Tujuan Pernikahan

Takkan pernah kita berjumpa dengan Muslimah sempurna, sama seperti mustahil kita menemukan Muslim yang tanpa cela. Karenanya dalam menikah, itu tak disyaratkan

Menikah bukan berarti menyatukan dua insan yang tak pernah bersalah, menerima bahwa mereka sama-sama punya kurang, tapi keduanya sadar bahwa tujuannya sama

Asal keduanya menuju pada tujuan yang satu, maka takkan terlepas ikatannya, kekurangan bisa ditutupi, kelebihan bisa ditambahkan. Semua bisa dihadapi

Bila yang satu lelah, yang lain membopong, bila yang satu gontai yang lain menyemangati, yang satu gundah yang lain menenangkan, berdua bersama berjalan

Itulah rumah tangga, sama seperti perjalanan. Banyak orang ingin lekas sampai pada tujuan, mereka lupa bahwa indahnya itu justru di perjalanannya, bukan tujuannya

Mengapa banyak rumah tangga kandas di jalan? Sebab jalan mereka tak satu tujuan, bila sudah begitu, bergandengan jadi menyusahkan, apapun akan jadi masalah

Sesempurna apapun, bila sudah beda jalan, akan jadi masalah, sedekat apapun bila sudah berbeda jalan, pasti akan berpisah. Maka tujuannya yang harus sempurna

Bila tujuannya sempurna, maka perjalanan jadi punya makna, teman dalam perjalanan jadi bernilai, senantiasa dihargai, itulah rumah tangga, dimana menikah jadi ibadah

Bila yang satu di depan menanti, bila dia di belakang maka dia menjaga, bila dia disamping maka dia menemani, bila dibawah mendukung bila diatas memayungi

Dan tak ada tujuan lebih baik selain menjadikan pernikahan itu layaknya ibadah. Diawali dengan basmalah, diakhiri dengan hamdalah.

-Ustadz Felix Siauw-

Iklan

Selektif dalam Memilih Orang Terpercaya

Allah Swt. berfirman:

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” QS. Ali Imran:118

Intisari Ayat

‎يَقُول تَبَارَكَ وَتَعَالَى نَاهِيًا عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ عَنْ اِتِّخَاذِ الْمُنَافِقِيْنَ بِطَانَةً أَيْ يُطْلِعُوْنَهُمْ عَلَى سَرَائِرهِمْ وَمَا يُضْمِرُونَهُ لِأَعْدَائِهِمْ وَالْمُنَافِقُوْنَ بِجُهْدِهِمْ وَطَاقَتِهِمْ لَا يَأْلُوْنَ الْمُؤْمِنِينَ خَبَالًا أَيْ يَسْعَوْنَ فِي مُخَالَفَتِهِمْ وَمَا يَضُرُّهُمْ بِكُلِّ مُمْكِنٍ وَبِمَا يَسْتَطِيْعُوْنَ مِنَ الْمَكْرِ وَالْخَدِيْعَةِ وَيَوَدُّوْنَ مَا يَعْنَتُ الْمُؤْمِنِيْنَ وَيُحْرِجُهُمْ وَيَشُقُّ عَلَيْهِمْ

“Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman seraya melarang hamba-hamba-Nya yang mukmin menjadikan orang-orang munafik sebagai teman kepercayaan, yaitu menceritakan kepada mereka semua rahasia kaum mukmin dan semua rencana yang dipersiapkan kaum mukmin terhadap musuh-musuhnya. Orang-orang munafik akan berusaha dengan sekuat tenaga dan kemampuan mereka tanpa henti-hentinya untuk menimbulkan mudarat terhadap kaum mukmin, yaitu orang-orang munafik akan terus berupaya menentang kaum mukmin dan menimpakan mudarat terhadap mereka dengan segala cara yang mereka dapat dan dengan memakai tipu daya serta kepalsuan yang mampu mereka kerjakan. Mereka suka dengan semua hal yang mencelakakan kaum mukmin, gemar pula melukai kaum mukmin serta menyukai hal-hal yang memberatkan kaum mukmin.” [1]

Tafsir Kosa Kata (Mufradat): Bithanah

Menurut Imam Al-‘Ainiy, kata bithanah (البطانة) bermakna:

‎الصَّاحِبُ الْوَلِيْجَةُ وَالدَّخِيْلُ وَالْمُطَّلِعُ عَلَى السَّرِيْرَةِ

“Sahabat karib, yang masuk lebih dalam dan mengetahui rahasia.” [2]

Kata ini pada asalnya digunakan untuk baju, dalam arti lapisan atau bagian dalam pakaian (بِطانَةُ الثَوْبِ). Kemudian kata ini dipinjam untuk menunjuk makna keluarga atau orang kepercayaan. Demikian penjelasan pakar Bahasa Arab dan Tafsir, Imam Ar-Raghib Al-Asfahani. [3]

Dalam redaksi Imam Syekh Ahmad Asy-Syadziliy:

‎وَسُمِّيَتْ بِطَانَةٌ تَشْبِيْهاً لَهَا بِالثَّوْبِ الَّذِيْ يَلِيْ بَطْنَهُ

“(Teman dekat) dinamakan bithanah karena diserupakan dengan lapisan atau bagian dalam pakaian.” [4]

Keluarga atau orang kepercayaan disebut bithanah (البطانة) karena orang itu mengetahui rahasia pribadi orang yang mempercayainya. Sehubungan dengan itu, para ulama menjelaskan makna kata ini sebagai berikut:

Menurut Imam Ibnu Katsir:

‎بِطَانَةُ الرَّجُلِ هُمْ خَاصَّةُ أَهْلِهِ الَّذِيْنَ يَطَّلِعُوْنَ عَلَى دَاخِلِ أَمْرِهِ

“Bitanah seseorang adalah keluarga atau orang terdekat (kepercayan) yang mengetahui semua rahasia pribadinya.” [5]

Dalam pandangan Imam As-Suyuthi:

‎بِطَانَةُ الرَّجُلِ صَاحِبُ سِرِّهِ وَدَاخِلِ أَمْرِهِ الَّذِي يُشَاوِرهُ فِي أَحْوَالِهِ

