[Review]: Kwetiau Jamur ala Mie Pangsit Siantar; Dobel Jamurnya Dobel Porsinya

  
Bingung ga baca judulnya? Ini mau review kwetiau apa mie pangsit sih? 😀 kalo bingung, silahkan pegangan dulu deh 

Review kali ini akan dibahas salah satu tempat makan mie yang cukup ternama di kota Bengkulu. Nama tempat makannya adalah “Mie Pangsit Siantar”. Lokasinya cukup strategis karena berada di pinggir jalan raya, tepatnya sebelum simpang empat Pagar Dewa. Dari pusat kota hanya butuh waktu sekitar 30 menit jika ingin mencicipi kuliner satu ini. 

 

 

Disini, hidangan yang ditawarkan cukup beragam. Yang menjadi favorit pastinya Mie Pangsitnya, makanya tempat makan ini dikasih nama Mie Pangsit Siantar. Dengan harga hanya Rp. 13.000 untuk satu mangkuk Mie, wajar kalau kalau Mie Pangsit enak ini menjadi buruan para pembeli.

Selain mie, disini kita juga bisa makan “berat” loh guys. Menu-menu seperti udang, ayam, ikan, capcay, kangkung, dan teman-temannya ada juga disini. Minumannya juga standar, ada jus, teh, minuman botol yaaa gitu deh.

Kali ini, saya tertarik mencicipi kwetiau nih. Menu kwetiaunya ada kwetiau kuah, goreng, kwetiau pangsit, kwetiau jamur, tapi sayangnya ga ada kwetiau seafood. Jatuhlah pilihan sama kwetiau jamur. Oke… Pesanan sedang di proses, kita minum teh dulu sembari ngobrol.

Tehnya pake teh melati, cuma gulanya agak banyak. Kalo temen-temen kesini, jangan lupa bilang tehnya jangan terlalu manis ya. Pesanan dateng nih… Eh ternyata mie pangsit pesanan temen wkwkwk. Lumayan lama nunggu kwetiauw jamurnya dimasak. Padahal mie pangsit temen aku udah mau habis loh 😆 

Berpikir positif aja kalo kwetiau jamurnya spesial, karena nunggunya aja sekitar 15 menit lah. Eng ing eng… Si mbak pelayan senyum-senyum ga keenakan nganterin pesanan, mungkin dia tau kelamaan masaknya haaaa. Lets eat… Itadakimasu 🍜

Wihhh ternyata porsinya double man, JUMBO haaa… Untuk dimakan tiga orang juga bisa nih satu mangkok 😄

Kwetiau nya terendam sama kuah pekat nan kental berwarna coklat gelap dan segala isian kwetiaunya. Prediksi awal sih kwetiau jamurnya pake jamur Tiram, secara di Bengkulu banyak yang usaha jamur Tiram. Pas diliat, wih jamurnya double dan bukan tiram. Jamur yang dipake di kwetiau ini adalah jamur Shitake dan jamur Merang.
  

Duo jamur ini ga sendirian, mereka ditemani juga dengan irisan daging ayam, bakso ikan, udang satu ekor dan sawi manis. Yang jadi kejutan dalam hidangan ini adalah irisan kecil cabe rawit yang cukup membuat kaget ketika kita makan 👅

Kwetiau nya sendiri ga bgitu banyak, irisannya ga begitu lebar dan ga bgitu tebal. Teksturnya lembut, malahan lebih lembut dari kwetiau yang biasa dimakan. Tinggal seruput terus nyes ditenggorokan. Selera saya sih, lebih suka kwetiau yang agak kenyal sedikit biar ada sensasi tersendiri pas menguyah.

Soal rasa kuahnya… Enak. Pas gitu rasanya. Pengaruh “duo jamur” juga makin menegaskan rasa sedap pada kuah kwetiau. Dalam dunia kuliner, jamur dikenal sebagai salah satu penguat rasa alami pada makanan. Sekarang pun banyak dijual bubuk penyedap yang terbuat dari jamur. Bubuk ini dapat digunakan sebagai alternatif alami pengganti MSG yang biasa dipakai di masyarakat. Kapan-kapan saya bahas ya di blog ini. Keep reading aja pokoknya 😁

Finally, jika ingin mencicipi mie atau kwetiau yang enak di Bengkulu… Mie Pangsit Siantar saya rekomendasikan menjadi salah satu tempat untuk dikunjungi. Lokasi strategis, harga terjangkau, tempat makannya juga lumayan nyaman seperti kedai makan biasanya. Yang paling utama… Rasanya nendang guys.

