Lost and Disappointed

Kau tau arti kehilangan?

Hampa…

.

Kau tau arti dikecewakan?

Sakit…

.

Bayangkan ketika kehilangan dan kekecewaan hadir di saat bersamaan? Ya… hampa berbalut sakit. Mungkin bukan pertama, tapi ketika sumbernya lebih banyak menggores ingatan dengan semua hal yang menguras emosi baik ataupun buruk… bisa dipastikan dampaknya pasti lebih dalam. Sakitnya, hampanya.

Memori dan deja vu pada tempat, alunan musik, dan semua hal yang pernah ada. Makin terasa hampa, sakit, menekan, lalu mengendap…

Kali ini akan kupastikan semua usai. Tidak akan kembali bahkan mengenyahkan harapan untuk kembali.

Agar tidak kembali hampa.

Agar tidak kembali sakit.

Cukup sekadarnya…

#PrayForBantendanLamsel

Semoga Allah memberikan kekuatan bagi para korban. Segera ditemukan bagi korban yang belum ditemukan. Dan diberikan tempat terbaik bagi korban yang meninggal dunia. Aamiin 🙏🏼

Palembang, 24/12/2018

Iklan

Nature, Nurture and Toxic Friends

Ada satu teori psikologi yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh nature dan nurture. Nature adalah ketika faktor genetik membawa pengaruh pada kepribadian seseorang. Sedangkan Nurture adalah ketika faktor lingkungan sosial, pergaulan, dan faktor luar lain berpengaruh pada perkembangan kepribadian dirinya.

Dua hal tersebut akan terus memberi pengaruh seiring dengan pertambahan usia dan kedewasaan emosional seseorang. Yah… emotional quotion merupakan salah satu parameter yang bisa dilihat jelas dari adanya pengaruh dua faktor ini. Ribet ya bahasanya hahhaa udah macem karya ilmiah 😂

Satu hal yang ingin disampaikan dari teori ini bahwa… faktor karakter bawaan dari diri seseorang bukanlah merupakan faktor utama, tetap ada faktor luar seperti lingkungan sosial, pergaulan teman, something that we are concern yang membawa warna lain dan menguatkan karakter kita.

Ketika kita dihadapkan pada relationship, lingkungan yang tidak membuat kita bertumbuh, berpikir positif, dan menjadi lebih baik maka pilihan yang tepat untuk memilih “Nurture” yang lebih baik.

Bete dong kalo tiada hari tanpa ribut, iri, buat sakit hati dan tidak ada rasa percaya dalam suatu hubungan. Sadarlah bahwa itu toxic relationship dan saatnya untuk diakhiri.

Toxic friend creates toxic relationship.

Energi positif yang harusnya membuat kita bertumbuh malah terkuras oleh energi negatif yang tak berujung.

Sebelum terlambat… bertumbuhlah.

Karena usia itu singkat.

Dan karya itu nyata.

Lampung, 25 November 2018

(Kadang) Lupa

Namanya juga manusia…

Kalimat pemakluman yang jamak didengar ketika kita dihadapkan pada kealfaan sebagai sesama manusia. Mulai dari hal kecil, remeh temeh sampai hal besar.

Untuk hal sepele okelah dimaklumi, seperti lupa naroh kaos kaki, hp, kunci, dan lainnya. Tapi gimana untuk pertemanan? Apakah (kadang) lupa dalam hal ini bisa dimaklumi?

Apalagi (kadang) lupa dengan teman yang udah bantuin secara moral, spiritual, material wkwkwk berasa mau bangun rumah material 😂

Kalau saya pribadi sih berteman dengan yang udah dianggap deket banget itu… apapun yang bisa kita lakukan untuk teman kita ya lakuin. Selama emang bisa ngebantu dia. Karena prinsip tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah berlaku bagi saya dalam suatu pertemanan.

Walaupun… butuh keikhlasan super setelahnya hhahaaa IYKWIM 🤣

Makanya kalau saya punya teman yang memperlakukan saya sebaik mungkin itu rasanya terharu banget. Apalagi kalo level baiknya tingkat dewa. Ada tuh saya temen yang bgitu. Semoga Allah menjaga dan membalas kebaikanmu wahai sahabat.

“In ahsantum ahsantum li anfusikum. wa in asa’tum fa lahaa..”

(Qs. 17: 7)

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri…”

Ya… salah satu ayat dalam Al-Quran itulah yang selalu jadi penyemangat saya ketika keikhlasan sebagai seorang teman, sahabat sedang diuji.

Kembali lagi ke pertanyaan di awal:

Apakah (kadang) lupa dalam hal pertemanan bisa dimaklumi?

Menurut saya bisa dimaklumi. Tetapi kadar pemakluman dan reaksi tiap orang berbeda-beda. Pemakluman dan reaksi itu tergantung dari kedewasaan, keikhlasan, dan emotional quotionnya.

Mungkin… si teman menganggap kita sama dengan benda. Temannya yang ada dikala dia butuh… disamakan dengan kaos kaki, hp, kunci, dan lainnya.

Maklumin aja… kan manusia (kadang) lupa.

Kertapati to Tanjung Karang

21 November 2018

Keep A Distance

Terkadang jarak mengajarkan arti merindukan

Terkadang jarak juga mengajarkan arti melupakan

Ketika jarak bukan hanya dalam satuan ukuran

Ketika jarak bermakna lebih dari itu

Bukan jauh

Bukan pula dekat

Tetapi…

Jarak adalah ruang kosong yang sengaja ditinggalkan dan kau tidak tau kapan akan kembali

Just keep a distance to make you comfortable

– Lampung, 6/10/2018 –

When an Introvert is Giving Up

Aku percaya ketika seorang introvert akan lebih nyaman bercerita dengan tipe orang yang sama. Introvert bukan berarti pendiam. Dia ceria, pintar membawa diri, pintar menjaga rahasia dan kepercayaan, loyal, pendengar yang baik, dan seringkali menjadi tempat curhatan siapapun yang butuh. Iya, menurutku seorang introvert selalu bisa diandalkan untuk menjadi penolong bagi jiwa-jiwa galau.

If the meaning of best friends are people who make your problems are their problems… the introvert maybe a right person to choose.

But when you pay their loyality with your no respect to them, just come and go to their lives, no take and give attention. You’d better watchout…

The introvert is not an easy person to trust someone. When they tell you their secrets… they really mean you as best friend. It means a lot to them. They truly listen to every single problem you had, give you their best time, the best reaction and solution if you want…no matter how busy they are.

But they are a human tough. They can be give up on you… not because they don’t care but because YOU DON’T