“Bitanah seseorang adalah orang yang memegang rahasia dan masuk pada urusannya, yaitu orang yang diajak bermusyarah dalam berbagai hal.” [6]

Syekh Muhammad Rasyid Ridha menjelaskan:

‎بِطَانَةُ الرَّجُلِ وَلِيجَتُهُ وَخَاصَّتُهُ الَّذِينَ يَسْتَبْطِنُونَ أَمْرَهُ وَيَتَوَلَّوْنَ سِرَّهُ

“Bitanah seseorang adalah sahabat karib dan orang terdekatnya, yang mengetahui hakekat urusannya dan menguasai rahasianya.” [7]

Tafsir Hukum: Bithanah Teoritis & Praktis

Dari berbagai penjelasan ulama tentang makna Bithanah di atas kita dapat memahami bahwa firman Allah Swt.:

‎{لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ}

“Janganlah kalian ambil menjadi teman kepercayaan kalian orang-orang yang di luar kalangan kalian.” (QS. Ali Imran: 118) mengandung larang bagi orang Islam mengangkat orang yang tidak seagama alias kafir atau orang munafik sebagai teman dekat, orang terpercaya, atau pemimpin yang untuk mengelola urusan dan rahasia pribadi serta masyarakat muslim. Karena kalimat “min duunikum”, menurut Imam Ibnu Katsir bermakna:

‎أَيْ مِنْ غَيْرِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْأَدْيَانِ

“Yakni selain dari kalangan kalian yang tidak seagama.” [8]

Adapun praktik Umar diterangkan dalam riwayat berikut:

‎عَنْ أَبِي دُهْقَانَةَ، قَالَ: قِيلَ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ: أَنَّ هَاهُنَا غُلاماً مِنْ أَهْلِ الْحِيرَةِ حَافِظاً كَاتِباً فَلَوَ اتَّخَذْتَهُ كَاتِباً قَالَ: قَدِ اتَّخَذْتُ إِذًا بِطَانَةً مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

Dari Abu Duhqanah, ia berkata, “Ada yang berkata kepada Khalifah Umar bin Khatab: “Bahwa di sana terdapat seorang budak laki-laki Nasrani dari penduduk Hirah, ia seorang yang amanah dan pandai dalam tulis menulis. Sekiranya Anda berkenan menjadikannya sebagai sekretaris Anda.” Dengan tegas, Khalifah Umar menyatakan, “Jika demikian berarti aku telah menjadikan non mukmin sebagai orang kepercayaan.” HR. Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Abu Syaibah, dengan sedikit perbedaan redaksi. [11]

Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi:

‎فَقَدْ جَعَلَ عُمَرُ رضي الله عنه هذِهِ الآيَةَ دَلِيْلاً عَلَى النَّهْيِ مِنِ اتِّخَاذِ بِطَانَةٍ

“Sungguh Umar menjadikan ayat ini sebagi dalil larangan menjadikan (kafir) sebagi orang dekat atau terpercaya.” [12]

Motif Hukum dan Hikmah Larangan

Pada ayat ini, larangan menjadikan kafir sebagai teman dekat dan orang terpercaya untuk mengelola urusan umat Islam disertai keterangan ‘illat (motif hukum), yaitu firman Allah:

‎لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ

“Mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagi kalian. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kalian.” (QS. Ali Imran: 118)

Kalimat ini menjelaskan bahwa sebab dilarangnya menjalin kedekatan dengan mereka karena mereka selalu mencurahkan segala daya upaya untuk menyengsarakan orang Islam. Dengan kata lain, jika mereka tidak memerangi orang Islam secara terang-terangan maka mereka tidak pernah kenal lelah membuat tipu daya untuk orang Islam.

Kemudian Allah Swt. menegaskan sebab larangan itu dengan menjelaskan karakter mereka. Allah Swt. berfirman:

‎قَدْ بَدَتِ الْبَغْضاءُ مِنْ أَفْواهِهِمْ وَما تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ

“Telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi.” (QS. Ali Imran: 118)
Yakni sesungguhnya terbaca pada roman wajah dan lisan mereka ungkapan permusuhan mereka terhadap kaum mukmin, selain dari apa yang tersimpan di dalam hati mereka, yaitu kebencian yang sangat kepada agama Islam dan para pemeluknya. Hal itu mudah dibaca oleh orang yang jeli lagi cerdik. Karena itu, dalam firman selanjutnya disebutkan:

‎قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ

“Sungguh telah Kami terangkan kepada kalian ayat-ayat (Kami) jika kalian memahaminya.” (QS. Ali Imran: 118)
Jika orang Islam tidak jeli lagi cerdik, tampilan dan pencitraan mereka dapat menipu umat Islam. Sehubungan dengan propaganda mereka, Allah Swt. telah mengingatkan umat Islam, pada ayat selanjutnya, dengan firman-Nya:

‎هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ

“Begitulah kalian, kalian menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kalian.” (QS. Ali Imran: 119)
Yakni kalian, hai orang-orang mukmin, menyukai orang-orang munafik karena apa yang mereka lahirkan kepada kalian berupa iman. Oleh sebab itu, kalian menyukai mereka, padahal baik batin maupun lahirnya mereka sama sekali tidak menyukai kalian.

Juga dengan firman-Nya:

‎إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا

“Jika kalian memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati; tetapi jika kalian mendapat bencana, mereka bergembira karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)

Keadaan ini menunjukkan kerasnya permusuhan mereka terhadap kaum mukmin. Yaitu apabila kaum mukmin mendapat kemakmuran, kemenangan, dukungan, dan bertambah banyak bilangannya serta para penolongnya berjaya, maka hal tersebut membuat susah hati orang-orang munafik. Tetapi jika kaum muslim tertimpa paceklik atau dikalahkan oleh musuh-musuhnya, hal ini merupakan hikmah dari Allah, seperti yang terjadi dalam Perang Uhud, orang-orang munafik merasa gembira akan hal tersebut.

Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw. telah mengingatkan pula agar umat Islam selektif dalam memilih orang terpercaya dengan sabda beliau:

‎مَا بَعَثَ اللهُ مِنْ نَبِي وَلا اسْتَخْلَفَ مِنْ خَلِيفَة إِلَّا كَانَتْ لَهُ بِطَانَتَانِ: بِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالْخيرِ وتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَبِطَانَةٌ تَأْمُرُهُ بِالسُّوءِ وَتَحُضُّهُ عَلَيْهِ، وَالْمَعْصُومُ مَنْ عَصَم اللهُ

“Tidak sekali-kali Allah mengutus seorang nabi dan tidak pula mengangkat seorang khalifah, melainkan didampingi oleh dua teman terdekatnya. Seorang teman menganjurkannya untuk berbuat kebaikan dan memberinya semangat untuk melakukan kebaikan itu. Dan teman lainnya selalu memerintahkan kejahatan kepadanya dan menganjurkan kepadanya untuk melakukan kejahatan, sedangkan orang yang terpelihara ialah orang yang dipelihara oleh Allah.” HR. Al-Bukhari

Adapun hikmah yang dapat dipetik dari ayat ini dinyatakan oleh Imam Al-Qasyani berikut ini:

‎أن بطانة الرجل صفيه وخليصه الذي يبطنه ويطلع على أسراره ، ولا يمكن وجود مثل هذا الصديق إلا إذا اتحدا في المقصد واتفقا في الدين والصفة ، متحابين في الله لغرض . كما قيل في الأصدقاء : نفس واحدة في أبدان متفرقة . فإذا كان من غير أهل الإيمان ، فبأن يكون كاشحاً أحرى

“Sesungguhnya bithanah seseorang adalah kekasih dan orang pilihannya yang memahami dan mengetahui berbagai rahasia yang dia miliki. Sahabat semisal ini tidak mungkin terwujud kecuali setelah adanya kesamaan tujuan hidup, agama dan karakter dan bersahabat karena Allah, seperti dikatakan pada shahabat: “satu jiwa dalam raga yang berbeda.” Maka jika dua orang tersebut tidak seiman maka persahabatannya tentu akan segera berantakan.” [15]

Jadi, Allah Swt. telah memberikan petunjuk kepada kaum mukmin jalan keselamatan dari kejahatan orang-orang yang jahat dan tipu muslihat orang-orang yang zalim. Kini, tinggal kita bersikap selektif dalam memilih orang terpercaya dalam mengelola urusan yang berhubungan dengan kehormatan dan rahasia kita.


By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 164

[2]Lihat, Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, 24:269

[3]Lihat, Mufradat Alfazh Al-Qur’an, I:98

[4]Lihat, Tafsir Al-Bahr al-Madid, I:491

[5]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 164

[6]Lihat, Hasyiah As-Suyuthi ‘Ala Sunan an-Nasa’I, V: 490

[7]Lihat, Tafsir Al-Manar, IV:67

[8]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 164

[9]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 166.

[10]Ibid.

[11]HR. Ibnu Abi Hatim, Tafsir Ibnu Abi Hatim, III:147, dan Ibnu Abu Syaibah, Mushannaf Ibnu Abu Syaibah, V:259, No. 25.872,.

[12]Lihat, Tafsir Mafatih Al-Ghaib, VIII:339

[13]Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, III: 166

[14]Lihat, As-Sunan Al-Kubra, X:127, No. 20.196

[15]Lihat, Tafsir Al-Qasimi, II:442

[@salimafillah]: Menyimak Kicau, Merajut Makna


Tempat paling aman untuk bersembunyi adalah ruang kejujuran. Tempat yang paling nyaman untuk lari adalah lapangan pertaubatan. Layang-layang justru bisa terbang saat melawan angin. Jangan gentar saat memang harus menentang. Tetapi pastikan ada benang terhubung pada-Nya.

Tiap orang hebat di kedudukan apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat menjadi menarik daripada menjuangkan apa yang diyakininya. Tiap ahli bidang apa pun mulai bermasalah saat lebih berhasrat tunjukkan keahlian dibanding berkarya pada apa yang dicintainya. Tiap penyeru menuju jalan apa pun mulai bermasalah ketika terjebak pada kesibukan menanggapi saja, bukan bawakan gagasannya jadi amal.

Kata Al-Qur`an, tugas kita bukan jadi hakim, melainkan SAKSI yang baik agar kelak punya pembela saat jadi terdakwa di pengadilan-Nya. Setelah itu jadilah penyeru kebajikan. Kitalah penyala cahaya, bukan pengeluh gelap. Kita bawakan teladan sebelum mengenalkan. Maka, saat semua di sekitar terasa gelap dan sesak, curigalah bahwa kita ini yang dikirim Allah sebagai cahaya tuk mereka. Berkilaulah.

Penyeru kebajikan percaya dan terpesona pada sekecil apa pun niat baik, bahkan yang masih mengintip malu. Tugas mereka menumbuhkannya. Para penyeru kebajikan terhubung ke langit dengan ibadahnya, menjadikan kerendahan hati sebagai penggenap bagi cantiknya kebenaran. Penyeru kebajikan ialah wujud rahmat-Nya; lembut hati dan pemaaf, memudahkan bukan mempersulit, membawa kabar gembira dan tak membuat lari.

Sederhana itu memperindah semua. Yang miskin jadi kaya. Yang kaya jadi mulia. Yang jelata dipercaya. Yang berkuasa dicinta. Tiap orang akan mati di atas apa yang dia biasakan hidup padanya. Maka sekecil apa pun kebaikan sangat berharga tuk diistiqamahkan. Kebenaran hanya cantik, bila bersanding dengan kerendahan hati. Kebaikan hanya manis, jika dibersamai ketulusan jiwa. Rasakanlah.

Pandai, tampan, shalih; itu memesona. Tetapi mengunjuk-unjukkan pada sesama bahwa kita pintar, rupawan, atau taat; pasti memuakkan. Berbahagialah dia yang berhasil sembunyikan ibadahnya dari mata manusia, tetapi mampu tampilkan bekas indahnya berupa akhlak mulia.

Tiap musibah telah diukur kadarnya; takkan lampaui apa yang bisa ditanggung. Jadi yang diuji-Nya bukan kemampuan, melainkan kemauan. Tiap penghalang di jalan kehidupan tertakdir ada untuk satu alasan sederhana: Mengetahui sebesar apa tekad kita untuk melampauinya.