Tetap hidup sehat supaya bisa icip-icip 😉

~ Reviewed by: @reni_triasari~

Iklan

Cepu-Kudus 07092012: Robotika (3)

Alhamdulillah… sejenak memejamkan mata, langsung disambut oleh gapura besar dengan tulisan “Selamat Datang di Kudus-Kota Kretek” *tebar bunga* ha… @kinalJKT48 kaliii…. [maaf, wota-nya keluar].  Setelah gapura itu berlalu, kamipun disuguhi dengan bangunan beberapa pabrik rokok merek ternama di Indonesia.

Ada satu bangunan tua di pojokan lampu merah yang menarik perhatianku (sayang lupa difoto), yaitu bangunan dengan tulisan “Djamboe Bol” dan gambar jambu bol yang sangat akrab di mataku dari saat aku masih bocah. Mungkin bisa kali ya dibuat kisah bocah penjual rokok halahhh… #gagalfokus.

Melewati jalan di Kudus sepintas jika dibandingkan dengan Blora tadi, kota ini terlihat lebih besar, kondisi perekonomian masyarakatnya lebih hidup, infrastrukturnya lebih tertata dan lebih modern. Pukul 07.50 WIB kami tiba di Alun-alun kota Kudus. Seperti Alun-alun di Jawa pada umumnya, ada mesjid, pusat pemerintahan, dan ditengahnya ada lapangan besar tempat orang berkumpul.

“Tempat acarane dimana mbak?”, tegas pak sopir. Setelah itu terdengar suara “tuk…”, seperti suara sesuatu yang terantuk pikirku. Ternyata ketegasan suara pak sopir membangunkan temanku asal Kebumen dari tidur panjangnya hii…. Semoga gak benjol dia XD

“ Jadi keinget balada mahasiswa UNSRI layo yang entah berapa kali kepala para mahasiswa sering terantuk jendela (termasuk aku) selama duduk satu jam di bis mahasiswa. Untung selama ini belum pernah kudengar catatan medis bahwa ada mahasiswa UNSRI yang kepalanya bocor gara-gara terantuk ke jendela kikikk…kikikk…. Pantesan wong Palembang terkenal keras kepala kali ya ha… ups… SARA gak yaa???  *kasi tau ga ya???*”

Setelah terbangun, temanku bilang, “Sempet ya pak kita sarapan dulu?”. “Ya boleh”, kata si bapak. Ya iyalah… hanya orang (beriman) puasa yang nolak diajak makan. Berhentilah mobil kami didepan KFC Alun-alun dengan bahagia. Setelah turun dari mobil, akupun langsung memesan sarapan. “Pak, bubur ayamnya 3 mangkok sama teh anget manis ya. Makan ditempat”. Lo kok berhenti di KFC bukannya mesen ayam malah mesen bubur?? Ye…pada protes, kami kan makan bubur ayam gerobak yang lokasinya tepat… sekali di dekat pintu masuk KFC ha… Strategi tukang buburnya berhasil, #gagalfokus ke KFC malah beralih ke buryam pinggir jalan. Hidup pedagang Indonesia !! *semangat48* [maaf, wota-nya keluar].

Menimati sarapan Bubur Ayam di sebelah timur Alun-alun Kota Kudus, Jawa Tengah (07/09)

Rasa bubur ayamnya lumayan enak, pake kacang kedelai, kerupuk, bawang goreng, suwiran ayam dan  cakwe. Bisa dijadikan alternatif sarapan jalanan kalau mampir ke Kudus, selain tempatnya yang pas di timur alun-alun, tempat nongkrongnya jg dekat dengan pos polisi, jadi relatif aman. Apa coba…  Tetapi kalau menurutku sih viskositas buburnya terlalu kental, sehingga agak mengurangi kesegaran kuah ayamnya yang berwarna kuning. Kalo ini serius, karena dulu sempat mengenyam kuliah di Teknologi Hasil Pertanian dan konsen di bagian kualitas dan gizi bahan pangan.

