Jika Kau Berada di Cerita yang Salah… Pergilah!

Kamu tau rasanya dibohongi oleh seseorang yang pernah nyakitin kamu sebelumnya?

Seseorang yang terlanjur kamu sayang dan udah dianggap keluarga. Nyakitin, ngejauhin, lalu kembali dengan berjuta sesal. Dan sekarang… berbohong dan bermain di belakang setelah percaya itu ada.

Kamu tau rasanya sakit hati? Menyayangi seseorang dan melewati banyak hal bersama lalu seketika sirna ketika ada cinta hadir di hatinya.

Keberadaan yang sebelumnya berarti menjadi sirna. Hanya menyisakan kenangan masa lalu dan tak berbekas…

Benang merahnya sama. Ketika hadirnya wanita dalam kehidupan seorang wanita. Kehadiran yang mengatasnamakan cinta. Entah kenapa hubungan cinta antar wanita itu penuh DRAMA!!! Posesif, sensitif, dan lebih menguras emosi.

Cemburu buta ketika pasangannya dekat dengan wanita yang sudah dianggap keluarga. Jangankan untuk bertemu… untuk menghubungi pun sangat sulit dan dibatasi. Karena apa? Karena dilarang sama pasangannya, menjaga perasannya, takut dia cemburu dan segudang alasan ini itu lainnya. Halah… PRETT!!!

Sorry, daripada jadi korban makan ati… mending, berlepas dari ini semua. One day jika dipertemukan dengan wanita model begini lagi, lebih baik stay away di awal. Karena kemungkinan besar ga akan loyal dalam persahabatan. Apalah sahabat, kakak, adek itu dibanding cinta. Orang tuanya aja dibohongin, apalagi orang lain yang ga sedarah.

HANYA JADI FRIENDS WITH BENEFIT AJA!!!

Tunggu aja waktunya dibohongin, dimanfaatin, dijauhin lalu dicampakkan. TOXIC!!!

Terlepas dari itu semua, ada rasa sedih ketika dipaksa berpisah karena keadaan. Kehilangan pasti. Bayangin aja dulu sedekat, sepeduli dan sepercaya apa. Lalu tiba-tiba sejauh, secuek dan sekhianat apa. Tega nutupin sesuatu padahal kejujuran dan keterbukaan itu hal mendasar dalam suatu hubungan.

Saat ini, loyalitas lebih bisa dipercaya dari sekadar kata yang pernah terucap. Loyalitas seorang manusia terhadap suatu hubungan dengan pembuktian memang butuh waktu. Sedang kata, ucapan yang hanya menjadi pemanis semu belaka. Tidak bisa dijadikan pegangan.

Hubungan pertemanan positif mampu menguatkan loyalitas. Energi positif, inspirasi, kebaikan, nasihat, dan hal baik lain adalah nilai utama dalam hubungan positif.

So, stay away from toxic and negative friends. Just keep in touch with valuable and positive friends.

*Catatan dari seseorang yang pernah disakiti dua orang wanita

Nature, Nurture and Toxic Friends

Ada satu teori psikologi yang mengatakan bahwa kepribadian seseorang dipengaruhi oleh nature dan nurture. Nature adalah ketika faktor genetik membawa pengaruh pada kepribadian seseorang. Sedangkan Nurture adalah ketika faktor lingkungan sosial, pergaulan, dan faktor luar lain berpengaruh pada perkembangan kepribadian dirinya.

Dua hal tersebut akan terus memberi pengaruh seiring dengan pertambahan usia dan kedewasaan emosional seseorang. Yah… emotional quotion merupakan salah satu parameter yang bisa dilihat jelas dari adanya pengaruh dua faktor ini. Ribet ya bahasanya hahhaa udah macem karya ilmiah 😂

Satu hal yang ingin disampaikan dari teori ini bahwa… faktor karakter bawaan dari diri seseorang bukanlah merupakan faktor utama, tetap ada faktor luar seperti lingkungan sosial, pergaulan teman, something that we are concern yang membawa warna lain dan menguatkan karakter kita.

Ketika kita dihadapkan pada relationship, lingkungan yang tidak membuat kita bertumbuh, berpikir positif, dan menjadi lebih baik maka pilihan yang tepat untuk memilih “Nurture” yang lebih baik.

Bete dong kalo tiada hari tanpa ribut, iri, buat sakit hati dan tidak ada rasa percaya dalam suatu hubungan. Sadarlah bahwa itu toxic relationship dan saatnya untuk diakhiri.

Toxic friend creates toxic relationship.

Energi positif yang harusnya membuat kita bertumbuh malah terkuras oleh energi negatif yang tak berujung.

Sebelum terlambat… bertumbuhlah.

Karena usia itu singkat.

Dan karya itu nyata.

Lampung, 25 November 2018