Melihat spion itu perlu. Tetapi sesekali saja. Merenungi masa lalu itu niscaya. Tetapi jangan sampai ia membelenggu langkah maju kita. Sebab kita tak tahu ke mana takdir membawa, mari syukuri ketidaktahuan itu dengan merencanakan dan mengupayakan yang terbaik. Mari kerjakan apa yang semestinya kita kerjakan. Sebab jika tidak, kita akan mendapat kesulitan yang semestinya tidak kita dapatkan.

Banyak hal tak kita minta, tapi Allah tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa yang kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih. Banyak hal tak kita minta, tapi Allah tak pernah alpa berikannya. Maka pada apa yang kita mohon, jangan marah jika dapat yang lebih. Kita tak selalu memperoleh apa yang kita suka, maka kita belajar menyukai apa pun yang kita peroleh. Jadilah ia makna kesyukuran.

Jika ada perintah Allah terasa berat bagi kita; cara membuatnya jadi ringan ialah dengan melaksanakannya. Kemudahan itu menyertai. Ikhlas tak selalu berarti ringan rasa hati kala melakukan. Yang berat itu jua keikhlasan; bahkan pahala sebanding kadar kepayahan. Yang ikhlas itu semurni susu; bergizi dan mudah dicerna. Jika tercampur kotoran dan darah; membuat muntah atau tertelan jadi penyakit.

Rasa, kata, dan laku yang ikhlas bagai susu; nikmat didengar dan dilihat, mudah dicerna jadi energi jiwa, menggerakkan amal shalih sesama. Sebaliknya; pikiran, ucapan, tulisan, dan tindakan, yang riya’ lagi kagum diri; ia memuakkan, dan jika tertelan menebar kefasikan. Ikhlas membuat syaitan tak sanggup hinggap, tak berdaya menggoda. Kesejatiannya rahasia, malaikat pencatat pun terhijab darinya.

Ridha-Nya tak terletak pada sulit/mudahnya, lapang/sempitnya, suka/dukanya. Ia ada pada ketaatan kita di semua warna kehidupan itu. Sombong tak disebabkan adanya kelebihan. Sulaiman yang lebih kaya dan kuasa bisa tawadhu. Tetapi Firaun, dia kerdil jiwa, sempit ilmu.

Setiap nikmat membawa serta ujiannya. Ketampanan Yusuf juga sepaket dengan iri saudara, perbudakan hina, goda wanita, dan penjara. Setiap musibah seringnya juga jalan menuju kejayaan; di penjaralah Yusuf berjumpa rekan yang kelak merekomendasikannya pada Raja. Kekuasaan dipergilirkan, juga nasib kaum. Bani Israil di Mesir berjaya bersama Yusuf; lalu Dinasti itu kalah; mereka diperbudak.

Niat-niat berkebajikan mendahului kita menghadap Allah untuk mengetuk pintu-pintu karunia yang memampukan kita mewujudkannya. Cinta dan kebersamaan dengan mereka yang mulia, mengantar kita ke kedudukan yang mungkin takkan dicapai hanya dengan amal pribadi. 

Betapa susah mencari sahabat sejati. Sulit sebab yang kaucari sahabat yang memberi. Sahabat untuk diberi, ah, banyak sekali.

Bersalah itu manusiawi. Menyangkal kesalahan itu menjatuhkan harga diri. Menyalahkan orang lain atas kesalahan kita, menjijikkan. Berbuat baik itu terpuji. Mengungkit-ungkit kebaikan; membuat risih. Menyuruh orang berterima kasih atas kebaikan kita; memalukan. Cara memperbesar kesalahan; dengan menganggapnya kecil. Cara memperbesar kebaikan; dengan menyembunyikannya dalam senyum Tuhan.

Sesungguhnya orang-orang yang shalih dilipat-sangatkan bagi mereka ujiannya. Dan tidaklah menimpa seorang mukmin setusukan duri atau bahkan lebih ringan dari itu melainkan dihapus baginya kesalahannya dan ditinggikanlah derajatnya. (Hadis Shahih No. 1660)

Dan pesan Guru kami; Bacalah Al-Qur`an dengan menangis. Jika tak mampu, pura-puralah menangis. Lalu tangisilah kepura-puraanmu. Juga menghadirkan ke dalam hati nikmatnya surga (betapa belum layak kita) dan mengerikannya neraka (betapa dekat karena dosa).

Berbakti yang tak mudah; menyusuri getir di tiap langkah pengabdian; MENARI DI ATAS BATAS. Bergiat dalam makna mensyukuri; kemuliaan yang terjemput; BEKERJA MAKA KEAJAIBAN. Begitulah para peyakin sejati. Bagi mereka, hikmah hakiki tak selalu muncul di awal pagi: YAKINLAH, DAN PEJAMKAN MATA. Menghayati ujian Ibrahim; lika-liku Yusuf; tersuruknya Ayyub; berjayanya Sulaiman; pedih-pilunya Musa, Nuh, dan Isa.
 
*Dari buku Menyimak Kicau Merajut Makna, penulis Salim A. Fillah

Abu Hurairah R.A: Belajar dari Sang Penuntut Ilmu

Tentu kita sudah tak asing lagi dengan nama Abu Hurairah RA. Sahabat yang satu ini paling sering kita dengar namanya ketika dikaitkan dengan periwayatan hadits. Abu Hurairah RA adalah salah seorang sahabat yang terkenal paling banyak meriwayatkan hadits. Padahal beliau hanya bersama Rasulullah SAW selama 3 tahun saja. Masya Allah. Waktu yang singkat tapi luar biasa manfaat. Bagaimana bisa? Apa rahasianya? 

Abu Hurairah RA adalah orang miskin dari suku Daus di Yaman. Beliau masuk islam ketika berumur 18 tahun setelah sampai dakwah islam ke Yaman. Setelah berumur 30 tahun, beliau memutuskan untuk pergi ke Madinah karena keinginannya yang kuat untuk belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Karena sangat miskin, Abu Hurairah tinggal di Shuffah masjid Nabawi. Shuffah adalah tempat yang disediakan bagi pendatang dari luar Madinah dengan tujuan mencari ilmu kepada Rasulullah SAW, sedangkan mereka dalam keadaan miskin dan tidak memiliki tempat tinggal. 