Strategi penjual yang sukses dengan berjualan di depan KFC Alun-alun Kudus, Jawa Tengah (07/09)

Setelah meneguk tetes terakhir teh wangi khas Kudus, kamipun melanjutkan pencarian ke tempat acara pelatihan. Pencarian?? Ya, betul. Karena sejujurnya kami tidak tahu dimana persisnya lokasi SDIT Al-Islam Kudus yang menjadi tuan rumah perhelatan pelatihan Robotika tersebut. Informasi yang didapat, hanya: ada di dekat Alun-alun. Selebihnya, sesuai feeling dan kreatifitas Anda ha…

Setelah bertanya ke 3 toko dan satu orang yang sedang berfoto di depan kantor walikota Kudus, akhirnya kami menemukan tempat acara tersebut. Sebenarnya sih tidak terlalu dekat dengan alun-alun, tapi lumayanlah untuk dijadikan titik acuan awal pencarian. Pukul 08.05 WIB kami menginjakkan kaki di SDIT Al-Islam Kudus dan langsung disambut dengan hangat oleh pihak keamanan sekolah. Dengan seragam hitam dan suara berwibawa mereka bertanya, “Peserta Pelatihan Robotika bu??”. Ya ujar kami serempak *sok kompak*. “Silahkan ke ruangan sebelah sini bu”, antar mereka dengan sopan… [bersambung]

Lontong Opor Kapuan

Lontong Opor Kapuan

Wah…ngeliat gambar sajian yang satu ini memang bisa membuat air liur kita berproduksi. Ukuran lontong yang besar, kuah opor yang berlinang, cabe rawit segar, serta ayam kampung beserta jerohan nya benar-benar bisa membuat kita tidak tahan untuk segera melahapnya. Jika kawan-kawan ada yang sedang mampir di kota Cepu, Blora, Jawa Tengah, tidak ada salahnya menyantap kuliner khas satu ini

Lontong Opor Kapuan namanya. Eitts…jangan buru-buru baca doa untuk menyantap kuliner khas Cepu satu ini. Ibarat kata pepatah bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, begitulah kurang lebih pengorbanan yang kita lakukan untuk mendapatkan kentalnya kuah opor ini. Pengorbanannya seperti:

#1. Jarak yang lumayan jauh untuk mencapai lokasi tempat makan.

Jika ditempuh dari pusat kota Cepu (daerah pasar), waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 40 menit menggunakan kendaraan roda dua dengan kecepatan speedometer rata-rata 60 km/jam.

#2. Terik matahari

Bisa dikatakan untuk menuju tempat makan ini kanan-kiri nya berupa hamparan sawah. Otomatis, panas adalah teman kita selama dalam perjalanan. Tapi hijaunya sawah bisa menjadi penghipur lara dari padatnya aktifitas kita selama bekerja. Di beberapa titik juga ada sedikit jalanan yang rusak.

#3. Rela antri

Jangan heran jika sesampainya ditempat makan, ternyata tempatnya hanya warung kecil nan sederhana. Tetapi lihat kendaraan yang parkir disana. Wah banyak sekali mobil-mobil yang berasal dari luar kota hanya untuk mencicipi kuliner khas Kapuan, Cepu ini. Sedangkan didalam warung tersebut hanya tersedia kurang lebih 8 meja panjang dengan kursi panjang di kanan-kirinya. Hayooo…otomatis harus antri kan ya??

Malahan waktu itu pernah warung tersebut kedatangan satu kompi tentara yang baru habis selesai latihan. Wahh…bisa dibayangin kan ya gimana kondisi warung kecil itu?? Ha.. sampe sang bendahara mereka rela menghabiskan uang sekitar 1,5 juta demi melahap sajian istimewa khas Kapuan Cepu ini.

Ada tiga tips yang bisa dipraktekkan demi kenyamanan kita sebagai pelanggan:

#1. SMS atau telepon pihak warung makan sekitar jam 9 pagi

Agar tidak kehabisan stok lontong opor, disarankan menelepon atau sms terlebih dahulu ke warung ini. Ngubunginnya sepagi mungkin, soalnya orang-orang yang akan makan disini biasanya melakukan sistem booking sama dengan kita.

#2. Datang lebih awal atau akhir

Pukul 11 mungkin waktu yang ideal untuk berada di tempat ini. Supaya kita gak harus nunggu orang lain selesai makan he… atau sekalian datang jam 13.30. Tapi konfirmasi dulu sama pihak Kapuan agar pesanan kita gak diganggu gugat sama pelanggan lain.

#3. Naik Kendaraan Roda Dua lebih oke

Kenapa lebih disarankan naik roda dua? Karena lokasinya di pinggir jalan, otomatis tempat parkir menjadi alasan tersendiri bagi pelanggan. Untuk markir motor aja terbatas jumlahnya. Lebar jalan yang kecil juga menjadi alasan mengapa lebih disarankan naik kendaraan roda dua.

Oke, sekian dan terimakasih. Semoga kawan2 bisa menikmati juga sensasi lontong kapuan dan alam yang menghijau di sekitarnya. Pokoke ndesooo tenan 🙂