu terhadap sesuatu bisa membuat buta dan tuli”

(HR. Ahmad).

Cinta datang tak terduga tanpa ada rencana ataupun cita-cita, datang secara tiba-tiba. Tidak ada kekuatan selain-NYA yang dapat menolaknya. Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah –rahimahullah- menjelaskan bahwa “cinta datang tanpa ada inisiatif’. Ibnu Hazm –rahimahullah- juga mengatakan “ada seorang pemuda bertanya kepada Umar bin Khaththab –radhiyallah anhu- “wahai Amirul Mu’minin sesungguhnya saya melihat seorang wanita, lalu saya jatuh cinta padanya. Umar –radhiyallah anhu- berkata “itu adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung”.

Al Qadhy Abu Umar An Nuqany dalam Minhatuzh Zhahraf berkata, “Cinta itu menyusup secara kebetulan dan merupakan ketetapan yang tak bisa diganggu gugat. Seseorang tidak tercela karena jatuh cinta karena sesuatu yang diluar kesanggupannya dan itu sudah ditakdirkan atas dirinya”.

Kami bawa kalian kepada satu orang yang menyamai beribu ulama yaitu Syaikhul Islam- Ibnu Taimiyah –rahimahullah- “apakah pendapatmu wahai pemimpin para fuqaha’ tentang orang yang dimabuk cinta?” 

Beliau menjawab, “Orang yang dimabuk cinta itu ada tiga taraf, permulaan, pertengahan dan puncaknya. Pada jenjang permulaan dia harus menyembunyikan cintanya tidak perlu memberitahukan kepada orang lain, tentu dia harus memperhatikan batas-batas yang dibolehkan. Pada jenjang pertengahan apabila cintanya bertambah membara, tidak ada salahnya dia menyatakan cintanya pada orang yang dicinta. Jika cintanya bertambah membara (puncaknya) dan dia telah keluar dari batas yang dibolehkan, berarti dia termasuk orang gila dan terbujuk rayuan syetan.

(Disarikan dari Kitab: Ar Raudhah Al Muhibin wa Nuzhah Al Musytaqin, Ibnu Qayyim Al Jauziyah)

Menurut Imam Ibnu Jauzi, cinta adalah kecondongan jiwa yang sangat kuat kepada satu bentuk yang sesuai dengan tabiatnya, maka jika pemikiran jiwa itu kuat mengarah kesana, ia akan selalu mengharapkannya. Oleh karena itu pula, biasanya penyakit baru akan selalu muncul bagi orang yang sedang jatuh cinta. (Dzammul Hawa karya Imam Ibnu Jauzi)

Imam Muhammad Ibnu Daud berkata, “Kami telah menuturkan beberapa pendapat penyair mengenai cinta bahwa cinta pada mulanya terjadi dari penglihatan dan pendengaran. Kemudian bila Allah menghendaki kita dibuat untuk dapat selalu mengingat-ingat apa yang mungkin diakibatkan oleh pendengaran dan penglihatan. Lantas kenapa bisa terjadi cinta dan bagaimana? Bagi orang awam keberadaan cinta tidak terlalu menjadi perhatian mereka, sedangkan bagi orang-orang yang ahli mereka selalu mempertanyakan sebab-musababnya.”

Seorang penyair berkata:

Aku membawa segunung cinta untukmu

Sedang aku sesungguhnya tidak mampu membawa jubah dan aku begitu lemah

Cinta bukanlah bagian dari kebaikan dan tenggang rasa

Akan tetapi cinta adalah sesuatu yang karenanya jiwa terbebani dengan beban yang berat.

(Az Zahrah karya Imam Muhammad bin Daud Azh-Zhahiri (296 H))