Demi mencari ilmu kepada Rasulullah, Abu Hurairah rela menahan lapar dan dahaga. Bahkan untuk menahan lapar, beliau mengikatkan batu pada perutnya. Beliau merasa telah tertinggal jauh dari para sahabat yang lain karena baru saja ikut bersama Rasulullah, sedangkan sahabat yang lain telah bertahun-tahun bersama Rasulullah. Beliau juga merasa tidak memiliki kecerdasan yang tinggi. Inilah yang kemudian dikeluhkan sahabat Abu Hurairah kepada Rasulullah SAW. 

“Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku hari ini menuntut ilmu tetapi esok hari sudah lupa lagi”. Inilah yang sering menjadi kendala bagi para penuntut ilmu, bahwa ilmu yang diterimanya mudah hilang ditelan lupa. Lalu apa yang dilakukan oleh Abu Hurairah? Apakah putus asa karena merasa kecerdasan kurang dan mudah lupa? Ternyata tidak, beliau datang kepada Rasulullah dan meminta Rasulullah mendoakannya. Dan tidak berhenti di situ, Abu Hurairah berdoa sendiri di hadapan Rasulullah dan meminta Rasulullah meng-amin kannya. 

“Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. Masya Allah. Begitu gigih usaha Abu Hurairah dalam menuntut ilmu sehingga dalam 3 tahun kebersamaan beliau dengan Rasulullah SAW telah menghantarkannya menjadi salah satu yang periwayat hadits terkemuka. 

Nama besar Abu Hurairah sebagai periwayat hadits tidak mulus begitu saja. Banyak muncul perkataan-perkataan sinis dari orang-orang yang meragukan kebenaran hadits yang diriwayatkan oleh nya. 

Orang-orang meragukannya karena Abu Hurairah hanya bersama Rasulullah selama 3 tahun dan beliau bukan termasuk orang yang memiliki kecerdasan luar biasa. Apakah kemudian Abu Hurairah mundur karena hujatan masyarakat? Tentu saja tidak. Abu Hurairah dengan gamblang memberi penjelasan. 

“Ketika aku bersama Nabi, maka aku tidak disibukkan dengan hal yang lain. Cukuplah ada yang bisa kumakan hari ini. Tidak seperti yang lain yang disibukkan oleh ladang dan perdagangan”. 

Luar biasa sekali. Kita tidak akan pernah berhenti mengagumi dan berterima kasih kepada sosok yang satu ini. Pembelajar sejati yang tidak berhenti atas kendala yang dihadapi. Tetapi terus maju sedikit demi sedikit mengejar ketertinggalan. Mental seperti inilah yang diperlukan bagi pembelajar saat ini. Rasanya malu karena usaha yang ditempuh tidak sebesar itu dalam mencari ilmu. Ketika menyadari diri ini terkendala ingatan dan kecerdasan pas-pas an bukankah layaknya kita meniru Abu Hurairah. Berdoa kepada Allah untuk memohon pertolongan. “Ya Allah, aku meminta kepadaMu, ilmu yang tidak lupa lagi”. 

Dalam buku Ta’lim Muta’allim terdapat kisah syair. “Aku mengadu kepada Imam Waki’ tentang hafalanku yang lemah, lantas ia memberiku petunjuk agar meninggalkan maksiat”. “Hafalan adalah pemberian Allah, sedangkan pemberian Allah tidaklah diberikan kepada orang yang bermaksiat”. Dari sini dapat kita lihat bahwa Abu Hurairah disibukkan dengan menuntut ilmu kepada Rasulullah SAW, hingga beliau tidak sempat untuk sibuk dengan ladang dan perdagangan. Apalagi sibuk dengan maksiat. Inilah salah satu pesan lagi bagi para penuntut ilmu. Hindarkanlah diri dari bermaksiat sehingga ilmu mu bisa melekat. Jadi ingat dengan sebuah tulisan dari Bunda Ely Risman tentang kerusakan otak dikarenakan terpapar pornografi. Naudzubillahi min dzalik. 

Sebuah kisah kehidupan yang banyak memberikan pelajaran. Bahwa ilmu haruslah dikejar dengan kesungguhan, keikhlasan dan tentu saja memohon pertolongan kepada Allah SWT. Semoga kita menjadi seorang penuntut ilmu seperti Abu Hurairah RA. 

“Aku tidak menangisi dunia kalian. Aku menangis karena sungguh panjang perjalananku setelah ini. Dan sungguh sedikit perbekalanku. Aku akan naik dan hanya ada surga dan neraka. Dan aku tidak tahu aku akan berada di mana” (Abu Hurairah RA)

12 Orang yang Didoakan Malaikat

Guys…. Siapa sih yang ga mau didoain?  Didoain orangtua atau temen itu hal yang istimewa. Karena doa merupakan tanda cinta, tanda kasih sayang mereka kepada kita. Dan doa itu… Sampainya langsung ke sang Pencipta.

Nah… Percaya ga kalau ada golongan-golongan yang doain Malaikat? Mau?  Simak yuk.

Berikut golongan-golongan yang didoakan oleh malaikat:

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.

“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa; Ya Allah, ampunilah hamba-Mu si fulan karena tidur dalam keadaan suci.”

(HR. Imam Ibnu Hibban dari Abdullah bin Umar)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu sholat.

“Tidaklah salah seorang di antara kalian yang duduk menunggu sholat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya; Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia.”

(HR. Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Muslim: 469)

3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam sholat berjamaah.
 

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang-orang) yang berada pada shaf-shaf terdepan.”

(HR. Imam Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dari Barra’ bin ‘Azib)

4. Orang yang menyambung shaf sholat berjamaah (tidak membiarkan kosong di dalam shaf).

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf.”

(HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah)

5. Para malaikat mengucapkan “aamiin” ketika seorang Imam selesai membaca Al-Fatihah.

“Jika seorang Imam membaca; ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh-dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian “aamiin”, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu.”

(HR. Imam Bukhari dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari: 782)

6. Orang yang duduk di tempat sholatnya setelah melakukan sholat.

“Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat sholat di mana ia melakukan sholat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata; Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia.”

(HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al-Musnad no. 8106)

7. Orang-orang yang melakukan sholat subuh dan ashar secara berjama’ah.

“Para malaikat berkumpul pada saat sholat shubuh lalu para malaikat (yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu sholat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga sholat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-Ku?”, mereka menjawab; kami datang sedangkan mereka sedang melakukan sholat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan sholat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat.”

(HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah, Al-Musnad no. 9140)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.

“Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata; “aamiin” dan engkau pun mendapatkan apa yang ia dapatkan.”

(HR. Imam Muslim dari Ummud Darda’, Shahih Muslim: 2733)

9. Orang-orang yang berinfak.

“Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak”, dan lainnya berkata, “Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil)”.

(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari: 1442 dan Shahih Muslim: 1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk di saat sahur untuk puasa “sunnah”.

(HR. Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath-Thabrani, dari Abdullah bin Umar)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.

“Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh.”

(HR. Imam Ahmad dari ‘Ali bin Abi Thalib, Al-Musnad: 754)

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.

“Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah di antara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.”

(Al-Hadits dari Abu Umamah Al-Bahily).

Semoga kita bisa mendapatkan keuntungan ini di dunia maupun di akhirat.

Menjadi Kader ‘LaaSyai’ (Dianggap Nothing)


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Oleh : Nandang Buhanudin

Dalam setiap perjuangan berjamaah, kita diperlihatkan pelbagai fragmen tipe-tipe pejuang. Ada pendiri sebuah ormas-parpol-yayasan-jamaah-komunitas-DKM, namun kemudian menjadi “musuh” dan lawan antagonis yang membenci secara simultan. 

Berawal dari cinta tidak ada matinya, di kemudian hari berubah menjadi benci tiada henti!

Ada juga fragmen pribadi yang dianakemaskan,

dibina dengan sentuhan-sentuhan tangan magis,

“dibesarkan”,”ditokohkan”, bahkan “diberi ruang gerak yang lebih”. Namun di kemudian hari, ia

menjadi The Jobwhat. Tidak mengerti apa yang harus dilakukan dan misi apa yang harus diperjuangkan. Di awal ia selalu di depan!

Namun pada akhirnya ia menjadi yang selalu

ketinggalan! 

Di sisi lain ada juga jiwa-jiwa yang di awal hingga akhir tetap utuh. Tak terlalu nampak perubahan mencolok. Secara karir biasa-biasa saja. Posisi pun tidak berubah. Terkadang ikut rombongan untuk naik level, tapi sekali lagi ia biasa-biasa saja. 

Prinsipnya menjadi garam dimasakan. Wujudnya tak terlalu nampak di struktur, tak terlihat di spanduk-spanduk, tak terpampang di baliho-baliho. Namun perannya dirasakan ada, walau ia dianggap biasa! 

Nah ada yang dari awal ia adalah pribadi yang Laa Syai (nothing). Namun ia terus bersabar … terus bersabar … dan mereguk lautan makna dari asam manis garam kehidupan. Ia tak terdorong untuk mencaci saat samudera dakwah itu nampak kotor di permukaan. Sampah berserakan. Bahkan tak sedikit bangkai ikan yang bertebaran! Ia hanya terus bertahan.

Karena bagi dirinya, samudera yang kotor sekalipun jika terus fokus dalam misi dan visi, akan tetap bermanfaat mengantarkan kapal ke buritan. 

Maka jangan aneh, bila suatu saat nanti tipe-tipe kader Laa Syai inilah yang di kemudian hari menjadi Kullu Syai!

Sahabat, mari kita renungi. Bukankah kita menemukan, orang yang dahulu merekrut kita menjadi bagian dari dakwah ini, namun dikemudian hari ia menjadi provokator dan penyebar kebencian terhadap kita sendiri.

Bukankah kita terkagetkan, dengan IKHWAN-AKHWAT yang dahulu sangat taat dan ketat dengan prinsip. Namun kini ia malah menjadi pribadi yang lebih memperturutkan syahwat. 

Jika ia AKHWAT, ia tak lagi memperlakukan SUAMI dengan hormat.

Jika ia IKHWAN, ia tak mampu membimbing ISTRI dan KELUARGANYA menjadi ahli akhirat. 

Malah tak sedikit keluarga yang dipilih dari rahim dakwah, namun di kemudian hari biduk rumah tangga itu pecah hanya karena sering ONLINE dan CHATTING di medsos seperti WA, FB, TWITTER dll

Bukankah perceraian kini di kalangan aktivis dakwah menjadi hal lumrah?

Kini kita paham, berada dalam gerbong dakwah itu tidak terlalu penting apakah kita masuk di awal atau paling ujung. Tidak terlalu penting apakah kita menjadi koordinator, menjadi masinis, atau menjadi tukang karcis. Toh masinis itu hanya 1-2 orang saja.

Yang terpenting adalah, kita mampu menggali potensi terbaik diri kita. Jika ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, maka niatkan Lillaahi Ta’ala. Biarkan pahala Allah saja yang diharap. 

Oleh karena itu, kita tidak akan pernah “MUNDUR” saat ditegur. 

MARAH saat diberi taushiah. 

ILFIL saat tak jadi calon di pemilihan suatu tempat. 

KELUAR saat ide-ide kita tidak dianggap mercusuar. 

DENDAM dan menyimpan AMARAH bahkan MEMPROVOKASI ORANG2 TERDEKAT KITA agar membenci orang yang mengkritik kita dengan tajam dan kata2 yang menyakitkan.

Mari menjadi pribadi yang tidak bersedih karena tidak dihargai. Tapi bersedih, karena diri kita tidak berharga!

Uwais Al Qarni…. adalah contoh sahabat Rasululloh saw yang tak terkenal di bumi….namun dia terkenal dilangit…

Semoga kita dapat mengambil ibrohnya….

وَالسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

[@salimafillah]: Knowledge and Wisdom

Agama ini adalah agama dalil. Setiap ‘amalnya harus ‘ilmiyah. Dan setiap ilmunya memang sangat ‘amaliyah.

Tapi hal ini tidak lalu berarti pelaksanaan dalil menafikan berbagai hal yang manusiawi; nurani, perasaan, akal, dan hubungan antar insan.

Bukankah Ibrahim ‘Alaihissalaam meminta pendapat putranya padahal perintah untuk menyembelih telah nyata? Yang seperti ini mohon jangan ada yang menanggapi, “Perintah yang qath’i tak perlu memperhatikan pendapat orang.”

Dan bukankah Allah menyebut sebagian kaum Ahli Kitab sebagai Al Maghdhub ‘Alaihim, yang dimurkai, sebab mereka ifrath dalam beragama di atas dalil?

Kasus pelanggaran hari Sabtu, misalnya. Sebagian Mufassir menyatakan ia bukan karena mereka menangkap ikan di hari Sabtu, tapi memasang perangkap pada Jumat sore dan mengangkatnya di Ahad pagi. Hari Sabtunya mereka tetap di rumah sesuai perintah, tapi hatinya mengembara dalam khayalan tentang tangkapan berlipat, uang yang didapat, dan belanja yang gemerlap.

Dalam Fiqih, jika duabelas orang faqir berkumpul dengan makanan pokok senilai zakat al fithr untuk satu orang lalu mereka membayarkannya urut; satu menyerahkan pada sebelahnya dengan ujar, lalu si penerima membayar lagi pada orang di sampingnya, terus berrantai sampai kembali ke asal; apakah yang salah?

Ada banyak celah untuk berhelah, dan ada banyak hati yang akan keki, jika dalil yang shahih tak dibersamai cinta yang jernih.

Alkisah seorang menghadap Al Maghfurlah KH Bisri Syansuri Denanyar. Kepada Mbah Bisri dia mengadu, betapa ingin berkurban bersama dengan kakak-adiknya yang berjumlah 8 orang dengan seekor lembu. Tapi bukankah sapi hanya boleh diserikati tujuh shahibul qurban saja?

“Ya gimana ya”, ujar Mbah Bisri. “Satu sapi itu menurut fekihnya hanya untuk bertujuh itu..”

“Jadi meski adik saya yang paling kecil itu masih agak kecil, ndak boleh berdelapan Mbah?”

Mbah Bisri yang terkenal amat teguh memegangi dalil itu menggeleng lemah.

“Meski sapinya gemuk?”

Dengan senyum prihatin, Mbah Bisri tetap menggeleng.

“Padahal kami ingin seperti wasiat almarhum Bapak dan Ibu, selalu kompak dunia akhirat. Termasuk soal qurban, inginnya besok berdelapan masuk surga mengendarai sapi yang sama”, agak basah mata lelaki berusia empatpuluhan itu. Pemahaman khas masyarakat kampung semacam ini, tak aib jika dihormati.

Lalu orang ini menghadap Almaghfurlah KHA Wahab Chasbullah.

“O tentu saja boleh”, jawab Mbah Wahab yang membuat pria itu terenyak.

“Wah, boleh Mbah qurban sapi untuk berdelapan?”

“Lha yo boleh. Tapi..”

“Tapi gimana Mbah?”

“Adikmu yang paling kecil itu kan masih agak kecil ya?”

“Iya Mbah..”

“Nha, kalau nanti mau naik ke sapi kan agak susah itu ya? Ngrekel-ngrekelnya itu lho..”

“Lha terus gimana Mbah?”

“Mbok kamu tambahi kambing satu ekor biar buat ancik-ancik, buat pijakan naik ke sapinya.”

“Wah, siap Mbah kalau begitu.”

Bukankah hakikat sebenarnya sama, masalah terselesaikan, dan tak ada hati yang kecewa? 

Maka ketika berita ini disampaikan kepada Mbah Bisri, beliau tersenyum dan menggumamkan Surat Yusuf ayat ke-76, “Wa fauqa kulli dzii ‘ilmin ‘aliim..” Dan di atas tiap pemilik pengetahuan, ada yang jauh lebih berpengetahuan..”

[Salim A. Fillah]

[Refleksi]: Hukuman Allah yang Tidak Terasa


Seorang murid mengadu kepada gurunya:

“Ustadz, betapa banyak kita berdosa kepada Allah dan tidak menunaikan hakNya sebagaimana mestinya, tapi saya kok tidak melihat Allah menghukum kita”

Sang Guru menjawab dengan tenang:
“Betapa sering Allah menghukummu tapi engkau tidak terasa”

“Sesungguhnya salah satu hukuman Allah yang terbesar yang bisa menimpamu wahai anakku, ialah: *Sedikitnya taufiq* (kemudahan) untuk mengamalkan ketaatan dan amal amal kebaikan”

Tidaklah seseorang diuji dengan musibah yang lebih besar dari “kekerasan hatinya dan kematian hatinya”

Sebagai contoh:
Sadarkah engkau, bahwa Allah telah *mencabut darimu rasa bahagia dan senang* dengan munajat kepadaNya, merendahkan diri kepadaNya, menyungkurkan diri di hadapanNya..? 

Sadarkah engkau *tidak diberikan rasa khusyu’* dalam shalat..? 

Sadarkah engkau, bahwa beberapa hari2 mu telah berlalu dari hidupmu, tanpa membaca Al-Qur’an, padahal engkau mengetahui firman Allah:

“Sekiranya Kami turunkan Al-Qur’an ini ke gunung, niscaya engkau melihatnya tunduk, retak, karena takut kepada Allah”

Tapi engkau tidak tersentuh dengan Ayat Ayat Al-Qur’an, seakan engkau tidak mendengarnya… 

Sadarkah engkau, telah berlalu beberapa malam yang panjang sedang engkau tidak melakukan Qiyamullail di hadapan Allah, walaupun terkadang engkau begadang… 

Sadarkah engkau, bahwa telah berlalu atasmu musim musim kebaikan seperti: Ramadhan.. Enam hari di bulan Syawwal.. Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah, dst.. tapi engkau belum diberi taufiq untuk memanfaatkannya sebagaimana mestinya..?? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari itu..??? 

Tidakkah engkau merasakan beratnya mengamalkan banyak ketaatan (amal ibadah)..??? 

Tidakkah Allah menahan lidahmu untuk berdzikir, beristighfar dan berdo’a kepadanya..??? 
Tidakkah terkadang engkau merasakan bahwa engkau lemah di hadapan hawa nafsu..??? 

Hukuman apa lagi yang lebih berat dari semua ini..??? 

Sadarkah engkau, yang mudah bagimu berghibah, mengadu domba, berdusta, memandang ke yang haram..??? 

Sadarkah engkau, bahwa Allah membuatmu lupa kepada Akhirat, lalu Allah menjadikan dunia sebagai perhatian terbesarmu dan ilmu tertinggi..??? 

Semua *bentuk pembiaran* ini dengan berbagai bentuknya ini, hanyalah beberapa bentuk hukuman Allah kepadamu, sedang engkau menyadarinya, atau tidak menyadarinya… 

Waspadalah wahai anakku, agar engkau tidak terjatuh ke dalam dosa dosa dan meninggalkan kewajiban kewajiban. 

Karena *hukuman yang paling ringan* dari Allah terhadap hambaNya ialah:

“Hukuman yang terasa” pada harta, atau anak, atau kesehatan

Sesungguhnya *hukuman terberat* ialah: “Hukuman yang tidak terasa”pada kematian hati, lalu ia tidak merasakan nikmatnya ketaatan, dan tidak merasakan sakitnya dosa

Karena itu wahai anakku, *Perbanyaklah di sela sela harimu, amalan taubat dan istighfar, semoga Allah menghidupkan hatimu…

Refleksi Persahabatan: 10 Hari Mengabdi Pada Anjing 

[Ust. Musyafa Ahmad Rahim, Lc, MA.]

Alkisah ada seorang Raja yg memiliki 10 anjing ganas untuk menghukum yg bersalah.

Jika sang Raja tdk berkenan maka org yg salah akan dilempar ke kandang agar dicabik oleh anjing² ganas tersebut.

Suatu hari seorg Menteri membuat keputusan salah & murkalah Raja. Maka diperintahkan agar sang Menteri dimasukkan ke kandang anjing ganas.

Menteri berkata: “Paduka, saya telah mengabdi padamu selama 10 tahun, tapi Paduka tega menghukumku begini. Atas pengabdianku selama ini, saya hanya minta waktu penundaan hukuman 10 hari saja”.

Sang Raja pun mengabulkannya. Sang Menteri bergegas menuju kandang anjing² tsb & meminta izin kepada penjaga utk mengurus anjing²nya.

Ketika ditanya utk apa? Maka dijawab: “Setelah 10 hari nanti engkau akan tahu”. Karena tahu itu Menteri maka diizinkan.

Selama 10 hari itu sang Menteri memelihara, mendekati, memberi makan bahkan akhirnya bisa memandikan anjing² tsb hingga menjadi sangat jinak padanya.

Tibalah waktu eksekusi, disaksikan Raja dimasukkanlah sang Menteri ke kandang anjing, tetapi Raja kaget saat melihat anjing² itu justru jinak padanya.

Maka dia bertanya apa yg telah dilakukan Menteri pada anjing² tsb?

Jawab Menteri: “Saya telah mengabdi pada anjing² ini selama 10 hari & mereka tdk melupakan jasaku.

Terharulah Raja, meleleh airmatanya lalu dibebaskanlah sang Menteri dari hukuman & dimaafkan.

Sahabatku,
Hikmah dari cerita di atas adalah:

Agar kita tdk mudah mengingkari & melupakan kebaikan2 yg kita terima dari org² terdekat kita, hanya krn kejadian sesaat yg tdk mengenakkan.

Jgn mudah menghapus kenangan yg telah terukir dan persahabatan yg telah terjalin bertahun lamanya hanya krn hal² kecil yg kurang kita sukai darinya saat ini.

Mencari teman itu lebih mudah daripada mendapatkan sahabat.

Jagalah persahabatan yang ada dengan baik karena menjaga persahabatan itu jauh lebih sulit dari mendapatkannya.

Adab Berbicara dan Komunikasi 

Morning good people 🏃🏻🚶🏻Semangat Rabu Produktif!
Check this out👇👇
💡 Adab-adab dalam Berbicara dan Berkomunikasi 
“Dan bertuturlah kepada manusia dengan perkataan yang baik.” (QS. al-Baqorah: 83)

➖➖➖➖➖➖➖➖➖
🌷 Berbicara dan berkomunikasi adalah kebutuhan setiap insan. 

🌷 Karena itu, bicara dan komunikasi yang baik dan sesuai dengan nilai-nilai keislaman akan membawa dampak positif serta mendatangkan beragam kebaikan dan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat.
✨ Membatasi diri untuk berkata yang baik adalah diantara tanda kesempurnaan iman seseorang ✨
✍ Adab-adab yang harus diperhatikan
• Merendahkan suara saat berbicara

• Berbicara dengan kata-kata yang baik, bermanfaat dan sopan

• Mendengarkan dan tidak memotong pembicaraan orang lain

• Berbicara jika mengandung kebaikan

• Tidak berdusta dalam berbicara

_______ Nabi bersabda, “Kecelakaan bagi orang yang berbicara lalu ia berdusta agar manusia tertawa karenanya, kecelakaan baginya , kecelakaan baginya.”(HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi).

• Memulai dengan salam sebelum berbicara
👑 “Seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu sangat berharga di sisi Allah. Seseorang mengucapkan satu kata yang dibenci Allah swt. Ia tidak begitu memperhitungkan kata tersebut, akan tetapi satu kata itu menyebabkan masuk neraka.” (HR. Bukhari)
Semangat Fastabiqul Khairat!

✨ Semoga apa-apa yang keluar dari lisan kita adalah perkataan yang mendatangkan manfaat 

💬 Sambut Ramadhan, 40 hari lagi…

So, perbanyak Tilawah Al Quran dan jangan lupa Shalat Dhuha 😉
اللهم باركلنا في رجب و شعبان و بلغنا رمضان

Aamiin…
#AyoLebihBaik

#SambutRamadhan

#40DaysLeft
➖➖➖➖➖➖➖➖➖

Bengkel Ruhiyah

Bidang Kaderisasi

GK Wilda Sumatera